Daerah

Misteri Flu di SMP Taman Siswa, Dinkes Malang Kirim Swab 13 Siswa ke Jakarta

32
×

Misteri Flu di SMP Taman Siswa, Dinkes Malang Kirim Swab 13 Siswa ke Jakarta

Share this article
Misteri Flu di SMP Taman Siswa, Dinkes Malang Kirim Swab 13 Siswa ke Jakarta
Kadiskes Kota Malang, dr Husnul Muarif saat memberikan keterangan terkait pemeriksaan 13 siswa SMP Taman Siswa yang menjalani swab.(Sudutkota.id/Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Misteri penyebab gangguan kesehatan yang sempat membuat puluhan siswa SMP Taman Siswa Kota Malang tidak masuk sekolah masih menunggu jawaban laboratorium.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang telah melakukan swab terhadap 13 siswa yang sebelumnya mengalami keluhan flu, batuk dan demam. Sampel tersebut selanjutnya diperiksa melalui BBLK Surabaya dan diteruskan ke Jakarta untuk menjalani Whole Genome Sequencing (WGS).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif, mengatakan pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui secara lebih detail penyebab keluhan yang dialami para siswa.

“13 itu sudah kita swab. Tinggal menunggu hasil swab-nya. Insyaallah mungkin Senin atau Selasa,” ujar Husnul saat dikonfirmasi, Jumat (2/10/2026).

Menurut Husnul, pemeriksaan WGS diperlukan untuk mengetahui apakah gangguan tersebut berkaitan dengan influenza biasa atau subtipe influenza tertentu.

“Apakah itu influenza biasa atau subtipe A atau B, nanti kita lihat dari hasil pemeriksaannya,” jelasnya.

Sebelumnya, persoalan ini mencuat setelah 124 siswa SMP Taman Siswa dilaporkan tidak masuk sekolah pada Senin (21/9/2026). Saat itu, keluhan yang banyak ditemukan berupa flu dan batuk berat.

Jumlah siswa yang tidak masuk kemudian berangsur turun. Pada Selasa (22/9/2026) dan Rabu (23/9/2026), sekitar 90 siswa masih tercatat tidak masuk sekolah. Kemudian pada Kamis (24/9/2026), sekitar 80 siswa masih absen dengan berbagai keluhan kesehatan.

Kondisi tersebut membuat sekolah mengambil langkah pembatasan jam pembelajaran. Sejak Rabu (23/9/2026), kegiatan belajar yang sebelumnya berlangsung hingga pukul 15.00 WIB dipangkas menjadi pukul 12.00 WIB.

Penggunaan masker juga diberlakukan bagi siswa maupun guru.

Namun, Husnul menegaskan, angka siswa yang tidak masuk sekolah tersebut tidak seluruhnya dapat dikategorikan sebagai kasus ISPA.

“Keluhannya macam-macam, bukan hanya ISPA. Bisa memang izin tidak masuk, bisa juga habis dirawat karena tipes. Jadi tidak semuanya yang tidak masuk itu karena ISPA,” ungkapnya.

Selain memeriksa siswa, Dinkes Kota Malang juga menyoroti kondisi lingkungan SMP Taman Siswa.

Dari asesmen yang dilakukan, ditemukan sejumlah faktor yang dinilai dapat mendukung munculnya gangguan saluran pernapasan, di antaranya kondisi ventilasi yang kurang memadai, pencahayaan yang kurang serta sarana cuci tangan yang belum optimal.

“Ventilasinya kurang, kemudian pencahayaan juga kurang, kemudian sarpras untuk cuci tangan juga belum bisa kita harapkan layak. Itu faktor-faktor pendukung,” kata Husnul.

Faktor lingkungan di luar sekolah juga turut menjadi perhatian. Asap dan polusi udara disebut dapat ikut memengaruhi kondisi saluran pernapasan siswa.

Karena itu, Dinkes mendorong agar langkah pencegahan tidak hanya berfokus pada siswa yang mengalami keluhan, tetapi juga pada kondisi lingkungan sekolah.

Meski aktivitas pembelajaran di SMP Taman Siswa telah kembali berjalan, Dinkes tetap mendorong penggunaan masker sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Husnul menegaskan bahwa masker tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang sedang sakit.

“Semua,” tegasnya ketika ditanya apakah penggunaan masker berlaku untuk seluruh siswa dan guru.

Menurutnya, penggunaan masker merupakan salah satu langkah untuk mengurangi kontaminasi dan paparan debu maupun partikel yang dapat masuk ke saluran pernapasan.

“Protokol kesehatan zaman COVID itu harus diaktifkan lagi,” ujarnya.

Dinkes Kota Malang juga membandingkan kondisi SMP Taman Siswa dengan SMPN 20 yang berada di seberangnya.

Husnul mengatakan, kondisi di SMP 20 tidak menunjukkan gangguan pembelajaran seperti yang sempat terjadi di SMP Taman Siswa.

“Di SMPN 20 itu tidak ada yang istilahnya pembelajaran terganggu. Siswa yang pembelajaran hampir 99 persen. Tidak seperti yang ada di Taman Siswa,” jelasnya.

Sementara untuk pemantauan sekolah lain, Dinkes akan mengandalkan jejaring puskesmas di masing-masing wilayah.

Pemantauan dilakukan untuk mengetahui kemungkinan munculnya keluhan serupa di lingkungan sekolah lainnya.

Untuk saat ini, Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan 13 sampel tersebut. Husnul mengatakan hasil laboratorium diharapkan sudah diterima pada awal pekan depan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, Dinkes akan melakukan tindak lanjut bersama fasilitas pelayanan kesehatan dan rumah sakit.

“Kita lihat kondisinya. Kalau kondisinya bagus, kita support tambahan atau terapi tambahan yang nanti kita konsultasikan dengan rumah'” pungkasnya.

Sebelumnya, 124 siswa SMP Taman Siswa dilaporkan absen atau tidak masuk sekolah pada Senin (21/9/2026) lalu. Mereka tidak masuk akibat terkena flu dan batuk berat.

Kemudian, pada hari Selasa (22/9) dan Rabu (23/9), kondisi tersebut turun. Sekitar 90 siswa masih dilaporkan tidak masuk sekolah. Lalu, pada Kamis (24/9/2026) kemarin, masih terdapat 80 siswa tidak masuk sekolah dengan penyakit ataupun keluhan yang sama.

Akibatnya, sejak Rabu (23/9/2026) lalu, sekolah menerapkan kebijakan pengurangan jam belajar dari yang seharusnya operasional sekolah hingga pukul 15.00 WIB, kini hanya sampai pukul 12.00 WIB saja.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *