Sudutkota.id – Pesan toleransi dalam Bari’an Anak Nusantara ke-5 di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Minggu (16/8) sore, tidak berhenti pada doa lintas agama. Semangat kebersamaan juga terlihat dalam momen setelah pemotongan tumpeng, ketika anak-anak tampak saling berbagi makanan dalam suasana penuh keakraban.
Momen tersebut menjadi gambaran sederhana bagaimana nilai toleransi dikenalkan sejak dini. Anak-anak dari latar belakang yang beragam tampak berinteraksi dan berbagi makanan satu sama lain, tanpa menjadikan perbedaan sebagai sekat.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai, kebersamaan semacam itu justru menjadi roh utama Bari’an Anak Nusantara. Menurutnya, kegiatan yang telah memasuki pelaksanaan kelima ini bukan sekadar seremoni memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi menjadi ruang untuk mengenalkan sekaligus merawat tradisi dan nilai persatuan.
“Bari’an yang digelar hari ini bukan sekadar menjadi ungkapan rasa syukur dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kita untuk mengenalkan, merawat, dan melestarikan tradisi Bari’an sebagai salah satu kekayaan budaya yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat,” ujar Wahyu.
Ia menegaskan, Bari’an Anak Nusantara ini merupakan kegiatan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dengan konsep yang mempertemukan anak-anak dalam semangat toleransi, keberagaman dan nasionalisme.
“Mungkin ini adalah yang pertama dan satu-satunya yang diselenggarakan oleh Kota Malang,” katanya.
Menurut Wahyu, keberagaman yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terpecah. Justru, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk saling mengenal, menghargai dan melengkapi.
“Keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi,” tegasnya.
Karena itu, ia memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan anak-anak. Nilai toleransi, menurut Wahyu, tidak cukup hanya disampaikan melalui pidato, tetapi harus dikenalkan melalui pengalaman dan kebiasaan sejak usia dini.
“Dari sini kita dapat menanamkan kepada anak-anak dan generasi muda Kota Malang tentang pentingnya toleransi, saling menghargai, serta belajar hidup berdampingan di tengah-tengah perbedaan,” ujarnya.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan jati diri di tengah perkembangan zaman. Kemajuan teknologi dan perubahan sosial harus tetap diimbangi dengan kecintaan terhadap budaya serta semangat kebangsaan.
“Jangan sampai kemajuan zaman membuat kita kehilangan jati diri. Jadikan budaya sebagai akar keberagaman, sebagai kekuatan dan prestasi, sebagai cara kalian melanjutkan perjuangan para pahlawan,” pesan Wahyu.
Menurutnya, perjuangan menjaga Indonesia saat ini bukan lagi dengan mengangkat senjata seperti para pahlawan masa lalu. Generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan merawat keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
“Perjuangan tidak terhenti hanya dengan bagaimana kita mempertaruhkan nyawa kepada penjajah dahulu, tetapi bagaimana kita berjuang untuk membela negara kita dengan segala keberagaman, dengan segala perbedaan ini untuk menjadi satu kekuatan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya.
Wahyu berharap semangat yang muncul dari Bari’an Anak Nusantara tidak berakhir ketika acara selesai. Tradisi tersebut harus terus berkembang menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus sarana membangun toleransi secara nyata.
“Kota ini menjadi kota yang semakin kuat bukan karena kita sama, melainkan karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan,” tegasnya.
Rangkaian Bari’an Anak Nusantara ke-5 diisi dengan doa lintas agama dan kepercayaan untuk keselamatan bangsa, pemotongan tumpeng, pentas seni hingga parade lagu nasional. Momen anak-anak berbagi makanan usai pemotongan tumpeng menjadi salah satu gambaran sederhana dari pesan besar kegiatan tersebut: berbeda keyakinan, tetapi tetap bisa duduk bersama, berbagi dan menjaga persaudaraan.




















