Daerah

Guru Besar UMM Sambut Positif Wacana Insentif Ibu Rumah Tangga, Tekankan Kajian Objektif

14
×

Guru Besar UMM Sambut Positif Wacana Insentif Ibu Rumah Tangga, Tekankan Kajian Objektif

Share this article
Guru Besar UMM Sambut Positif Wacana Insentif Ibu Rumah Tangga, Tekankan Kajian Objektif
Guru Besar FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Wahyudi Winarjo. (foto: Dok. UMM)

Sudutkota.id– Dorongan agar ada insentif ibu rumah tangga yang dilontarkan Anggota DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat mendapat sambutan positif dari beberapa kalangan.

Pengamat kebijakan publik sekaligus Guru Besar FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Wahyudi Winarjo, mengatakan bahwa gagasan insentif bagi ibu rumah tangga merupakan ide cemerlang dan patut diapresiasi.

Ia menjelaskan, kerja ibu rumah tangga, jika dikonversi menjadi rupiah maka akan sangat besar jumlahnya. Terlebih, tanggung jawab membesarkan dan mendidik anak yang ada dalam pundak ibu juga merupakan kewajiban yang tak ternilai harganya.

“Ibu rumah tangga ini merupakan pilar dari keluarga, sehingga usulan insentif ini merupakan ide yang sangat cemerlang,” kata Wahyudi, Jumat (14/8).

Meski begitu, Wahyudi menekankan, sebelum menjadi sebuah kebijakan publik, maka gagasan tersebut harus melalui proses studi dan kajian secara objektif. Hal ini penting agar sebuah kebijakan nantinya bisa berdasar sesuai kebutuhan masyarakat.

“Menurut saya perlu ada klasterisasi, ibu rumah tangga yang mana yang mendapat insentif. Kalau semua dipukul rata nanti bisa menjadi kontraproduktif, karena masyarakat kita ada yang kelas atas, menengah dan juga bawah,” urainya.

Terlebih, saat ini, berdasarkan data yang didapat hampir terdapat 100 juta rumah tangga yang mana jumlah itu sama dengan jumlah ibu rumah tangga.

“Dan mohon maaf itu juga belum yang single mother, sehingga gagasan yang baik ini harus ditopang dengan kajian yang objektif. Saya kira ini bisa membantu para ibu rumah tangga,” imbuhnya.

Selain itu, Wahyudi juga menilai insentif yang diberikan nanti tidak harus berupa uang tunai, melainkan sesuatu yang bisa menopang kebutuhan rumah tangga. Sebab, jika insentif semua berupa uang maka akan berbeda peruntukannya antara satu ibu dengan yang lainnya.

“Namun disisi lain juga kita tidak bisa menutup mata ada ibu-ibu single mother yang tidak mempunyai pendapatan tetap. Oleh karenanya, klasterisasi dan kajian ini akan menentukan arah kebijakan ini nantinya,” tandasnya.

Selain insentif, Wahyudi juga mendorong agar segala kebijakan yang berkaitan dengan wanita dan ibu rumah tangga yang sudah ada harus dikawal eksekusinya dengan baik.

“Saya berharap kedepan perangkat-perangkat baik kebijakan, insentif untuk ibu rumah tangga bisa dilakukan dengan maksimal,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *