Sudutkota.id – Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kota Malang tidak dapat dilakukan secara instan maupun hanya berfokus pada intervensi setelah anak dilahirkan.
Pemerintah menegaskan, pencegahan harus dimulai sejak dini melalui perbaikan status gizi remaja putri, calon pengantin, hingga ibu hamil, dengan salah satu fokus utama menekan prevalensi anemia.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, saat dikonfirmasi, Rabu (17/6/2026).
Menurut Husnul, masih banyak masyarakat yang menganggap anemia sebagai masalah kesehatan ringan. Padahal, kondisi kekurangan hemoglobin (Hb) dalam darah tersebut dapat menjadi pintu masuk berbagai persoalan kesehatan, termasuk meningkatkan risiko lahirnya anak stunting.
“Anemia dan stunting memiliki hubungan yang sangat erat. Kekurangan hemoglobin dapat menghambat pasokan oksigen dan pemanfaatan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh secara optimal. Akibatnya, pertumbuhan fisik maupun perkembangan otak anak bisa terganggu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hemoglobin berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Ketika kadar hemoglobin menurun, distribusi oksigen menjadi tidak optimal sehingga proses metabolisme dan penyerapan nutrisi ikut terganggu.
Pada ibu hamil, kondisi anemia berpotensi menyebabkan berbagai komplikasi, seperti meningkatnya risiko persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), hingga gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan. Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor pemicu stunting.
“Pencegahan stunting harus dimulai bahkan sebelum kehamilan terjadi. Remaja putri harus dipastikan memiliki status gizi yang baik dan bebas anemia agar saat memasuki usia reproduksi mereka siap melahirkan generasi yang sehat,” tegasnya.
Husnul menambahkan, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya. Lebih dari itu, stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis yang berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan kognitif lebih rendah, rentan terserang penyakit, hingga menghadapi hambatan dalam bersaing di dunia pendidikan maupun dunia kerja ketika dewasa.
Karena itu, intervensi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, menjadi fase paling penting dalam upaya pencegahan stunting.
Untuk menekan risiko tersebut, Dinkes Kota Malang mengimbau masyarakat agar disiplin menjalankan langkah-langkah pencegahan, mulai dari pemeriksaan kesehatan rutin, pemenuhan gizi seimbang, hingga kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran tenaga kesehatan.
“Ibu hamil harus rutin memeriksakan kehamilannya, mengonsumsi tablet tambah darah, memenuhi kebutuhan protein hewani, serta memastikan asupan zat besi, asam folat, dan nutrisi penting lainnya tercukupi,” katanya.
Selain itu, edukasi terkait pola makan sehat juga terus digencarkan kepada remaja putri melalui sekolah, posyandu remaja, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurut Husnul, konsumsi makanan kaya zat besi seperti daging, hati, ikan, telur, sayuran hijau, serta kacang-kacangan perlu ditingkatkan untuk mencegah anemia sejak usia muda.
Namun demikian, tantangan terbesar di lapangan masih terletak pada rendahnya kesadaran masyarakat. Tidak sedikit remaja putri maupun ibu hamil yang enggan mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin karena minimnya pemahaman terkait manfaat dan efek jangka panjangnya.
“Pencegahan jauh lebih efektif daripada pengobatan. Dengan kesadaran masyarakat yang semakin baik terhadap pentingnya gizi, pemeriksaan kesehatan rutin, dan pencegahan anemia, kita dapat bersama-sama menurunkan risiko stunting di Kota Malang,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi layanan kesehatan tingkat dasar seperti posyandu, puskesmas, dan kader kesehatan sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dini anemia, memantau tumbuh kembang anak, serta mendampingi ibu hamil.
Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan semata, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pendidikan, sanitasi lingkungan, ketahanan pangan, hingga peran aktif keluarga.
“Keluarga memiliki peran paling penting dalam membentuk pola hidup sehat. Tanpa dukungan keluarga dan partisipasi aktif masyarakat, program pencegahan stunting tidak akan berjalan maksimal,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Husnul berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya anemia semakin meningkat, sehingga upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Kami berharap setiap keluarga di Kota Malang aktif menjaga asupan gizi, rutin memeriksakan kesehatan, dan memanfaatkan layanan posyandu maupun puskesmas. Dengan kerja sama seluruh elemen masyarakat, kita bisa mewujudkan generasi Kota Malang yang sehat, cerdas, tangguh, dan bebas stunting,” pungkasnya.




















