Politik

Said Abdullah Tekankan Pengabdian PDIP kepada Rakyat di Penyaluran 1000 Sembako

8
×

Said Abdullah Tekankan Pengabdian PDIP kepada Rakyat di Penyaluran 1000 Sembako

Share this article
Said Abdullah Tekankan Pengabdian PDIP kepada Rakyat di Penyaluran 1000 Sembako
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah saat memberikan tapi asih di kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang. (foto: sudutkota.id/pungky)

MALANG, Sudutkota.id– Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan bahwa rakyat merupakan pemilik kehormatan tertinggi dalam kehidupan politik.

Maka dari itu, ia meminta seluruh kader partai, mulai dari anggota legislatif hingga jajaran pengurus, tidak berjarak dengan masyarakat dan senantiasa hadir untuk mendengar serta memperjuangkan kebutuhan mereka.

Pesan tersebut disampaikan Said saat memimpin kegiatan bakti sosial bertajuk Pertalian Cinta DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bersama Masyarakat Kabupaten Malang di halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Desa Mojosari, Kecamatan Kepanjen, Jumat (9/10).

Kegiatan ini sekaligus dirangkai dengan konsolidasi organisasi yang melibatkan pengurus Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kabupaten Malang.

Said yang juga menjabat Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI periode 2024–2029 itu menilai, keberlangsungan partai politik sangat ditentukan oleh kepercayaan dan kedekatan dengan masyarakat.

Jabatan politik yang diperoleh melalui pemilihan, menurutnya, tidak boleh membuat kader merasa lebih terhormat daripada rakyat yang memberikan kepercayaan.

“Partai itu eksistensinya ditentukan oleh masyarakat. Karena itu, anggota DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, maupun seluruh struktur partai harus menyadari bahwa pemilik kehormatan yang utama adalah rakyat,” ungkap Said.

Ia mengingatkan, pengabdian kepada masyarakat tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial atau bantuan materi. Kader harus membangun komunikasi secara langsung, membuka ruang dialog, serta bersedia mendengarkan persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Mereka membutuhkan sentuhan, diajak bicara, dan didengarkan keluhannya. Ketika keluhan itu benar-benar didengar, akan ada kesan mendalam yang membekas di hati masyarakat,” ujarnya.

Menurut Said, kehadiran kader harus benar-benar dirasakan manfaatnya, terutama oleh masyarakat yang membutuhkan perhatian dan keberpihakan. Kedekatan emosional dengan rakyat, kata dia, merupakan fondasi penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus memperkuat eksistensi partai.

Dalam kegiatan tersebut, Said juga menekankan pentingnya memaknai bantuan sosial sebagai bentuk kepedulian dan ungkapan terima kasih kepada masyarakat, bukan sebagai cara menempatkan rakyat hanya sebagai penerima bantuan.

Ia meminta seluruh kader memahami bahwa pemberian sembako dan santunan merupakan bagian dari upaya merawat hubungan kemanusiaan, khususnya dengan masyarakat dari kelompok ekonomi terbawah.

“Jangan menempatkan rakyat sebagai objek. Ini adalah rasa terima kasih kami kepada masyarakat, sebuah tali asih dan upaya menyambung rasa dengan rakyat, terutama masyarakat pada kelompok desil 1 dan desil 2 yang membutuhkan perhatian,” tuturnya.

Said menjelaskan, istilah tali asih mencerminkan empati dan kepedulian yang harus terus dipelihara. Baginya, kegiatan sosial tidak semata-mata dinilai dari besarnya bantuan yang diberikan, tetapi juga dari ketulusan serta kesinambungan hubungan dengan masyarakat.

Dalam bakti sosial tersebut, DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menyiapkan 1.000 paket sembako bagi kaum Marhaen. Santunan juga diberikan kepada anak-anak yatim. Penyerahan tali asih dilakukan secara simbolis kepada 300 penerima dari total alokasi 1.000 paket, disertai pemberian uang tunai.

Selain menyoroti pentingnya kedekatan dengan masyarakat, Said mengingatkan seluruh kader agar menjaga kekompakan dan tidak terjebak dalam konflik internal. Menurutnya, pertikaian, fitnah, serta pembentukan kelompok-kelompok di dalam partai dapat menggerus kepercayaan publik dan melemahkan organisasi.

“Harus solid. Kalau di dalam partai saling berkelahi, saling memfitnah, bertikai, dan membentuk faksi-faksi, habislah eksistensi partai. Rakyat akan melihat itu, dan hal seperti ini tidak boleh terjadi,” tandasnya.

Ia menambahkan, soliditas tidak boleh hanya dianggap sebagai kondisi yang sudah tercapai, lalu membuat kader terlena. Sebaliknya, kekompakan harus terus dirawat melalui komunikasi, saling mengingatkan, dan kepatuhan terhadap arahan organisasi.

“Jangan sampai karena merasa sudah solid, kita kemudian merasa nyaman dan aman, lalu lupa menjaga serta mengingatkan satu sama lain. Soliditas adalah modal yang paling pokok bagi partai,” ucapnya.

Said mengaku terus mengingatkan pentingnya menjaga persatuan kader dalam berbagai kesempatan, termasuk saat melakukan kunjungan ke Banyuwangi dan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, yang akrab disapa Sam Didik, menyampaikan bahwa kegiatan Pertalian Cinta merupakan wujud kepedulian partai terhadap masyarakat, khususnya kelompok yang membutuhkan dukungan.

Menurutnya, bakti sosial tidak boleh berhenti pada pembagian bantuan, tetapi harus menjadi sarana memperkuat kebersamaan dan menghidupkan semangat gotong royong.

“Bagi kami, bakti sosial bukan sekadar membagikan bantuan. Ini merupakan ikhtiar untuk merawat kebersamaan dan memastikan semangat gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat. Kaum Marhaen dan anak-anak yatim menjadi bagian penting dari perhatian kami,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan Pertalian Cinta juga ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Gedung Serba Guna Dr. (H.C.) Hj. Puan Maharani. Pembangunan sarana tersebut menjadi bagian dari agenda kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada kepedulian sosial, tetapi juga penguatan fasilitas bagi masyarakat.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Abdul Qodir, yang akrab disapa Adeng, menilai Pertalian Cinta memiliki makna lebih luas daripada sekadar tema kegiatan sosial. Menurutnya, kegiatan tersebut mencerminkan perjuangan yang berangkat dari ketulusan dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Politisi yang juga menjabat Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang itu mengatakan, semangat tersebut sejalan dengan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengenai pentingnya keberpihakan kepada masyarakat kecil.

“Pertalian Cinta adalah tentang bagaimana perjuangan menemukan wajah kemanusiaannya. Saya melihat nilai itu tercermin dalam karakter kepemimpinan Buya Said Abdullah yang konsisten berbuat dengan tulus dan penuh perhatian kepada sesama. Bagi kami, cinta bukan sekadar kata, melainkan kesediaan untuk hadir, peduli, dan berbagi,” tutur Adeng.

Ia menegaskan, ideologi partai harus diwujudkan melalui tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Nilai perjuangan, kata dia, tidak cukup disampaikan melalui pidato atau slogan politik, tetapi harus hadir dalam kegiatan yang memberikan manfaat nyata.

“Ideologi tidak cukup hanya diucapkan di mimbar, tetapi harus hidup dalam tindakan. Ketika kaum Marhaen diperhatikan, anak yatim disantuni, dan sarana pendidikan dibangun, di situlah nilai perjuangan diterjemahkan menjadi pengabdian nyata. Kira-kira itulah pesan moral dari kegiatan hari ini yang hendak disampaikan Buya kepada kami di bawah,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *