DaerahWisata

Festival Mata Air Bulukerto Jadi Alarm Lingkungan, Pemkot Batu Cari Titik Temu Ekologi dan Ekonomi

14
×

Festival Mata Air Bulukerto Jadi Alarm Lingkungan, Pemkot Batu Cari Titik Temu Ekologi dan Ekonomi

Share this article
Festival Mata Air di Desa Bulukerto. (Foto: Sudutkota.id/CHA)

Sudutkota.id – Upaya menjaga keberlanjutan sumber mata air kembali menjadi perhatian di Kota Batu melalui kegiatan Rembug Ekologi bertajuk Setiap Tetes adalah Pertaruhan antara Hidup dan Kehidupan dalam rangkaian Festival Mata Air di Desa Bulukerto, Kamis (23/4/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan unsur pemerintah, warga, dan pegiat lingkungan untuk membahas perlindungan sumber daya air tanpa mengesampingkan kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan dan lahan penyangga.

Pelaksana Tugas Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menegaskan pemerintah daerah mendukung setiap gerakan pelestarian mata air karena keberadaannya sangat menentukan kehidupan masyarakat ke depan.

“Pemerintah Kota Batu mendukung penuh kegiatan yang berfokus pada perlindungan sumber mata air. Namun di saat yang sama, kami juga harus memastikan masyarakat tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya,” ujar Heli.

Ia menilai kebijakan lingkungan tidak bisa dilakukan secara sepihak. Sebab, banyak warga yang selama ini menggantungkan pendapatan dari aktivitas pertanian maupun usaha lain di kawasan sekitar hutan.

“Kami tidak bisa membuat aturan tanpa melihat realitas di lapangan. Ada masyarakat yang mencari nafkah di kawasan tersebut, sehingga solusi yang diambil harus adil antara kepentingan lingkungan dan kebutuhan hidup warga,” katanya.

Sebagai solusi, Pemkot Batu mendorong skema perhutanan sosial serta penguatan klaster pertanian produktif yang memiliki nilai jual. Komoditas seperti kopi dan alpukat dinilai dapat menjadi pilihan karena memberi manfaat ekonomi sekaligus mendukung penghijauan.

“Kami ingin apa yang ditanam petani memiliki pasar yang jelas. Jadi bukan hanya menanam, tetapi juga memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Heli juga menyoroti pentingnya pemahaman tentang hubungan kawasan hulu dengan keberlangsungan mata air di wilayah bawah. Menurut dia, sejumlah sumber air di Kota Batu bergantung pada kondisi daerah tangkapan air yang berada di pegunungan.

“Contohnya beberapa sumber air di Batu ternyata berkaitan dengan kawasan Gunung Arjuna. Maka upaya menjaga mata air tidak cukup hanya di titik sumber, tetapi juga harus memperhatikan wilayah hulunya,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap kegiatan festival tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan diikuti langkah nyata seperti rehabilitasi lahan kritis, penanaman pohon, serta pengawasan kawasan resapan air.

“Kegiatan seperti ini sangat baik, tetapi yang paling penting adalah tindak lanjut konkret di lapangan,” tegasnya.

Selain itu, Heli menyebut tanggung jawab menjaga sumber air seharusnya dipikul bersama. Daerah-daerah lain yang ikut memanfaatkan aliran air dari kawasan hulu Batu juga dinilai perlu berkontribusi dalam pelestarian.

“Air dari kawasan Sumber Brantas mengalir dan dimanfaatkan banyak daerah. Karena itu, tanggung jawab menjaga kelestariannya juga harus dilakukan bersama,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *