Daerah

Wahyu Hidayat Tekankan Kampus Harus Jadi Mitra Pemkot, Bukan Sekadar Penonton Pembangunan

36
×

Wahyu Hidayat Tekankan Kampus Harus Jadi Mitra Pemkot, Bukan Sekadar Penonton Pembangunan

Share this article
Wahyu Hidayat Tekankan Kampus Harus Jadi Mitra Pemkot, Bukan Sekadar Penonton Pembangunan
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat bersama jajaran Pemkot Malang, LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur dan pimpinan perguruan tinggi swasta berfoto bersama usai penandatanganan kesepakatan kerja sama peningkatan kualitas SDM dan penguatan program Ngalam Pinter di Ruang Sidang Balai Kota Malang,(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menegaskan perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan daerah.

Kampus harus tampil sebagai mitra strategis Pemerintah Kota Malang untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Pernyataan itu disampaikan Wahyu saat menghadiri penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemkot Malang, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur dan perguruan tinggi swasta (PTS), di Ruang Sidang Balai Kota Malang, Rabu (19/8/2026).

Menurut Wahyu, Kota Malang memiliki kekuatan besar karena ditopang ekosistem pendidikan tinggi. Potensi tersebut harus dikoneksikan dengan program pembangunan pemerintah agar manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

“Kami menginginkan Kota Malang ini tidak hanya sebagai penonton, tetapi ikut bersama-sama ada tanggung jawab dan kewajiban untuk menjawab tantangannya, yaitu bersama-sama meningkatkan kualitas SDM di wilayah Kota Malang,” tegas Wahyu.

Ia menyebut peningkatan kualitas pendidikan merupakan bagian penting dari kolaborasi Pemkot Malang dengan perguruan tinggi. Salah satu bentuk kontribusi yang telah berjalan adalah pemberian beasiswa kepada warga Kota Malang.

Wahyu berharap perhatian tersebut terus diperluas. Perguruan tinggi yang berada dan berkembang di Kota Malang dinilai memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Karena masyarakat yang tinggal dan hidup serta bekerja di Kota Malang harus diberikan sesuatu yang terbaik,” ujarnya.

Wahyu menegaskan kerja sama dengan PTS tidak boleh berhenti pada penandatanganan dokumen. Pemkot akan menghubungkan kompetensi masing-masing perguruan tinggi dengan program pembangunan yang telah ditetapkan dalam RPJMD maupun program prioritas tahunan dalam RKPD.

Artinya, bidang keilmuan dan program studi yang dimiliki perguruan tinggi akan disesuaikan dengan kebutuhan pemerintah daerah.

“Kita akan melihat perguruan tingginya, spesialisasi atau program studinya apa, lalu kita hubungkan dengan program dan kegiatan yang ada di Pemkot Malang. Ini yang akan kita kerjasamakan,” jelasnya.

Keterlibatan tersebut nantinya tidak hanya dosen. Mahasiswa juga berpeluang dilibatkan sesuai kebutuhan program dan karakter kerja sama masing-masing perguruan tinggi.

Bagi Wahyu, pola ini merupakan bagian dari konsep pentahelix yang menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu kekuatan penting dalam pembangunan daerah.

Ia bahkan mengakui Pemkot Malang tidak akan mampu menjalankan pemerintahan secara optimal tanpa dukungan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.

“Pemerintah Kota Malang tidak akan bisa berjalan dan berhasil dalam menjalankan pemerintahan apabila tidak ada dukungan dari perguruan tinggi,” katanya.

Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat program Ngalam Pinter, terutama dalam memperluas kesempatan masyarakat Kota Malang mendapatkan pendidikan tinggi.

Wahyu mendorong perguruan tinggi swasta memberikan beasiswa sesuai kemampuan masing-masing. Dengan demikian, kerja sama tidak sekadar menghasilkan kegiatan administratif, tetapi memiliki manfaat langsung bagi warga.

Pemkot Malang juga akan mendorong kolaborasi dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sehingga kampus dapat mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan pembangunan.

Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., menilai langkah Pemkot Malang membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan peluang besar untuk membangun SDM unggul.

Dyah menyebut terdapat sekitar 44 perguruan tinggi di Kota Malang. Sebanyak 19 perguruan tinggi hadir dalam agenda penandatanganan kesepakatan tersebut, sementara kerja sama dengan perguruan tinggi lainnya telah berjalan.

Ia berharap seluruh perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui konsep Kampus Berdampak.

“Insya Allah semuanya berkontribusi untuk mewujudkan Ngalam Pinter melalui Kampus Berdampak,” kata Dyah.

Menurutnya, kontribusi perguruan tinggi harus diwujudkan secara nyata melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam bidang pendidikan, perguruan tinggi didorong memperluas akses beasiswa bagi warga Kota Malang. Dyah berharap masing-masing PTS dapat memberikan beasiswa sesuai kapasitasnya.

Sementara melalui KIP Kuliah, ia menyebut sudah ada lebih dari 2.000 penerima dari masyarakat Kota Malang yang mendapatkan dukungan pembiayaan pendidikan.

“Kalau KIP Kuliah sendiri di Kota Malang, kita hampir 2.000 lebih untuk masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.

Tak hanya beasiswa, Dyah juga mendorong hasil penelitian kampus agar tidak berhenti menjadi produk akademik. Riset diharapkan dapat dihilirkan dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Penelitiannya harapannya hilirisasi nanti produk-produk di Kota Malang ini bisa menjadi ladang emas untuk welfare masyarakat di Kota Malang,” ujarnya.

Dyah juga menyampaikan harapan agar perguruan tinggi memberi perhatian kepada putra-putri asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menempuh pendidikan di Kota Malang melalui peluang beasiswa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *