Daerah

Kasatgas MBG: Bupati Fawait Berpihak pada Korban Keracunan, SPPG Direkomendasikan Diberi Sanksi

3
×

Kasatgas MBG: Bupati Fawait Berpihak pada Korban Keracunan, SPPG Direkomendasikan Diberi Sanksi

Share this article
Kasatgas MBG: Bupati Fawait Berpihak pada Korban Keracunan, SPPG Direkomendasikan Diberi Sanksi
Kepala Satgas MBG sekaligus Pj Sekda Jember, Achmad Imam Fauzi pada saat sidak di SPPG Al- Mubarok Kaliwates.(foto:sudutkota.id/adr)

Sudutkota.id – Satgas MBG Jember bergerak cepat menyikapi kejadian 18 anak TK Al Hidayah yang mengalami keracunan setelah menyantap makanan MBG (Makan Bergizi Gratis).

Bahkan, selaku Kepala Satgas MBG, PJ Sekda Jember, Achmad Imam Fauzi langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SPPG Al Mubarok.

Fauzi, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Jember berpihak kepada para korban dan keluarga korban dalam peristiwa tersebut.

“Faktanya ada korban, itu hilirnya, berarti ada sesuatu di hulunya. Tapi bupati berpihak kepada korban, artinya bupati minta maaf kepada korban dan keluarga korban, dan tidak boleh terulang lagi,” ujar Achmad Imam Fauzi saat diwawancarai wartawan sudutkota.id, Kamis pagi (21/5/2026)

Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi evaluasi serius terhadap pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pelaksanaan program MBG di Jember. Ia menilai perlu adanya langkah tegas agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Memang harus ada efek kejut. Hasil diskusi ternyata tidak ada di Jember yang disuspend permanen. Dengan dalih kuota sekian, padahal policy keselamatan itu harus diutamakan, bukan target berapa SPPG,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Satgas yang saat ini melakukan pengawasan hanya memiliki kewenangan memberikan rekomendasi, sedangkan keputusan akhir terkait penghentian operasional berada di tangan pemilik kewenangan.

“Satgas kewenangannya hanya merekomendasikan. Biar analisis satgas bekerja dulu, nanti saya akan rekomendasikan kepada pengampu policy untuk di suspend maupun tidak di suspend,” katanya.

Meski demikian, Imam Fauzi menilai fakta adanya korban sudah cukup menjadi indikator bahwa terdapat persoalan dalam proses pengelolaan MBG.

“Tetapi faktanya sudah ada korban, artinya di hulu ini ada masalah. Dalam konteks ini, biar teknis bekerja, para pihak yang berkaitan bekerja semuanya,” lanjutnya.

Ia juga menegaskan bahwa dugaan keracunan tidak harus selalu menunggu hasil riset panjang untuk dapat dipahami secara logika dasar.

“Meyakini korban ini merupakan korban MBG tidak harus pakai sebuah riset. Jadi in-out, in-nya adalah akibat dari makan, out-nya adalah keracunan,” ujarnya.

Namun demikian, ia tetap meminta agar kajian teknis dan penelitian dilakukan guna memastikan faktor penyebab secara lebih detail.

“Untuk mempresisikan, biarlah dilakukan sebuah riset. Variabel di situ biar dilakukan riset oleh kawan-kawan,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Imam Fauzi juga menyoroti ironi di tengah rencana Kabupaten Jember menjadi pilot project nasional Program MBG.

“Kan malu dan paradoks ketika Kepala BGN ke Jember, Jember akan dijadikan pilot project nasional, paradoksnya ada peristiwa. Dan tidak boleh lagi terjadi peristiwa semacam ini,” katanya.

Ia menilai langkah disiplin terhadap pihak yang lalai perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak menular ke tempat lain.

“Maka di dalam teorinya harus ada satu atau dua atau beberapa yang didisiplinkan. Maka biar tidak menular ke yang lainnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut laporan terkait pengelolaan MBG juga masuk melalui kanal pengaduan “Wadul Gus’e”. Menurutnya, secara umum pengelolaan MBG di Jember berjalan baik, namun tetap terdapat persoalan yang harus segera dibenahi mengingat program tersebut bersifat masif dan menyangkut masyarakat luas.

Saat ditanya wartawan terkait temuan di lapangan, Imam Fauzi mengaku menemukan penempatan tabung gas di area tertutup yang dinilai berisiko terhadap keselamatan.

“Saya menemukan di dalam ada gas di posisi tempat tertutup. Seharusnya gas itu menurut saya di luar. Apapun rasionalisasinya, ketika ada kebocoran gas, pasti akan terjadi peristiwa apapun,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Jember Kaliwates 3, Ahmad Farid Anam, menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dan keluarga atas insiden tersebut.

Ia menegaskan pihaknya telah berupaya melakukan penanganan cepat sejak menerima laporan adanya siswa yang mengalami mual dan muntah.

“Sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya atas musibah yang kami juga tidak menginginkan. Jadi kami dari SPPG sudah semaksimal mungkin,” ujarnya.

Farid menjelaskan, setelah menerima laporan pada sore hari, pihaknya langsung membagi tim untuk melakukan penanganan terhadap para siswa yang terdampak.

“Mulai dari kemarin sore kita dapat laporan, kita langsung menghubungi tim kami untuk membagi tugas. Mulai dari menjemput siswa yang mual muntah di sekolahnya, langsung kita kirim ke RS Kaliwates, ada juga yang kita kirim ke Puskesmas Jember Kidul,” katanya.

Ia menyebut sebagian siswa yang mendapat penanganan di Puskesmas Jember Kidul sudah diperbolehkan menjalani rawat jalan setelah diperiksa dokter.

“Alhamdulillah yang di Jember Kidul sudah ditangani oleh dokter dan dilakukan rawat jalan. Jadi kita dampingi full dari kemarin sore sampai malam kita cross check,” lanjutnya.

Pihak SPPG juga menyatakan bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan korban, khususnya bagi yang tidak menggunakan BPJS.

“Untuk biaya pengobatan yang rawat jalan semuanya, yang tidak memakai BPJS kita cover, administrasi kita selesaikan semuanya sebagai pertanggungjawaban dari kami,” ungkap Farid.

Terkait distribusi makanan, Farid menjelaskan bahwa porsi kecil untuk siswa TK didistribusikan lebih awal karena jam pulang sekolah lebih cepat.

“Jam distribusi kami untuk porsi kecil karena pulang sekolahnya lebih cepat, kita distribusikan di jam 07.30,” jelasnya.

Ia juga memastikan bahwa sebelum distribusi dilakukan, makanan telah melalui uji organoleptik oleh dirinya bersama ahli gizi. Menurutnya, terdapat perbedaan menu antara porsi kecil dan porsi besar.

“Sudah kita cek uji organoleptik oleh saya sendiri dan ahli gizi. Memang porsi ini kita bagi dua, ada porsi besar menggunakan ayam suwir bumbu merah dan porsi kecil ayam suwir bumbu kuning. Jadi yang terdampak ini porsi kecil, yang porsi besar alhamdulillah aman,” terangnya.

Saat ini pihak SPPG masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.

“Kita juga menunggu hasil lab dari Labkesda, dari Reskrim juga tadi sudah mengambil sampel,” ujarnya.

Farid menambahkan, kondisi para siswa yang sempat dirawat kini mulai membaik dan pihaknya terus melakukan pemantauan.

“Terkait kondisi yang ada di rumah sakit, alhamdulillah sudah membaik, sudah mengabari saya juga, tim kami juga sudah ke sana,” pungkasnya.(ADV)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *