Politik

Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia Turun, Jamiluddin Pertanyakan Efektivitas Jokowi

24
×

Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia Turun, Jamiluddin Pertanyakan Efektivitas Jokowi

Share this article
Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia Turun, Jamiluddin Pertanyakan Efektivitas Jokowi
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga saat menyampaikan pandangan terkait elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia.(Sudutkota.id/Dok. Pribadi)

JAKARTA, Sudutkota.id – Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berada di angka 2,3 persen dalam survei terbaru Poltracking Indonesia.

Angka itu lebih rendah dibanding perolehan suara PSI pada Pemilu 2024 yang mencapai 4.260.169 suara atau 2,81 persen suara nasional. Survei Poltracking dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 terhadap 1.220 responden di 38 provinsi.

Hasil tersebut menjadi sorotan karena PSI sebelumnya berharap keterlibatan Joko Widodo dalam sejumlah kegiatan di daerah dapat membantu mendongkrak elektabilitas partai. Namun, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai hasil survei tersebut menunjukkan bahwa dukungan dari figur eksternal belum tentu langsung berubah menjadi tambahan suara bagi partai.

Menurut Jamiluddin, efektivitas endorsement politik sangat bergantung pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap figur yang memberikan dukungan. Ia menilai persepsi sebagian masyarakat terhadap Jokowi telah berubah akibat berbagai kontroversi yang muncul setelah masa kepresidenannya, sehingga pengaruh politiknya terhadap elektabilitas PSI dinilai tidak lagi sekuat yang diharapkan.

“Masalahnya Jokowi di mata sebagian masyarakat Indonesia bukan lagi sosok yang kredibel dan berintegritas. Jokowi justru dinilai sosok kontroversial,” kata Jamiluddin dalam keterangannya, pada Kamis (24/9/2026).

Jamiluddin juga menilai persoalan PSI tidak semata berada pada faktor Jokowi. Menurutnya, partai tersebut masih menghadapi tantangan dari sisi figur internal, termasuk Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep dan Ketua Harian PSI Ahmad Ali yang dinilainya belum memiliki akar rumput kuat dan kompetitif. Ia menilai kondisi tersebut membuat PSI membutuhkan mesin politik yang lebih kuat, terutama di tingkat daerah.

“Selain itu, penyebab rendahnya elektoral PSI juga disebabkan figur petinggi PSI yang lemah. Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep dan Ketua Harian PSI Ahmad Ali bukanlah figur yang memiliki akar rumput yang kuat dan kompetitif,” ujarnya.

Menurut Jamiluddin, persoalan figur tersebut juga terlihat dari lemahnya gaung tokoh PSI di tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota. Ia menilai kombinasi antara ketergantungan pada endorsement figur eksternal dan belum kuatnya figur internal menjadi tantangan PSI untuk meningkatkan dukungan politiknya.

“Jadi, petinggi PSI mulai dari pusat hingga ke daerah praktis tak punya nilai jual politik. Hal ini kiranya membuat PSI semakin sulit mendongkrak elektabilitas partainya,” pungkas Jamiluddin.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *