Lingkungan Hidup

Pakar Manajemen Bencana UNAIR Ungkap Penyebab Banjir Rob Kalianak dan Solusi Terintegrasinya

15
×

Pakar Manajemen Bencana UNAIR Ungkap Penyebab Banjir Rob Kalianak dan Solusi Terintegrasinya

Share this article
Pakar Manajemen Bencana UNAIR Ungkap Penyebab Banjir Rob Kalianak dan Solusi Terintegrasinya
Dosen Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Dr Hijrah Saputra ST M Sc.(foto:sudutkota.id/Humas Unair)

Sudutkota.id – Genangan air laut yang meluap ke daratan kembali menerjang kawasan Kalianak, Surabaya Barat dan Timur. Puncaknya terjadi pada 12 hingga 18 Juli 2026.

Peristiwa ini kembali menyorot kerentanan wilayah pesisir Surabaya terhadap banjir rob.

Dr Hijrah Saputra ST M Sc, dosen Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, menjelaskan fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari siklus alam.

“Banjir rob di Kalianak adalah fenomena pasang surut air laut yang dipengaruhi gravitasi bulan dan matahari. Karena lokasinya berada di muara atau zona merah, wajar jika saat pasang terjadi genangan,” ujar Hijrah, Kamis (23/7/2026).

Menurut Hijrah, ada 3 faktor utama yang membuat rob di Kalianak semakin parah:

1. Kenaikan Muka Air Laut Akibat Pemanasan Global

Perubahan iklim memicu kenaikan muka laut rata-rata 0,3 – 0,6 cm per tahun. Akumulasi ini membuat air pasang semakin tinggi dari tahun ke tahun.

2. Penurunan Muka Tanah atau Land Subsidence

Wilayah Surabaya Timur dan Utara mengalami penurunan tanah. Pemicunya adalah eksploitasi air tanah berlebihan. Ditambah alih fungsi lahan di hulu dan sepanjang pesisir Kalianak yang mengurangi daerah resapan air.

3. Pendangkalan dan Penyempitan Drainase

Saluran drainase mengalami sedimentasi karena endapan pasir, lumpur, dan tanah. Sampah yang dibuang sembarangan juga mempercepat penyempitan saluran.

“Saat ini rob bisa terjadi 5-6 kali dengan ketinggian 30-40 cm. Jika frekuensi dan durasinya terus bertambah, ini jadi ancaman serius,” kata Hijrah.

Untuk menekan dampak, Hijrah mendorong dua pendekatan mitigasi.

Mitigasi Struktural:

  1. Pengerukan dan Revitalisasi Saluran: Dilakukan minimal 2 kali setahun dengan konsep ekodrainase. Perlu juga dibuat zona pengendapan lumpur di hulu.

  2. Perbaikan Tanggul dan Pintu Air: Menggunakan sistem flat gate otomatis yang tertutup saat air laut pasang.

  3. Pembangunan Polder/Kolam Retensi: Di daerah rendah seperti Kalianak untuk menampung limpasan air.

Mitigasi Non-Struktural:

  1. Sistem Peringatan Dini: Berupa sirine atau notifikasi berbasis prediksi pasang surut dan cuaca ekstrem.

  2. Sosialisasi dan Penegakan Aturan: Edukasi masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran. Jika perlu disertai sanksi denda bagi pelanggar.

Hijrah menekankan penanganan rob Kalianak harus terintegrasi karena wilayah ini padat penduduk dan aktivitas ekonomi.

“Jangka pendek, kita perlu pompa dan pintu air yang bekerja adaptif sesuai jadwal pasang. Bisa pakai teknologi IoT dan sensor. Saat air laut naik, pintu otomatis tutup dan pompa aktif menguras genangan ke laut,” jelasnya.

Untuk jangka panjang, ia mengusulkan pembangunan flood wall atau tanggul beton ramah lingkungan sebagai penahan.

“Yang paling krusial tapi sensitif adalah relokasi terencana bagi warga di bantaran saluran zona bahaya tinggi. Ini sulit karena banyak warga sudah puluhan tahun tinggal di sana,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *