Daerah

Di Tengah Prestasi Jasmine Azzahra, DPRD Soroti Rp7,5 Miliar Dana Pembinaan KONI Malang

9
×

Di Tengah Prestasi Jasmine Azzahra, DPRD Soroti Rp7,5 Miliar Dana Pembinaan KONI Malang

Share this article
Di Tengah Prestasi Jasmine Azzahra, DPRD Soroti Rp7,5 Miliar Dana Pembinaan KONI Malang
Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo, ST MT, saat menyampaikan pandangannya terkait anggaran pembinaan olahraga KONI Kota Malang yang mencapai sekitar Rp7,5 miliar.(Sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Prestasi atlet BMX Racing Indonesia, Jasmine Azzahra Setyobudi, yang sukses meraih medali perunggu di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, menjadi contoh nyata bahwa prestasi olahraga lahir dari proses pembinaan yang panjang.

Di tengah capaian tersebut, Komisi D DPRD Kota Malang menyoroti kucuran anggaran sekitar Rp7,5 miliar untuk pembinaan olahraga melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang.

Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo, ST MT, mengatakan besarnya anggaran tersebut harus berbanding lurus dengan kualitas pembinaan dan peningkatan prestasi atlet.

Menurutnya, anggaran olahraga tidak boleh berhenti pada angka besar dalam dokumen anggaran maupun sekadar terserap dalam berbagai program. Dana tersebut harus terlihat dampaknya terhadap atlet.

“Kami Komisi D DPRD Kota Malang memandang anggaran olahraga bukan semata-mata sebagai biaya, tetapi sebagai investasi pembangunan manusia. Karena itu, setiap rupiah yang dialokasikan untuk KONI harus memiliki hubungan yang jelas dengan proses pembinaan dan peningkatan prestasi atlet,” ujar Ginanjar, Selasa (29/9/2026).

Ginanjar kemudian menyebut, Jasmine Azzahra sebagai salah satu contoh bahwa prestasi atlet tidak lahir secara instan.

Jasmine yang berasal dari Surabaya telah menjalani latihan secara serius di Malang sejak usia 13 tahun. Proses panjang tersebut kemudian mengantarkannya menjadi atlet BMX Racing Indonesia hingga mampu meraih medali perunggu pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

“Contohnya Jasmine Azzahra. Dia asal Surabaya, tetapi sejak usia 13 tahun sudah menjalani latihan secara serius di Malang. Sekarang bisa membawa nama Indonesia dan meraih medali perunggu Asian Games. Ini menunjukkan bahwa prestasi atlet tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses pembinaan yang panjang,” kata Ginanjar.

Menurutnya, perjalanan Jasmine menunjukkan bahwa ada banyak mata rantai yang bekerja di balik sebuah medali. Mulai dari pembinaan sejak usia dini, kualitas pelatih, program latihan, fasilitas, hingga kesempatan mengikuti kompetisi.

Karena itu, Ginanjar mengingatkan agar keberhasilan pembinaan olahraga tidak hanya diukur dari jumlah medali yang diperoleh.

“Prestasi tidak boleh diukur sekadar dari jumlah medali. Ada beberapa mata rantai yang harus diperhatikan. Kalau salah satu mata rantai lemah, tambahan anggaran belum tentu menghasilkan prestasi,” tegasnya.

Ginanjar menilai anggaran sekitar Rp7,5 miliar yang dikucurkan untuk KONI harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas.

Menurutnya, DPRD perlu melihat apakah anggaran tersebut benar-benar memperkuat pembinaan atlet, meningkatkan kualitas pelatih, memperbaiki program latihan serta membuka lebih banyak kesempatan bagi atlet untuk mengikuti kompetisi.

“Jadi yang kita lihat jangan hanya medalinya. Ada proses panjang di belakangnya. Ada atletnya, ada pelatihnya, ada program latihan, ada kompetisi dan tentu ada dukungan anggaran. Semua mata rantai itu harus berjalan,” jelasnya.

Ia menegaskan, besarnya anggaran tidak otomatis menjamin prestasi jika sistem pembinaan tidak dibangun secara utuh.

Ginanjar bahkan menggambarkan alur pembinaan olahraga secara sederhana: anggaran pembinaan, kualitas pelatih, program latihan, kompetisi dan prestasi atlet.

Jika salah satu mata rantai tersebut lemah, menurutnya, penambahan anggaran belum tentu menghasilkan peningkatan prestasi.

Karena itu, DPRD Kota Malang mendorong agar penggunaan anggaran KONI tidak hanya dinilai berdasarkan tingkat penyerapan. Evaluasi harus menyentuh dampak nyata terhadap perkembangan atlet.

“Kalau anggaran bertambah, maka harus ada dampak yang bisa dilihat dalam proses pembinaan. Atletnya berkembang atau tidak, kualitas pelatih meningkat atau tidak, program latihannya berjalan atau tidak,” ujarnya.

Ginanjar menambahkan, dukungan terhadap olahraga merupakan bagian dari penggunaan uang publik. Karena itu, setiap rupiah yang dialokasikan harus dapat dipertanggungjawabkan manfaatnya.

“Anggaran, pembinaan, kualitas pelatih, program latihan, kompetisi, prestasi atlet. Kalau salah satu mata rantai lemah, tambahan anggaran belum tentu menghasilkan prestasi yang lebih baik,” pungkas Ginanjar.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *