Daerah

Menuju Adipura 2026, DPRD Kota Malang Soroti Minimnya Anggaran Perawatan Taman dan Ruang Hijau

17
×

Menuju Adipura 2026, DPRD Kota Malang Soroti Minimnya Anggaran Perawatan Taman dan Ruang Hijau

Share this article
Menuju Adipura 2026, DPRD Kota Malang Soroti Minimnya Anggaran Perawatan Taman dan Ruang Hijau
Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Eko Herdiyanto, saat menyampaikan pandangannya terkait revitalisasi taman kota, ruang terbuka hijau dan kampung tematik menuju Adipura 2026 di ruang komisi.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Upaya Kota Malang menuju Adipura 2026 dinilai tidak cukup hanya fokus pada penanganan sampah dan kebersihan lingkungan.

Pemerintah Kota Malang juga didorong serius membenahi persoalan minimnya anggaran perawatan taman kota, ruang terbuka hijau (RTH), hingga kampung tematik yang mulai kehilangan pesonanya dalam beberapa tahun terakhir.

Sorotan itu disampaikan Ketua Komisi D DPRD Kota Malang sekaligus politisi senior PDI Perjuangan Kota Malang, Eko Herdiyanto, saat diwawancarai awak media di ruang Komisi D DPRD Kota Malang, Rabu (13/5/2026), usai rangkaian Hari Jadi ke-112 Kota Malang bertema “Malang Kota Bersih Menuju Adipura untuk Indonesia ASRI”.

Menurut Eko, identitas Kota Malang sebagai Kota Bunga perlahan mulai memudar akibat kurang maksimalnya perawatan taman, penghijauan, hingga kawasan wisata tematik yang sebelumnya menjadi ikon Kota Malang.

“Kerindangan pohon-pohon dan taman-taman di Kota Malang ini sebenarnya punya potensi besar. Kalau benar-benar dirawat dan dikelola serius, itu bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus memperkuat identitas Kota Malang sebagai kota yang sejuk dan nyaman,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam perawatan taman dan ruang hijau di Kota Malang. Menurutnya, dalam penganggaran pemerintah terdapat prioritas-prioritas lain yang saat ini lebih banyak menyedot perhatian.

“Jujur saja, dalam penganggaran memang ada keterbatasan. Beberapa tahun terakhir fokus pemerintah lebih banyak terserap untuk penanganan sampah yang volumenya mencapai sekitar 600 sampai 800 ton per hari,” katanya.

Selain persoalan sampah, anggaran pemerintah juga banyak digunakan untuk kebutuhan pemangkasan pohon dan penanganan kebersihan kota secara umum. Akibatnya, sejumlah taman dan kawasan hijau dinilai mulai kurang terawat.

“Karena fokusnya ke sampah dan pemeliharaan rutin lainnya, akhirnya ada taman-taman yang perawatannya kurang maksimal. Padahal itu juga penting untuk wajah Kota Malang,” tegas Eko.

Politisi senior PDI Perjuangan itu mencontohkan kondisi sejumlah kampung tematik seperti Kampung Warna-Warni dan Kampung 3G yang dulu sempat menjadi ikon wisata Kota Malang. Menurutnya, beberapa titik saat ini mulai terlihat kusam akibat minimnya revitalisasi dan perawatan berkelanjutan.

“Dulu kampung tematik itu luar biasa. Lampion hidup, taman kecil tertata, warna cat masih bagus dan menjadi daya tarik wisatawan. Sekarang ada beberapa titik yang mulai memudar dan kurang terawat,” ujarnya.

Ia menilai revitalisasi taman dan kampung tematik perlu dilakukan secara bertahap melalui dukungan anggaran yang jelas dan berkelanjutan. Tidak hanya mengandalkan swadaya masyarakat, pemerintah daerah dinilai harus hadir memberi dukungan nyata.

“Pemerintah tidak cukup hanya memberi imbauan atau edukasi. Harus ada dukungan anggaran, fasilitasi dan perawatan berkala supaya kawasan-kawasan itu tetap hidup,” katanya.

Selain mempercantik taman kota, Eko juga mendorong agar penganggaran tahun ini mulai diarahkan untuk memperkuat ruang terbuka hijau di wilayah perbatasan Kota Malang. Menurutnya, wajah kota dari sisi utara, selatan, timur hingga barat harus benar-benar mencerminkan identitas Kota Bunga.

“Kita ingin ketika orang masuk Kota Malang langsung merasakan suasana kota yang hijau dan nyaman. Itu harus terlihat dari taman, pohon dan ruang hijaunya,” ujarnya.

Tak hanya itu, Komisi D DPRD Kota Malang juga menyoroti capaian ruang terbuka hijau Kota Malang yang dinilai masih belum ideal. Berdasarkan pembahasan bersama pemerintah dan Kementerian Lingkungan Hidup, capaian RTH Kota Malang disebut masih berada di kisaran 17 hingga 18 persen, sementara target ideal nasional mencapai 20 persen.

Menurut Eko, keterbatasan lahan memang menjadi tantangan utama Kota Malang dalam menambah ruang hijau. Namun ia menilai masih banyak potensi lahan fasilitas umum dan fasilitas sosial dari kawasan perumahan yang belum dimanfaatkan maksimal.

“Masih banyak fasum-fasos perumahan yang belum diserahkan dan itu sebenarnya bisa menjadi potensi ruang hijau baru,” katanya.

Ia berharap momentum Hari Jadi ke-112 Kota Malang menjadi titik awal kebangkitan untuk mengembalikan citra Kota Malang sebagai Kota Bunga yang hijau, bersih dan nyaman dipandang mata.

“Kalau taman dirawat rutin, kerusakan tidak akan besar. Yang penting ada komitmen dan gerakan nyata supaya taman dan kampung tematik yang mulai terbengkalai bisa hidup kembali,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *