Sudutkota.id – Kendati pengerjaan kawasan Food Street di Jalan Kartini yang digagas Bupati Jember, Muhammad Fawait, baru mencapai 25 hingga 30 persen, kawasan tersebut sudah mulai terlihat menarik. Bahkan, hampir setiap hari lokasi itu menjadi tujuan warga untuk berswafoto.
Pemerintah Kabupaten Jember meyakini, setelah seluruh pekerjaan rampung, kawasan Food Street akan menjadi pusat kuliner yang representatif. Apalagi, area tersebut nantinya akan dipenuhi berbagai ornamen lampu menarik dengan nuansa Eropa klasik.
Gus Fawait, sapaan akrab Muhammad Fawait, beberapa kali melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memantau perkembangan pembangunan kawasan Food Street yang ditargetkan selesai pada Desember 2026.
Saat sidak, ia didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Achmad Imam Fauzi serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Mereka berkeliling memantau koridor Jalan Kartini hingga Jalan Gatot Subroto yang diproyeksikan menjadi kawasan kuliner malam sekaligus pusat penataan pedagang kaki lima (PKL) di Jember.
Dalam peninjauan tersebut, Fawait menyebut pembangunan kawasan Food Street masih berada pada tahap awal dan belum merepresentasikan konsep akhir yang dirancang pemerintah daerah.
“Kalau dipersentase mungkin baru 25 sampai 30 persen. Jadi kalau dikatakan selesai, belum, masih jauh. Lampu-lampunya belum semua, gerobaknya dengan nuansa Nusantara dan dunia juga belum,” kata Fawait.
Menurutnya, kawasan tersebut nantinya tidak hanya menjadi pusat kuliner malam, tetapi juga bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan pusat kota yang selama ini dinilai belum tertata optimal.
Pemerintah daerah, lanjut Fawait, juga tengah menyiapkan konsep visual kawasan dengan tema tertentu di setiap koridor jalan. Salah satunya adalah nuansa Eropa klasik di sekitar kawasan gereja di Jalan Kartini.
“Dari pertigaan sampai ke sana nuansanya Eropa klasik menyesuaikan gereja. Jadi nanti gerobaknya juga bernuansa Eropa klasik,” ujarnya.

Fawait memastikan area depan gereja tidak akan ditempati pedagang kaki lima. Kawasan tersebut akan difungsikan sebagai ruang terbuka dengan ornamen dekoratif dan area duduk bagi pengunjung.
“Tempat duduknya nanti di trotoar, bukan di jalannya. Jalannya tetap untuk kendaraan masuk,” katanya.
Selain menyiapkan infrastruktur fisik, Fawait juga membuka ruang partisipasi publik untuk menentukan nama kawasan Food Street tersebut. Ia meminta masyarakat ikut mengusulkan nama yang dinilai sesuai dengan konsep kawasan.
“Kalau ada yang mau usul nama, apa pun boleh. Mau yang lucu-lucu juga boleh,” ujarnya sambil berkelakar.
Konsep Food Street yang disiapkan Pemkab Jember tidak semata-mata diarahkan sebagai sentra kuliner, melainkan juga strategi penataan PKL dan penguatan ekonomi rakyat berbasis UMKM.
Selama ini, pedagang kaki lima tersebar di sejumlah titik pusat kota, termasuk kawasan sekitar alun-alun. Pemerintah daerah berharap keberadaan Food Street dapat menjadi ruang baru yang lebih tertata bagi aktivitas ekonomi informal tersebut.
Fawait menegaskan proyek itu merupakan bentuk keberpihakan pemerintah daerah terhadap pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.
“Harapan kami, alun-alun menjadi lebih tertata dan PKL bisa terwadahi di kawasan Food Street,” tegasnya. (*)




















