KOTA MALANG, Sudutkota.id – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang mendorong penguatan koperasi agar tidak hanya menjadi wadah aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi etalase produk lokal sekaligus penunjang sektor pariwisata.
Kepala Disporapar Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, mengatakan pengembangan koperasi harus melibatkan berbagai elemen dan lintas sektor, termasuk pariwisata. Hal itu dinilai penting karena aktivitas wisata dan olahraga di Kota Malang berpotensi mendatangkan banyak pengunjung yang membutuhkan produk lokal sebagai oleh-oleh.
“Memang sangat bagus sekali apa yang disampaikan Pak Menteri tadi. Ini sangat bermanfaat juga dengan Pemkot Malang. Iktikad Pemkot Kota Malang untuk memajukan koperasi memang harus didukung semua elemen, termasuk salah satunya dari sektor pariwisata,” ujar Arif, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, koperasi nantinya dapat diarahkan untuk memasarkan berbagai produk asli Kota Malang. Mulai dari kecap, bumbu masakan, buah-buahan hingga sayuran lokal.
Arif menilai potensi produk lokal Kota Malang cukup besar untuk dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata. Dengan demikian, wisatawan maupun peserta kegiatan olahraga tidak harus mencari oleh-oleh ke luar wilayah Kota Malang.
“Pak Menteri tadi menyampaikan agar koperasi mengutamakan produk-produk lokal yang ada di Kota Malang. Saya lihat potensi Kota Malang sangat luar biasa. Ketika ada event olahraga maupun pariwisata, kalau mau mencari oleh-oleh tidak usah jauh-jauh,” jelasnya.
Ia membuka peluang agar koperasi nantinya menjadi salah satu titik belanja bagi wisatawan dan peserta event yang berkunjung ke Kota Malang. Namun, realisasi konsep tersebut masih membutuhkan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) teknis, khususnya Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang.
Arif juga menyebut keberadaan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang telah terbentuk di Kota Malang dapat menjadi salah satu kekuatan untuk mendukung konsep tersebut.
“Pokdarwis yang ada di Kota Malang kan sudah terbentuk, lembaganya sudah terbentuk. Kalau memang mau dijadikan koperasi, tinggal berkoordinasi dengan OPD teknis, dalam hal ini Pak Eko dan bidang koperasi, untuk menindaklanjuti arahan Pak Menteri,” katanya.
Menurut Arif, langkah selanjutnya adalah melakukan pendataan dan pemetaan potensi yang ada. Koordinasi dengan Diskopindag diperlukan untuk mengetahui produk lokal apa saja yang bisa dikembangkan, sekaligus menentukan pola pengelolaan koperasi yang dapat terhubung dengan aktivitas pariwisata.
“Berarti apa yang menjadi perintah Pak Wali dan Pak Menteri berkaitan dengan koperasi yang berkaitan dengan Pokdarwis yang ada di Kota Malang. Nanti bisa dikoordinasikan lagi dengan Diskopindag untuk pendataan,” tegasnya.
Di sisi lain, Arif menilai rangkaian kegiatan yang berlangsung di Kota Malang juga mulai memberikan dampak terhadap pergerakan wisatawan.
Ia menyebut berdasarkan informasi dari panitia, jumlah pengunjung yang berada di Kota Malang selama rangkaian kegiatan tiga hari diperkirakan mencapai 100 ribu hingga 150 ribu orang.
“Menjelang kegiatan selama tiga hari ini, dampak wisatawan ada lonjakan. Kemarin dari panitia menyampaikan selama tiga hari itu ada berkisar 100 sampai 150 ribu yang ada di Kota Malang,” ungkapnya.
Bahkan, menurut Arif, pergerakan wisatawan sudah terlihat sebelum kegiatan resmi dibuka. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi pelaku usaha pariwisata, kuliner, perdagangan hingga ekonomi kreatif di Kota Malang.
Ia mengatakan sejumlah kepala dinas pariwisata di Jawa Timur juga dijadwalkan hadir dalam agenda pembukaan Festival Malang Tugu bersama Gubernur Jawa Timur.
Kehadiran wisatawan dan tamu dari luar daerah tersebut diperkirakan memberikan efek berantai terhadap perekonomian kota. Wisatawan tidak hanya menghadiri kegiatan utama, tetapi juga berpotensi menginap, menikmati kuliner, berbelanja dan mengunjungi sejumlah destinasi wisata.
“Artinya banyak yang menginap di Kota Malang. Artinya juga banyak yang menikmati kuliner yang ada di Kota Malang. Sehingga multiplier effect dari kegiatan ini juga akan mendukung pariwisata, menambah jumlah wisatawan yang hadir di Kota Malang, dan tentunya roda perekonomian Kota Malang akan terus berjalan,” ujarnya.
Kendati demikian, Disporapar Kota Malang belum bisa memastikan angka okupansi hotel selama rangkaian kegiatan tersebut.
Arif mengatakan pihaknya sebenarnya telah menjadwalkan rapat untuk membahas perkembangan sektor pariwisata, termasuk tingkat hunian hotel. Namun, rapat tersebut ditunda karena adanya agenda kunjungan Menteri.
“Okupansi hotel sementara belum kita lihat. Harusnya hari ini tadi rapat saya, tapi karena ada Pak Menteri, kita tunda nanti hari Senin. Nanti kita minta laporan dari teman-teman,” katanya.
Ia optimistis tingkat kunjungan wisatawan tetap tinggi mengingat rangkaian kegiatan bertepatan dengan momentum long weekend.
Arif mengaku baru mengetahui bahwa Selasa juga merupakan hari libur. Kondisi tersebut diyakini dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan di Kota Malang.
“Saya baru tahu kalau hari Selasa besok itu libur. Ternyata Senin mungkin banyak yang masih berwisata di Kota Malang. Saya rasa jumlah wisatawan nanti akan banyak,” tuturnya.
Untuk memastikan dampak ekonomi secara lebih terukur, Disporapar akan meminta data riil dari pelaku industri perhotelan. Data tersebut nantinya akan dibahas bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang.
“Laporan riilnya nanti kita lihat hari Senin, saat bertemu dengan teman-teman PHRI,” pungkas Arif.




















