KOTA MALANG, Sudutkota.id – Pemerintah Kota Malang mulai menggeser konsep hiburan malam dari sekadar pertunjukan menjadi bagian dari strategi memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Melalui gelaran Hiber Padang Bulan, ruang terbuka Alun-Alun Merdeka disiapkan sebagai panggung budaya, musik, ekonomi kreatif hingga promosi UMKM lokal.
Gelaran tersebut berlangsung, Minggu (4/10/2026), dengan konsep yang berbeda dibanding pelaksanaan sebelumnya. Panggung utama memanfaatkan area amfiteater di tengah Alun-Alun Merdeka, sementara rangkaian acara dimulai sejak sore hari.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, S.STP., M.Si., mengatakan puncak Hiber Padang Bulan dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB.
“Nanti sore, puncaknya malam jam 19.00, kami dari Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata akan menggelar namanya Hiber Padang Bulan. Pada bulan tahun ini, kita gelar agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena tahun ini kita laksanakan di Alun-Alun Merdeka,” ujar Arif.
Menurut Arif, pemilihan Alun-Alun Merdeka bukan tanpa alasan. Keberadaan amfiteater di kawasan tersebut dinilai dapat menjadi ruang ekspresi bagi pelaku seni dan musik lokal sekaligus memperluas titik kunjungan wisata di Kota Malang.
“Kita punya amfiteater yang bisa digunakan untuk bisa memberikan ruang bagi budaya maupun musik yang ada di Kota Malang untuk bisa lebih mengapresiasikan apa yang menjadi kelebihan dari mereka,” katanya.
Rangkaian Hiber Padang Bulan dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dengan menampilkan kesenian Bantengan khas Kota Malang. Kali ini, Disporapar sengaja menghadirkan kelompok Bantengan perempuan.
“Artinya nanti sore jam 3 kita mengangkat budaya Bantengan Kota Malang. Sehingga kita bisa mengenalkan kepada seluruh wisatawan yang hadir di Kota Malang, Malang bukan hanya Kayutangan, tetapi dekat Kayutangan ada namanya Alun-Alun Merdeka yang bisa dijadikan ajang untuk menikmati budaya Kota Malang khususnya kesenian Bantengan,” jelas Arif.
Kelompok Bantengan yang tampil berasal dari Kecamatan Kedungkandang. Konsep tersebut sekaligus ingin menunjukkan bahwa kesenian tradisional tersebut dapat dimainkan oleh perempuan.
“Kalau biasanya Bantengan itu laki-laki, ini Bantengannya perempuan. Sehingga orang tahu, oh Bantengan itu bisa dimainkan oleh kaum perempuan juga, ini kita tampilkan,” sambungnya.
Usai salat Isya, rangkaian acara dilanjutkan dengan penampilan kelompok anak-anak difabel dan penyandang disabilitas. Panggung kemudian diisi band lokal Tugu Amarta yang dikenal melalui lagu Malang Mbois Sayang.
Sementara itu, penyanyi Yeni Inka disiapkan sebagai bintang tamu pada sesi puncak. Namun, Arif memastikan konsep pertunjukan tidak dibuat seperti konser musik konvensional yang memisahkan penyanyi dengan penonton melalui barikade.
“Puncaknya nanti ada bintang tamu Yeni Inka yang ingin membuat konsep musik berbeda. Biasanya konsep musik kan di panggung, ada batasan antara penyanyi dengan penonton, dengan adanya barikade dan sebagainya. Nanti malam ndak,” ungkapnya.
Arif mengatakan suasana pertunjukan akan dibuat lebih cair sehingga interaksi antara penyanyi dan penonton dapat berlangsung secara langsung.
“Nanti malam kita bikin suasana yang santai, suasana yang tidak ada batas antara wisatawan, penonton dengan penyanyi sehingga ada interaksi secara langsung,” katanya.
Di balik konsep pertunjukan tersebut, Disporapar menyimpan target yang lebih besar, yakni meningkatkan lama tinggal wisatawan di Kota Malang.
Arif menilai Kota Malang tidak cukup hanya menjadi tujuan wisata kuliner atau kota persinggahan sebelum wisatawan menuju destinasi lain. Karena itu, diperlukan lebih banyak pilihan hiburan yang murah, terbuka dan bisa dinikmati masyarakat maupun wisatawan.
“Harapan ke depan, dengan adanya kegiatan malam di Kota Malang, dengan hiburan dan lain sebagainya, kami menginginkan bahwa lama tinggal wisatawan yang ada di Kota Malang semakin meningkat,” tegas Arif.
Menurutnya, wisatawan yang datang ke Kota Malang harus memiliki lebih banyak alasan untuk memperpanjang waktu tinggal.
“Artinya wisatawan kalau ke Malang mau selain cari kuliner, hiburan di Malang ini apa saja sih. Tentunya hiburan yang murah bisa dinikmati oleh seluruh warga Kota Malang, Malang Raya, wisatawan luar, wisatawan dalam negeri bisa menikmati di sini,” ujarnya.
Arif juga melihat posisi Alun-Alun Merdeka yang berdekatan dengan Kayutangan Heritage sebagai peluang untuk memperluas persebaran aktivitas wisata.
Ia menjelaskan, area air mancur di tengah alun-alun dapat dimanfaatkan sebagai panggung pertunjukan ketika air dihentikan. Bentuk ruang yang melingkar memungkinkan penonton menikmati pertunjukan dari berbagai sisi.
“Kita lihat sendiri di tengah-tengah alun-alun itu ada air mancur yang kalau di air mancurnya itu distop airnya, itu bisa menjadi satu panggung amfiteater yang bisa dinikmati, kebetulan konsepnya kan melingkar begini. Jadi nanti bisa menikmati semua pertunjukan itu dari 360 derajat dari pusatnya dari Alun-Alun Merdeka,” jelasnya.
Bagi Arif, Hiber Padang Bulan tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial satu malam. Disporapar ingin menjadikan konsep tersebut sebagai agenda berkelanjutan yang memberikan ruang tampil bagi musisi serta pelaku ekonomi kreatif lokal.
“Dan ini akan kita gerakkan terus secara kontinu, secara terus menerus. Saya sudah memerintahkan kepada para bidang Ekraf untuk terus meneruskan ini,” katanya.
Ia menyebut Hiber Padang Bulan kali ini sebagai pemantik awal untuk membangun panggung rutin bagi musisi Kota Malang.
“Ini sebagai trigger saja, sebagai ini lho Malang akan kita tampilkan terus, sambil nanti kita mengangkat musisi-musisi lokal yang ada di Kota Malang, entah itu musik dangdut, musik jazz, musik rock, dan sebagainya, atau pop nanti kita tampilkan di sini sebagai ajang tampilnya musisi-musisi yang ada di Kota Malang,” papar Arif.
Tak berhenti pada seni dan musik, Disporapar juga memasukkan unsur ekonomi lokal. Sejumlah UMKM binaan Disporapar dan Diskopindag Kota Malang diberikan ruang untuk memperkenalkan produknya dalam gelaran tersebut.
Namun Arif menegaskan, pelibatan UMKM dalam event tidak berarti membuka ruang bagi PKL untuk berjualan bebas di kawasan Alun-Alun Merdeka.
“Khusus untuk acara nanti malam, memang kita menampilkan UMKM binaan dari Disporapar sama Diskopindag. Saya sudah pesan, yang jualannya itu berbeda dengan jualan PKL. Jadi memang sudah terdaftar di UMKM-nya binaan dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kopindag,” jelasnya.
Menurut Arif, aktivitas UMKM di kawasan tersebut tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
“Ke depan kalau ini sudah jalan, nanti tidak ada UMKM yang ada di sini kecuali event-event tertentu, seperti event ada batik ini, event-event Padang Bulan. Tapi kalau setiap hari tidak,” tegasnya.
Ia juga memastikan Disporapar tetap menghormati kewenangan perangkat daerah lain dalam menjaga ketertiban dan pengelolaan kawasan Alun-Alun Merdeka.
“Artinya kita tetap menghormati apa yang menjadi wewenang dari Dinas Lingkungan Hidup, dari Satpol PP, kita tetap menghormati. Kalau memang di Alun-Alun Merdeka tidak ada PKL, ya kita tidak ada PKL,” katanya.
Masyarakat yang datang menyaksikan pertunjukan tetap diperbolehkan membawa makanan, dengan catatan menaati aturan kawasan dan menjaga kebersihan.
“Teman-teman yang menyaksikan bisa membawa makanan tentunya dengan menaati aturan yang ada di Alun-Alun Merdeka dengan membuang sampah pada tempatnya,” ujar Arif.
Lebih jauh, Arif menilai kehadiran UMKM dalam event bukan hanya untuk mengejar transaksi sesaat. Ada efek lanjutan yang diharapkan muncul ketika wisatawan mengenal produk-produk lokal Kota Malang.
“Artinya kita menampilkan selain kita mengangkat pariwisata, ada multiplier effect yang bisa dirasakan oleh UMKM yang ada di Kota Malang,” ungkapnya.
Wisatawan, lanjut Arif, diharapkan tidak hanya mengenal produk ketika berada di lokasi acara, tetapi juga mengingat tempat dan produk tersebut ketika kembali berkunjung ke Kota Malang.
“Artinya pengunjung nanti datang ke Kota Malang melihat, oh di tempat ini ternyata ada UMKM misalkan kopi, di sini ada misalkan roti, oh ini ada cake dan sebagainya yang tahu lokasinya. Sehingga ketika dia datang lagi ke Kota Malang tidak jauh-jauh, oh cari cake yang enak di sini, kopi yang enak di sini dan sebagainya,” paparnya.
Karena itu, Disporapar ingin UMKM tidak sekadar menjadi pelengkap sebuah event. Produk lokal diharapkan berkembang menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
“Ini hanya sebagai pancingan saja supaya UMKM di Kota Malang ini lebih dikenal oleh wisatawan yang hadir di Kota Malang,” kata Arif.
Pada akhirnya, Hiber Padang Bulan diarahkan untuk menyatukan tiga kekuatan sekaligus: budaya, hiburan dan ekonomi lokal. Alun-Alun Merdeka diposisikan bukan hanya sebagai ruang publik, tetapi juga sebagai salah satu titik baru untuk memperkuat pengalaman wisatawan di Kota Malang.
“Jadi wisatawan nanti mengenal budaya, tradisi yang ada di Kota Malang dan tentunya UMKM kuliner yang ada di Kota Malang juga menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di Kota Malang yang akan dikenal oleh wisatawan dalam negeri maupun wisatawan dari mancanegara,” pungkas Arif.




















