KOTA MALANG, Sudutkota.id – Hujan yang mengguyur kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supiturang, Kota Malang, pada Sabtu (24/10/2026) sore, menjadi harapan baru di tengah kebakaran yang telah berlangsung selama empat hari.
Namun, turunnya hujan belum serta-merta mengakhiri ancaman kebakaran. Bara api masih tersimpan di dalam timbunan sampah dan sejumlah titik yang sebelumnya disiram kembali memunculkan api.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang. Hingga Sabtu sore, area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar sembilan hektare. Petugas pun tetap bersiaga dan menjadwalkan penyiraman lanjutan untuk menekan bara api yang berpotensi kembali menyala.
Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran M., M.AP., mengatakan hujan mulai mengguyur kawasan TPA Supiturang sekitar pukul 16.15 WIB. Hujan tersebut diharapkan membantu mengurangi titik api setelah petugas melakukan penyiraman sejak pagi.
Saat dikonfirmasi Sudutkota.id melalui sambungan telepon, Sabtu (24/10/2026) sore, Raymond menjelaskan bahwa penyiraman dimulai pukul 05.30 WIB. Petugas menyasar area yang sebelumnya belum terjangkau, khususnya bagian paling atas di sisi barat daya lokasi kebakaran.
“Pagi-pagi penyiraman dimulai pukul 05.30 WIB di area yang sebelumnya belum terjangkau, di titik paling atas atau paling barat sisi selatan TPA Supiturang. Penyiraman dilakukan di lokasi-lokasi yang menimbulkan api, mulai dari titik atas turun ke bawah ke arah timur, di kanan dan kiri jalan yang sudah dipeton,” jelas Raymond.
Meski penyiraman dilakukan secara bertahap, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman. Bara api masih ditemukan di antara tumpukan sampah. Bahkan, titik yang sebelumnya telah mendapat penyiraman kembali memunculkan api pada sore hari.
“Dari titik api yang sejak pukul 05.30 WIB dilakukan penyiraman, sekitar pukul 16.00 WIB muncul kembali di titik kanan dan kiri yang sudah disiram. Memang kondisi kontur sampah ini menyimpan rongga udara dan bara api di dalamnya,” ungkapnya.
Menurut Raymond, persoalan utama dalam pemadaman bukan hanya api yang terlihat di permukaan, melainkan bara yang tersembunyi di bagian dalam timbunan sampah. Rongga udara di antara sampah memungkinkan bara bertahan dan memicu munculnya kembali titik api meskipun permukaan telah dibasahi.
“Penyiraman yang efektif adalah penyiraman ke dalam, tidak hanya di bagian atasnya,” tegas Raymond.
Karena itu, petugas terus berupaya menjangkau bagian dalam timbunan sampah untuk menekan potensi munculnya kembali api. Hujan yang turun pada sore hari diharapkan membantu proses tersebut, tetapi pemantauan dan penyiraman tetap diperlukan untuk memastikan bara api tidak kembali berkembang.
Raymond menyebut, hingga hari keempat penanganan, luas area yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar sembilan hektare. Luasan tersebut menunjukkan besarnya area yang harus ditangani petugas, terlebih karena bara api masih dapat bertahan di dalam timbunan sampah.
Di tengah situasi tersebut, hujan yang akhirnya turun disambut dengan rasa syukur. Raymond berharap intensitas hujan dapat membantu meredam titik api sekaligus memberi kesempatan kepada petugas untuk beristirahat setelah bekerja melakukan penyiraman sepanjang hari.
“Puji syukur, puji Tuhan, hari ini sudah mulai gerimis. Semoga hujan terus turun sehingga teman-teman bisa rehat terlebih dahulu. Terima kasih, Tuhan telah mendengar doa kami semua. Tolong bantu kami untuk memadamkan api di TPA Supiturang,” tuturnya.
Meski demikian, DLH tidak menjadikan turunnya hujan sebagai alasan untuk menghentikan penanganan. Raymond memastikan penyiraman kembali dijadwalkan pada Minggu (25/10/2026) mulai pukul 05.30 WIB, dengan tetap memperhatikan perkembangan cuaca dan kondisi titik api di lokasi.
“Besok pagi tetap pukul 05.30 WIB akan dilakukan penyiraman sambil melihat kondisi hujan hari ini. Mudah-mudahan dengan kondisi sekarang, api yang ada di seputar TPA Supiturang bisa berkurang secara signifikan,” pungkasnya.
Sebelum hujan mengguyur kawasan TPA Supiturang pada sore hari, upaya memohon turunnya hujan juga dilakukan melalui Sholat Istisqa yang digelar Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin bersama Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo PS, Sabtu pagi.
Sholat Istisqa tersebut dilaksanakan seusai kegiatan Sholat Subuh Keliling (Suling) di Masjid Panglima Besar Jenderal Soedirman, Jalan Tumenggung Suryo, kawasan Rampal, Kelurahan Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Pelaksanaan Sholat Istisqa berlangsung di tengah kemarau panjang yang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Salah satu dampak yang menjadi perhatian adalah kebakaran di TPA Supiturang, yang membutuhkan penanganan intensif karena api dan bara dapat bertahan di dalam tumpukan sampah.
Hujan yang turun sekitar pukul 16.15 WIB menjadi perkembangan yang disyukuri setelah doa bersama dipanjatkan pada pagi hari. Meski begitu, kondisi di lapangan masih membutuhkan penanganan lanjutan.
Munculnya kembali titik api setelah penyiraman menjadi pengingat bahwa pemadaman kebakaran di TPA Supiturang tidak cukup mengandalkan hujan atau pembasahan permukaan. Petugas harus memastikan bara di bagian dalam timbunan sampah dapat ditekan agar kebakaran tidak kembali meluas.





















