Sudutkota.id – Calon Ketua Umum PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin memilih mendengar dan menyerap aspirasi pengurus NU di berbagai daerah menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam agenda silaturahmi ke sejumlah wilayah, Gus Rozin bertemu dengan pengurus NU mulai dari Bengkulu, Yogyakarta, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur hingga Madura.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Rozin memberikan ruang kepada pengurus NU untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, kritik hingga harapan terkait kondisi dan masa depan organisasi.
Gus Rozin tak selalu menjadi sosok yang paling banyak berbicara. Dia lebih sering menyimak pembicaraan peserta forum, memberikan tanggapan seperlunya, sekaligus mencatat sejumlah masukan yang dinilai penting.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komunikasi Gus Rozin dengan pengurus NU di daerah menjelang kontestasi Ketua Umum PBNU.
Dia memilih mendengar persoalan di tingkat bawah sebelum menawarkan gagasan mengenai arah organisasi. Setiap daerah yang dikunjungi memiliki persoalan dan karakter yang berbeda.
Masalah yang disampaikan antara lain penguatan struktur organisasi, pesantren, kaderisasi, ekonomi jamaah, kemandirian organisasi hingga hubungan NU dengan pemerintah dan masyarakat.
Dari berbagai pertemuan itu, muncul harapan agar suara pengurus dan jamaah di tingkat bawah mendapat ruang lebih besar dalam menentukan arah kebijakan organisasi.
Gus Rozin menilai kekuatan NU tidak hanya berada di tingkat pusat. Menurutnya, penguatan harus dilakukan mulai dari cabang, pesantren, kader hingga jamaah sebagai basis utama organisasi.
“NU tidak akan besar kalau yang kuat hanya PBNU. Yang harus kita kuatkan justru cabang-cabangnya, pesantrennya, jamaahnya. Kalau mereka kuat, dengan sendirinya NU juga akan kuat,” kata Gus Rozin, Rabu (26/8/2026).
Menurut Gus Rozin, kondisi NU di setiap daerah tidak bisa disamaratakan. Masing-masing wilayah memiliki tantangan sosial, ekonomi, pendidikan dan kebutuhan organisasi yang berbeda.
“Karena itu, komunikasi langsung dengan pengurus daerah penting untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh sebelum merumuskan kebijakan di tingkat pusat,” tuturnya.
Kebiasaan mencatat juga terlihat dalam sejumlah pertemuan Gus Rozin dengan pengurus NU di daerah. Berbagai masukan yang disampaikan peserta forum menjadi bahan untuk memahami persoalan organisasi dari tingkat bawah.
Tidak semua persoalan langsung mendapatkan jawaban dalam forum. Sebagian masukan membutuhkan pembahasan lebih lanjut dan menjadi bahan dalam menyusun gagasan mengenai arah NU ke depan.
“NU memiliki struktur organisasi yang luas, mulai dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting. Organisasi ini juga diperkuat jaringan pesantren, lembaga pendidikan, badan otonom dan jamaah,” paparnya.
Kondisi NU di Bengkulu, misalnya, tidak selalu sama dengan Yogyakarta. Begitu juga kebutuhan warga NU di Kalimantan dapat berbeda dengan Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur maupun Madura.
Keragaman tersebut membuat pemimpin NU membutuhkan pemahaman terhadap persoalan di lapangan. Masukan dari daerah kemudian perlu diterjemahkan menjadi gagasan, kebijakan dan pelayanan bagi jamaah.
Kemampuan menyampaikan visi menjadi salah satu modal dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Namun, kemampuan mendengarkan juga dinilai penting untuk memahami persoalan organisasi yang memiliki basis massa luas.
Suara NU datang dari berbagai kelompok, mulai dari kiai dan pengasuh pesantren, pengurus cabang, kader muda, lembaga pendidikan hingga jamaah.
Karena itu, komunikasi langsung dengan pengurus daerah menjadi salah satu cara untuk mengetahui persoalan yang dihadapi warga NU.
Rangkaian perjalanan Gus Rozin ke Bengkulu, Yogyakarta, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur hingga Madura memperlihatkan pola komunikasi yang sama, yakni bertemu, berdialog, mendengarkan dan mencatat masukan.
Muktamar ke-35 NU nantinya tidak hanya menentukan sosok yang dipercaya memimpin PBNU, tetapi juga arah organisasi dalam menghadapi berbagai perubahan.
Di tengah tuntutan agar NU semakin kuat secara nasional, penguatan basis organisasi di tingkat daerah dan jamaah tetap menjadi bagian penting.
Bagi Gus Rozin, perjalanan menuju Muktamar ke-35 NU dimulai dengan mendengarkan aspirasi pengurus dan jamaah dari berbagai daerah. Masukan tersebut kemudian menjadi bahan untuk merumuskan gagasan mengenai masa depan NU.




















