Daerah

BRIN Bongkar Potensi Tersembunyi Malang, Kuliner Lokal Dibidik Jadi Penggerak Pariwisata

32
×

BRIN Bongkar Potensi Tersembunyi Malang, Kuliner Lokal Dibidik Jadi Penggerak Pariwisata

Share this article
BRIN Bongkar Potensi Tersembunyi Malang, Kuliner Lokal Dibidik Jadi Penggerak Pariwisata
Dekan FISIP UNITRI Dr. Agung Suprojo, S.Kom., M.AP., saat memberikan pemaparan dalam FGD bersama tim BRIN terkait pengembangan pariwisata gastronomi berkelanjutan di Malang.(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Kota Malang tidak lagi hanya dipandang sebagai kota pendidikan atau sekadar daerah persinggahan menuju berbagai destinasi wisata di Malang Raya.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai membidik potensi lain yang dinilai mampu menjadi kekuatan baru pariwisata, yakni gastronomi berbasis kekayaan lokal dan rantai pangan masyarakat.

Potensi tersebut kini tengah dipetakan melalui riset kolaboratif BRIN bersama Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang. Fokusnya tidak sekadar mencari makanan khas, tetapi bagaimana kuliner, sejarah, budaya, pertanian, pelaku UMKM hingga sektor perhotelan dapat dirangkai menjadi ekosistem wisata yang berkelanjutan.

Pembahasan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengumpulan Data yang digelar BRIN di UNITRI, Rabu (26/8/2026).

Riset tersebut merupakan bagian dari kajian Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri (PRPDN), Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, dengan tema “Model Tata Kelola Kolaboratif untuk Pengembangan Pariwisata Gastronomi Berkelanjutan yang Memperkuat Rantai Pangan Lokal.”

BRIN Bongkar Potensi Tersembunyi Malang, Kuliner Lokal Dibidik Jadi Penggerak Pariwisata
Dekan FISIP UNITRI Dr. Agung Suprojo, S.Kom., M.AP., bersama Ketua Tim Riset BRIN Suci Emilia Fitri, MPA, dan tim lainnya berfoto bersama usai pelaksanaan FGD pengumpulan data terkait pengembangan pariwisata gastronomi berkelanjutan di Malang.(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

Ketua Tim Riset BRIN, Suci Emilia Fitri, MPA, menjelaskan bahwa Malang dipilih karena memiliki posisi strategis dalam kawasan Malang Raya. Kota Malang berada di antara Kabupaten Malang dan Kota Batu, sehingga memiliki peluang besar berkembang sebagai kota transit sekaligus pusat pariwisata perkotaan.

Menurutnya, tim BRIN sebelumnya selama sekitar tiga tahun banyak melakukan riset di Lombok. Dalam perkembangannya, Kota Malang dinilai memiliki potensi yang tidak kalah menarik untuk dikaji, khususnya dari sisi gastronomi.

“Malang ini kita analogikan sebagai kota transit dan akan berkembang pariwisata perkotaannya,” kata Suci.

Pemilihan gastronomi sebagai fokus riset juga berkaitan dengan besarnya perputaran ekonomi wisatawan pada sektor kuliner. Suci menyebut sekitar 70 persen pengeluaran wisatawan berkaitan dengan konsumsi kuliner.

Kondisi itu, menurut dia, menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar pelengkap perjalanan wisata, melainkan dapat menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi masyarakat.

“Kenapa kita angkat gastronomi? Karena 70 persen dari biaya yang dikeluarkan oleh wisatawan itu adalah untuk kuliner. Kami melihat ada potensi pengembangan ekonomi masyarakat di sini,” ujarnya.

BRIN kemudian menggandeng UNITRI untuk memperkuat riset dari perspektif akademis. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan konsep yang nantinya dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.

Suci berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Riset tersebut diharapkan dapat memberikan masukan bagi Pemerintah Kota Malang dalam menyusun program maupun kebijakan pengembangan pariwisata.

Di sisi lain, hasil penelitian juga diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan di perguruan tinggi serta menjadi rujukan bagi penelitian lanjutan maupun penerapan konsep serupa di daerah lain.

Sementara itu, Dekan FISIP UNITRI, Dr. Agung Suprojo, S.Kom., M.AP., mengatakan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman antara BRIN dengan FISIP UNITRI.

Ia menjelaskan, penelitian tahun ini diarahkan pada bidang humaniora dengan menggali potensi yang benar-benar tumbuh dan memiliki karakter lokal di wilayah Malang Raya. Namun, tahap pertama penelitian difokuskan terlebih dahulu pada Kota Malang.

“Humaniora itu di dalamnya menggali potensi yang memang orisinil ada di wilayah Malang Raya. Memang tahap pertama kita fokus pada potensi di Kota Malang,” terang Agung.

Menurut Agung, konsep gastronomi yang sedang dikembangkan jauh lebih luas dibanding sekadar makanan khas. Di dalamnya terdapat sejarah, cerita, budaya, pertanian, proses produksi hingga kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari identitas suatu daerah.

Karena Kota Malang diposisikan sebagai kota transit wisata, maka tantangannya adalah bagaimana wisatawan yang hanya singgah tetap memperoleh pengalaman khas Malang.

Salah satu gagasan yang muncul adalah memasukkan kuliner lokal ke dalam layanan hotel, termasuk hotel berbintang.

Makanan seperti orem-orem, rujak dan es santen, misalnya, tidak lagi sekadar dipandang sebagai makanan sehari-hari. Kuliner tersebut dapat dikemas sebagai sajian khas bagi wisatawan sekaligus dilengkapi narasi mengenai sejarah dan asal-usulnya.

“Orang berkunjung ke Malang, transit tinggal di Malang, dengan membayar biaya per hotelnya itu, sudah ada konsumsi yang khas Malang. Kemudian di tiap hotel itu juga bercerita tentang makanan itu, riwayatnya apa,” jelas Agung.

Gagasan tersebut dinilai memiliki efek berantai terhadap perekonomian masyarakat.

Ketika makanan lokal masuk ke dalam rantai industri pariwisata, pelaku usaha kecil yang selama ini memproduksi orem-orem, rujak, minuman tradisional maupun makanan khas lainnya memiliki peluang memperluas pasar.

Kuliner rakyat tidak lagi berhenti sebagai konsumsi harian, tetapi dapat berubah menjadi produk wisata yang memiliki nilai ekonomi dan cerita budaya.

“Tidak sebagai makanan sajian sehari-hari, tetapi sebagai sajian wisata di hotel-hotel itu,” tegasnya.

Tidak hanya kuliner, tim juga akan menggali potensi sektor pertanian dan ekonomi masyarakat yang dapat diintegrasikan dengan pariwisata. Sejumlah potensi yang muncul antara lain wisata petik sayur, petik buah, petik bunga, pengolahan keripik serta berbagai bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.

FISIP UNITRI juga memiliki jaringan mitra yang akan dilibatkan dalam penggalian data, termasuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), kelompok pemberdayaan ekonomi dan pelaku usaha di kawasan Malang Raya.

Namun, Agung menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menemukan potensi lokal. Yang jauh lebih penting adalah membangun model tata kelola yang mampu menghubungkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha dan masyarakat.

Karena itu, hasil riset BRIN diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang lebih konkret bagi pembangunan pariwisata di tiga wilayah Malang Raya, yakni Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu.

“Luaran dari penelitiannya itu adalah rekomendasi untuk visi-misi Kota Malang, Kabupaten Malang maupun Kota Batu berselaraskan menjadikan wilayah Malang Raya ini wisata yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Riset tersebut tidak dirancang hanya untuk satu tahun. Tahun pertama difokuskan pada Kota Malang sebagai kota transit dan pusat pariwisata perkotaan.

Selanjutnya, kajian akan diperluas ke Kota Batu dan Kabupaten Malang. Dalam kurun waktu empat tahun penelitian, BRIN dan mitra akademiknya menargetkan lahirnya formulasi pengembangan pariwisata Malang Raya yang lebih terintegrasi.

Jika konsep tersebut berhasil diterjemahkan menjadi kebijakan, maka kekuatan pariwisata Malang tidak lagi hanya bertumpu pada destinasi wisata. Makanan lokal, sejarah, budaya, pertanian dan pelaku ekonomi masyarakat dapat menjadi satu kesatuan produk wisata.

Di titik inilah riset BRIN bersama UNITRI menjadi penting. Sebab, persoalan Malang bukan kekurangan potensi, melainkan bagaimana potensi yang sudah ada tersebut dikemas, dihubungkan dan diberi nilai tambah sehingga mampu memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat.

Dengan demikian, orem-orem, rujak, es santen dan beragam produk lokal lainnya bukan sekadar warisan kuliner, tetapi berpeluang menjadi bagian dari identitas pariwisata Malang yang memiliki daya jual sekaligus menjaga karakter lokal.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *