JAKARTA, Sudutkota.id – Jemaah haji perempuan yang jumlahnya lebih besar membuat kebutuhan pendampingan tidak bisa disamakan begitu saja.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya menilai komposisi petugas haji perempuan perlu diperkuat, sekaligus diikuti pembekalan manasik yang lebih dekat dengan persoalan nyata yang akan dihadapi jemaah.
Persoalan tersebut mengemuka saat Komisi VIII DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (2/10/2026). Dari sekitar 5.913 jemaah haji asal Sumatera Utara, sekitar 3.300 merupakan perempuan, sedangkan jemaah laki-laki sekitar 2.500 orang.
Komposisi itu menurut Atalia perlu menjadi perhatian karena jumlah petugas haji perempuan belum sebanding dengan jumlah jemaah perempuan. Pada penyelenggaraan haji 2026, sekitar 55 persen jemaah merupakan perempuan, sementara petugas haji perempuan berada di kisaran 33 persen.
“Kami mendorong agar dari sisi pendampingan untuk ibadah haji, khususnya petugas haji dan juga pendampingan ibadah, mudah-mudahan bisa ditambah dari komposisi jumlah perempuannya,” ujar Atalia.
Menurut Atalia, penambahan petugas perempuan dibutuhkan untuk menangani kebutuhan khusus jemaah perempuan selama penyelenggaraan ibadah haji. Ia berharap jumlah petugas tersebut tidak berkurang pada penyelenggaraan haji 1448 H/2027 M karena komposisi jemaah perempuan dari tahun ke tahun cenderung lebih besar.
Namun, persoalan pelayanan menurut Atalia tidak hanya berkaitan dengan siapa yang mendampingi jemaah. Materi manasik juga perlu diperluas agar calon jemaah tidak hanya memahami rukun, wajib, dan sunah haji, tetapi mengetahui cara menghadapi situasi praktis selama perjalanan dan berada di Tanah Suci.
“Kita berharap ada pembekalan yang lebih dalam terkait dengan bagaimana cara menggunakan seatbelt misalkan di pesawat terbang, bagaimana terkait dengan keselamatan di pesawat terbang, bagaimana cara menggunakan toilet yang mungkin berbeda dibandingkan dengan toilet yang biasa mereka pergunakan, termasuk juga penggunaan telepon genggam dan lain sebagainya,” tutur Atalia.
Karena itu, Atalia mendorong manasik dilengkapi simulasi dan video edukasi agar calon jemaah lebih siap menghadapi kondisi selama perjalanan.
“Kami berharap bahkan kalau bisa ada simulasi-simulasi atau video-video yang memberikan edukasi. Saya kira itu akan sangat-sangat membantu bagi calon jemaah haji,” ujarnya.
Masukan dari kunjungan tersebut selanjutnya menjadi bahan pengawasan dan evaluasi Komisi VIII DPR RI untuk persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M.




















