Lingkungan Hidup

FISIP UNIRA Malang Bawa Mahasiswa Baru ke Pesisir, 1.000 Mangrove Ditanam di Kondangmerak

7
×

FISIP UNIRA Malang Bawa Mahasiswa Baru ke Pesisir, 1.000 Mangrove Ditanam di Kondangmerak

Share this article
FISIP UNIRA Malang Bawa Mahasiswa Baru ke Pesisir, 1.000 Mangrove Ditanam di Kondangmerak
Kegiatan 'FISIP ECO-ACTION 2026' UNIRA Malang di Pantai Kondangmerak, Kabupaten Malang.(Sudutkota.id/Istimewa)

KABUPATEN MALANG, Sudutkota.id – Masa pengenalan kampus tidak selalu harus berlangsung di dalam gedung perkuliahan. FISIP Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang justru membawa mahasiswa barunya langsung ke kawasan pesisir melalui FISIP ECO-ACTION 2026 di Pantai Kondangmerak, Kabupaten Malang, Kamis (10/9/2026).

Sebanyak 1.000 mangrove menjadi bagian dari aksi lingkungan yang dirancang untuk mengenalkan mahasiswa baru pada persoalan ekologis sekaligus tanggung jawab sosial mereka sebagai bagian dari masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi FISIP UNIRA Malang bersama PS PRB-RisDe UNIRA Malang dan Sahabat Alam Indonesia. Selain penanaman mangrove, rangkaian kegiatan juga diisi dengan coastal clean up, pendidikan kewargaan lingkungan (environmental civic education), serta keterlibatan langsung mahasiswa dengan masyarakat.

Mengusung tema “Make Your First Impact”, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FISIP UNIRA Malang 2026.

Dekan FISIP UNIRA Malang, Husnul Hakim Sy, MH, mengatakan konsep tersebut sengaja dirancang agar mahasiswa baru tidak memandang kehidupan kampus hanya sebagai aktivitas akademik dan rutinitas perkuliahan.

Menurutnya, mahasiswa perlu sejak awal dibiasakan melihat persoalan sosial secara langsung dan memahami posisi mereka sebagai bagian dari solusi.

“Kami ingin mahasiswa baru sejak awal memahami bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal datang ke kampus, mengikuti kuliah, kemudian memperoleh ijazah. Mahasiswa harus belajar membaca persoalan nyata di masyarakat dan memiliki keberanian untuk mengambil bagian dalam menyelesaikannya,” ujar Husnul.

Ia menjelaskan, kawasan pesisir dipilih sebagai ruang belajar karena mahasiswa dapat melihat secara langsung hubungan antara persoalan lingkungan, perubahan iklim, masyarakat, hingga kebijakan publik.

Penanaman mangrove, kata Husnul, bukan sekadar kegiatan menanam pohon. Di balik aksi tersebut terdapat pembelajaran mengenai ekosistem pesisir, perubahan iklim, tanggung jawab sosial, serta pentingnya kolaborasi.

“Ketika mahasiswa berada di pantai dan menanam mangrove, mereka tidak sekadar menanam pohon. Mereka sedang belajar tentang lingkungan, perubahan iklim, tanggung jawab sosial, gotong royong, sekaligus memahami bahwa tindakan kecil hari ini dapat memberikan dampak jangka panjang,” jelasnya.

Husnul menambahkan, mangrove memiliki peran penting bagi ekosistem pesisir, termasuk dalam menyerap dan menyimpan karbon. Karena itu, kesadaran mengenai perubahan iklim menurutnya perlu ditanamkan kepada generasi muda melalui pengalaman langsung.

FISIP UNIRA Malang ingin mahasiswa tidak berhenti pada kemampuan memahami atau membicarakan persoalan lingkungan. Mereka juga didorong memiliki keberanian untuk mengambil tindakan.

“Kami berharap mahasiswa FISIP tidak hanya menjadi orang yang pandai berbicara tentang kebijakan lingkungan, tetapi juga mau melakukan sesuatu. Karena perubahan tidak cukup dibicarakan. Harus ada aksi,” tegasnya.

Semangat tersebut kemudian dirangkum melalui tagline FISIP UNIRA Malang, “Think Deep. Act Green. Lead Better.”

Direktur PS PRB-RisDe UNIRA Malang, M. Imron, MAP, menilai keterlibatan mahasiswa dalam aksi lingkungan sejak awal masa perkuliahan dapat menjadi investasi penting untuk membangun kesadaran terhadap persoalan kebencanaan dan perubahan lingkungan.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari tata kelola pemerintahan maupun kehidupan masyarakat.

“Mahasiswa perlu memahami bahwa lingkungan dan kebencanaan memiliki keterkaitan erat dengan tata kelola pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Edukasi tidak cukup hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi harus bersentuhan langsung dengan realitas lapangan,” ujar Imron.

Karena itu, kegiatan di Kondangmerak tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan aksi konservasi, tetapi juga memberikan pengalaman kepada mahasiswa mengenai bagaimana persoalan lingkungan bersinggungan dengan kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Founder Sahabat Alam Indonesia, Andik Syaifudin, mengapresiasi keterlibatan mahasiswa FISIP UNIRA Malang dalam kegiatan konservasi pesisir.

Ia menilai kawasan pantai seharusnya tidak hanya dipandang sebagai destinasi wisata, tetapi juga dapat menjadi ruang pendidikan lingkungan bagi generasi muda.

“Pantai bukan hanya tempat wisata, tetapi juga ruang belajar. Kami berharap mahasiswa yang datang hari ini tidak hanya menanam mangrove, tetapi membawa pulang kepedulian terhadap lingkungan dan menularkannya kepada masyarakat,” kata Andik.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *