Sudutkota.id – Aremania kembali turun ke jalan. Mengusung tema “Kanjuruhan Rumah Kita”, ratusan suporter yang tergabung dalam Aremania Bergerak menggelar aksi damai di Lapangan Mapolres Malang, Kepanjen, Kamis (16/4/2026).
Meski dikemas damai, aksi ini membawa tuntutan tentang kepastian laga Arema FC kontra Persebaya harus tetap digelar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
Sejak sore hingga menjelang petang, massa memenuhi area lapangan apel Polres Malang dengan berbagai atribut, bendera, pamflet hingga kaos kebanggaan Arema. Tulisan “Kanjuruhan adalah rumah kita” menjadi simbol kuat yang terus digaungkan.
Kedatangan massa disambut langsung Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdianto. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Aremania adalah bagian dari masyarakat yang harus dirangkul.
“Kami menyambut Aremania dengan sukacita. Saya sudah sampaikan ke anggota, Aremania adalah saudara kita semua,” ujarnya.
Namun, di balik sambutan itu, Aremania menyampaikan lima tuntutan tegas. Melalui perwakilan Aremania Tajinan, Dedi Arisandi, mereka mengecam forum koordinasi Forkopimda yang membahas pertandingan tanpa melibatkan Aremania.
Tak hanya itu, mereka juga menuntut klarifikasi atas kesimpulan yang menyebut laga Arema FC vs Persebaya belum siap digelar di Stadion Kanjuruhan.
“Aremania ini bagian besar dari Malang. Jangan sampai keputusan diambil tanpa melibatkan kami,” tegas Dedi.
Bagi Aremania, Stadion Kanjuruhan bukan sekadar venue pertandingan, melainkan rumah. Mereka menolak segala bentuk intervensi yang berpotensi mengusir Arema dari kandangnya sendiri, terlebih setelah stadion tersebut melalui proses renovasi dan dinyatakan layak.
Suara emosional juga datang dari keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Eka Wulandari, istri almarhum korban, menegaskan bahwa tragedi tersebut memang luka yang tak akan hilang, namun bukan alasan menghentikan Arema di Malang.
“Tragedi itu akan selalu ada di ingatan kami. Tapi tidak semua keluarga korban menolak pertandingan di Kanjuruhan,” ujarnya.
Ia bahkan menyinggung fenomena penolakan di media sosial yang dinilai tidak merepresentasikan seluruh keluarga korban.
“Mau jadi apa Malang tanpa Arema,” ucapnya tegas.
Sementara itu, perwakilan Aremania lainnya menekankan pentingnya optimisme dan kesiapan pengamanan. Mereka menyebut, dukungan agar laga tetap digelar di Malang juga datang dari berbagai pihak.
Aremania juga menegaskan bahwa kehadiran suporter di stadion bukan bentuk melupakan tragedi, melainkan cara menjaga ingatan publik agar kasus Kanjuruhan tidak dilupakan.
“Kalau dipindah, justru sejarah itu bisa perlahan hilang,” tegas salah satu orator.
Menanggapi desakan tersebut, AKBP Taat menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menandatangani rekomendasi untuk laga Arema FC vs Persebaya.
Ia menegaskan bahwa keputusan akan diambil berdasarkan analisis objektif, dengan mempertimbangkan seluruh masukan, baik yang mendukung maupun menolak.
“Rekomendasi untuk laga melawan Persis sudah keluar. Tapi untuk Persebaya, masih dalam tahap pertimbangan,” jelasnya.
AKBP Taat juga memastikan seluruh aspirasi Aremania akan menjadi bahan utama dalam pengambilan keputusan akhir.
“Akan kami putuskan berdasarkan fakta di lapangan, bukan suka atau tidak suka,” tegasnya.
Aksi pun berakhir dalam kondisi aman dan kondusif. Massa membubarkan diri dengan tertib.





















