Sudutkota.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menegaskan komitmennya untuk menjaga sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengukuhan Dewan Pendidikan Kota Malang periode baru.
Prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Jalan Teluk Mandar II Nomor 32, Kamis (23/7/2026).
Wahyu menyampaikan, kepengurusan Dewan Pendidikan periode sebelumnya telah berakhir. Dengan formasi baru yang mayoritas diisi wajah baru, Pemkot Malang berharap lembaga tersebut mampu melanjutkan berbagai program positif yang telah berjalan, terutama dalam membangun kolaborasi, kemitraan, serta pendampingan terhadap dunia pendidikan.
“Hari ini pengukuhan Dewan Pendidikan yang periode sebelumnya sudah berakhir. Kami berharap dengan adanya Dewan Pendidikan ini semuanya baru, hanya satu orang saja yang lama. Ini bisa meneruskan apa yang sudah dilakukan Dewan Pendidikan sebelumnya, yakni kolaborasi, kemitraan, dan pendampingan terhadap pendidikan di Kota Malang,” ujar Wahyu.
Menurutnya, keberadaan Dewan Pendidikan menjadi penting karena anggotanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi perguruan tinggi negeri maupun swasta, pemerhati pendidikan, hingga para pelaku pendidikan.
Komposisi tersebut diharapkan mampu memberikan masukan strategis kepada pemerintah daerah dalam menjaga predikat Kota Malang sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Indonesia.
“Variasinya dari berbagai macam latar belakang. Ada perguruan tinggi negeri dan swasta, pemerhati pendidikan, serta pelaku pendidikan. Tentu ini akan menjadi dewan yang baik yang bisa memberikan masukan kepada kami dan tetap menjaga kualitas pendidikan yang selama ini sudah berhasil kita raih,” jelasnya.
Wahyu menyebut, tantangan pendidikan ke depan semakin kompleks. Sebagai kota yang menjadi tujuan masyarakat untuk menimba ilmu mulai jenjang PAUD hingga perguruan tinggi, Kota Malang harus terus meningkatkan kualitas layanan pendidikannya.
Menurutnya, berbagai faktor pendukung seperti fasilitas pendidikan yang lengkap, lingkungan kota yang nyaman, serta keberadaan banyak institusi pendidikan berkualitas menjadikan Malang tetap menjadi magnet bagi pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah.
“PR ke depan semakin banyak karena Kota Malang sudah menjadi rujukan orang-orang yang ingin menimba ilmu. Mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, baik reguler maupun berbasis keagamaan semuanya ada di Malang,” katanya.
Wahyu menegaskan, salah satu pekerjaan rumah Dewan Pendidikan adalah mempertahankan capaian prestasi pendidikan Kota Malang. Ia menyebut sejumlah indikator menunjukkan kualitas pendidikan Kota Malang masih berada di posisi tinggi, termasuk capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Prestasi siswa-siswi dan mahasiswa di Kota Malang sebenarnya sudah cukup baik, tetapi harus terus ditingkatkan. IPM kita tertinggi, TKA juga tertinggi di Jawa Timur, termasuk jenjang SD dan SMP,” ujarnya.
Selain peningkatan prestasi, Wahyu meminta Dewan Pendidikan ikut berperan dalam pencegahan kekerasan terhadap anak, bullying, serta berbagai persoalan yang dapat mengganggu lingkungan belajar.
Ia menilai perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Kita berharap nanti bisa saling berjalan untuk menekan persoalan perlindungan anak, bullying, dan hal-hal lain yang akhirnya mempengaruhi tempat pendidikan di Kota Malang,” tegasnya.
Wahyu juga menyinggung langkah Pemkot Malang dalam mengantisipasi dampak negatif penggunaan gadget terhadap anak. Sebelum adanya kebijakan nasional terkait pembatasan penggunaan perangkat digital di sekolah, Pemkot Malang telah lebih dulu mengeluarkan surat edaran mengenai penggunaan gadget.
“Untuk perlindungan anak, kita sudah beberapa kali mengeluarkan surat edaran penggunaan gadget. Karena ini salah satu faktor pemicu, banyak hal yang tidak baik yang akhirnya berdampak kepada anak-anak,” ungkapnya.
Ia meminta guru tidak hanya melakukan pengawasan saat siswa berada di sekolah, tetapi juga memperhatikan kondisi anak di luar lingkungan sekolah.
Termasuk pengawasan saat antar-jemput sekolah dan keterlibatan orang tua, seperti program “Ayah Mengantar Sekolah”, yang dinilai dapat menjadi salah satu upaya memperkuat perlindungan anak.
Dalam kesempatan itu, Wahyu juga menjelaskan kebijakan pemberian seragam sekolah gratis yang tahun ini mengalami perubahan skema akibat efisiensi anggaran.
Jika sebelumnya seluruh siswa baru SD dan SMP mendapatkan bantuan seragam, kini bantuan diprioritaskan bagi keluarga yang masuk kategori prasejahtera berdasarkan data desil 1 hingga desil 4.
“Karena terkait efisiensi, kita memprioritaskan kepada mereka yang masuk keluarga prasejahtera atau kelompok desil 1 sampai desil 4. Kita cek agar bantuan tepat sasaran,” katanya.
Bantuan tersebut berupa paket bahan seragam dan perlengkapannya. Siswa SD mendapatkan seragam Pramuka dan seragam identitas merah putih beserta atribut seperti topi. Sedangkan siswa SMP mendapatkan seragam Pramuka dan seragam identitas putih biru.
Jumlah penerima juga mengalami pengurangan dibanding tahun sebelumnya. Dari sekitar 6 ribu penerima, kini menjadi sekitar 2.013 siswa SD dan 1.500 siswa SMP.
“Namanya efisiensi, prioritas tetap ada. Hanya kita kurangi agar tepat sasaran, sehingga yang mendapatkan adalah mereka yang masuk desil 1 sampai desil 4,” jelas Wahyu.
Terkait kebijakan Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengenai penempatan ASN berdasarkan lokasi tempat tinggal terdekat, Wahyu mengatakan Pemkot Malang masih melakukan pemetaan.
Menurutnya, kondisi geografis Kota Malang berbeda dengan wilayah kabupaten yang memiliki jarak tempuh lebih panjang.
“Belum, sekarang masih mapping dulu. Kalau di Kota Malang berbeda dengan kabupaten. Radius menuju tempat kerja relatif tidak terlalu jauh. Rata-rata masih di bawah satu jam, bahkan sekitar setengah jam,” ujarnya.
Ia menilai kebijakan tersebut nantinya dapat memberikan sejumlah manfaat, mulai dari efisiensi biaya perjalanan hingga mendekatkan ASN dengan keluarga.
“Nanti akan terjawab setelah mapping. Tetapi secara relatif masih dalam keterjangkauan,” pungkas Wahyu.




















