Sudutkota.id – Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita menilai Bari’an Anak Nusantara ke-5 memiliki pesan penting yang tidak boleh berhenti sebatas kegiatan budaya tahunan. Di tengah keberagaman masyarakat, kegiatan tersebut dinilai menjadi ruang nyata untuk menanamkan nilai toleransi, kecintaan terhadap budaya dan semangat persatuan kepada anak-anak sejak dini.
Hal itu disampaikan Amithya saat menghadiri Bari’an Anak Nusantara ke-5 di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Minggu (16/8) sore.
Menurut Miya, sapaan Amithya, mayoritas peserta merupakan anak-anak yang hadir bersama orang tua. Kondisi tersebut justru menjadi kekuatan kegiatan karena pesan toleransi dan kebangsaan tidak hanya diterima anak, tetapi juga dapat diteruskan dalam lingkungan keluarga.
“Pesertanya mayoritas anak-anak, kemudian ada orang tua yang mendampingi juga. Di sini kita juga menyampaikan pesan kepada orang tua, sebetulnya kegiatan luar bersama ini sangat penting,” ujar Miya.
Ia menilai ruang publik seperti Alun-Alun Merdeka tidak seharusnya hanya menjadi tempat rekreasi. Ruang tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat membangun interaksi sosial dan mengenalkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda.
“Apalagi di Alun-Alun Kota Malang ini kan menyenangkan untuk digunakan bersama-sama,” kata politisi PDI Perjuangan Kota Malang itu.
Amithya menegaskan, substansi Bari’an Anak Nusantara terletak pada bagaimana anak-anak diperkenalkan dengan budaya sekaligus diajak memahami realitas keberagaman yang ada di sekeliling mereka.
“Acara ini sangat penting dalam rangkaian untuk mengantarkan nilai-nilai budaya, melestarikannya, kemudian juga mengingatkan anak-anak kita bahwa kita ini beragam, tapi kita disatukan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Pesan tersebut dinilai semakin penting di tengah perubahan zaman yang membuat anak-anak semakin dekat dengan dunia digital. Menurut Amithya, pengenalan budaya tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran formal, tetapi harus diberikan melalui pengalaman langsung dan kegiatan bersama.
Karena itu, ia mendorong agar Bari’an Anak Nusantara tidak berhenti pada satu momentum peringatan tertentu. Pemerintah Kota Malang dinilai perlu memberikan dukungan agar kegiatan tersebut dapat terus tumbuh dan menjadi agenda yang konsisten setiap tahun.
“Saya kira ini acara yang patut didukung oleh pemerintah kota dan dilestarikan, dilakukan setiap tahunnya karena memang sangat baik,” ujarnya.
Amithya juga melihat adanya peningkatan antusiasme masyarakat dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya. Jumlah peserta yang lebih banyak menunjukkan kegiatan tersebut mulai mendapatkan tempat di kalangan anak-anak dan keluarga.
“Dibanding tahun kemarin, hari ini lebih banyak pesertanya. Berarti kan ini menarik untuk anak-anak kita,” katanya.
Menurutnya, meningkatnya jumlah peserta tidak boleh hanya dilihat sebagai keberhasilan sebuah acara. Hal itu harus menjadi momentum untuk memperkuat substansi kegiatan agar anak-anak Kota Malang mendapatkan ruang yang sehat untuk belajar budaya, berinteraksi dan memahami perbedaan.
Bagi Amithya, menjaga keberagaman tidak cukup hanya dengan slogan. Nilai tersebut harus ditanamkan sejak anak-anak melalui kebiasaan sederhana: berkegiatan bersama, saling mengenal, saling menghormati dan menyadari bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
“Berbeda bukan berarti terpisah. Anak-anak harus memahami bahwa keberagaman adalah bagian dari Indonesia dan kita tetap disatukan oleh NKRI,” pungkasnya.




















