Daerah

Ayam Kampung Jadi Potensi Baru Blora, DP4 Gandeng UGM Siapkan Pengembangan Peternak

21
×

Ayam Kampung Jadi Potensi Baru Blora, DP4 Gandeng UGM Siapkan Pengembangan Peternak

Share this article
Ayam Kampung Jadi Potensi Baru Blora, DP4 Gandeng UGM Siapkan Pengembangan Peternak
Kepala Dinas DP4 Blora, Ngaliman (kiri), bersama dengan Sekretaris Dinas DP4, Lilik Setyawan (Kanan).(Foto:sudutkota.id/Farros)

BLORA, Sudutkota.idPemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) mulai menyiapkan program pengembangan ayam kampung sebagai salah satu potensi usaha peternakan sekaligus upaya meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kepala DP4 Kabupaten Blora, Ngaliman, mengatakan program tersebut merupakan gagasan Bupati Blora Arief Rohman. DP4 diminta menindaklanjuti arahan tersebut dengan menyiapkan konsep pengembangan ayam kampung di Kabupaten Blora bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Berkaitan dengan program ayam kampung ini memang idenya Bapak Bupati Arief Rohman luar biasa. Bagaimana arahan dari Pak Bupati ini kemudian kami tindak lanjuti, salah satunya dengan menyiapkan konsep pengembangan ayam kampung,” kata Ngaliman, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, pengembangan tersebut nantinya difokuskan pada ayam kampung jenis pedaging. Kerja sama dengan UGM juga telah mulai dilakukan, ditandai dengan kedatangan profesor dari perguruan tinggi tersebut dalam rangka membahas pengembangan ayam kampung.

Sementara itu, Sekretaris DP4 Blora, Lilik Setyawan, mengatakan pengembangan ayam kampung dinilai memiliki peluang karena kebutuhan pasar di Blora cukup besar.

Menurut Lilik, sejumlah kuliner khas Blora menggunakan ayam kampung sebagai bahan baku. Namun, kebutuhan tersebut selama ini masih didatangkan dari luar daerah.

“Di Blora itu kuliner-kulinernya kan beberapa memang yang khas menggunakan ayam kampung, misalnya opor. Ternyata kuliner itu mengambil ayam kampung dari luar daerah,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Lilik, menjadi peluang bagi Blora untuk membangun sektor peternakan ayam kampung dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, kebutuhan bahan baku untuk kuliner lokal diharapkan dapat dipenuhi dari peternak di daerah sendiri.

Tahap awal, DP4 akan melakukan identifikasi terhadap peternak ayam kampung yang telah ada di Kabupaten Blora. Peternak akan dipetakan berdasarkan skala usaha, mulai dari peternak pemula, peternak kecil, hingga peternak yang sudah berkembang.

“Ini awal-awal kita identifikasi peternak-peternak ayam kampung yang sudah ada di Blora. Kemudian nanti dilakukan FGD, kira-kira di sisi mana pengembangannya bisa dilakukan,” ujarnya.

Lilik mengatakan konsep program tidak akan dibuat dengan satu pola untuk seluruh peternak. Bentuk bantuan maupun pengembangan akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing peternak.

Peternak pemula, misalnya, dapat diarahkan untuk mendapatkan dukungan berbeda dengan peternak yang sudah memiliki usaha lebih besar. Bahkan, program tersebut terbuka untuk dikembangkan menjadi peluang usaha bagi generasi muda maupun ibu rumah tangga.

“Bisa jadi nanti peternak milenial, anak-anak muda yang ingin punya usaha di bidang pertanian. Bahkan ada juga ibu-ibu, karena peternakan banyak yang rumahan,” katanya.

Namun, Lilik menegaskan penerima manfaat maupun bentuk bantuan belum ditentukan. DP4 masih akan melakukan identifikasi dan kajian untuk menentukan pola pengembangan yang paling tepat.

Selain pengembangan di sisi peternak, DP4 juga melihat potensi pengembangan rantai usaha hingga pemasaran dan kuliner yang menggunakan ayam kampung sebagai bahan baku.

Untuk sumber pendanaan, DP4 masih dalam tahap penjajakan. Salah satu opsi yang disiapkan adalah mengajukan dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Lilik menyebut pada 2025 pihaknya berhasil mendapatkan dukungan CSR untuk pengembangan pertanian organik. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar untuk kembali mengusulkan program pengembangan ayam kampung pada 2026.

“Yang CSR tahun 2025 itu berhasil untuk pertanian organik. Nah ini kita ajukan yang 2026. Memang belum mengajukan, salah satunya kita pakai tema pengentasan kemiskinan,” ungkapnya.

Menurutnya, program ayam kampung dinilai relevan dengan tema pengentasan kemiskinan karena apabila konsep pengembangannya tepat, peternakan tersebut dapat menjadi sumber tambahan pendapatan masyarakat.

Meski demikian, rencana pengajuan CSR senilai sekitar Rp1 miliar tersebut saat ini belum masuk ke DP4. Anggaran itu masih dalam tahap rencana pengajuan dan belum dapat dipastikan terealisasi.

“Kita belum sampai di DP4, baru mau mengajukan,” tandas Lilik.

DP4 berharap melalui pemetaan potensi, pendampingan, serta dukungan pembiayaan yang tepat, pengembangan ayam kampung tidak hanya meningkatkan produksi peternak, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal dan menggerakkan ekonomi masyarakat Blora.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *