Daerah

WCC Malang Dorong Pendidikan Seksualitas Komprehensif, Lindungi Anak dari Bullying dan Tekanan Sosial

13
×

WCC Malang Dorong Pendidikan Seksualitas Komprehensif, Lindungi Anak dari Bullying dan Tekanan Sosial

Share this article
WCC Malang Dorong Pendidikan Seksualitas Komprehensif, Lindungi Anak dari Bullying dan Tekanan Sosial
Peserta dan fasilitator kegiatan Comprehensive Sexuality Education (CSE) berfoto bersama di depan gedung EJSC Kota Malang, usai mengikuti kegiatan edukasi terkait kesehatan seksual dan reproduksi, relasi yang sehat, consent, gender, body image, serta penguatan karakter bagi siswa.(Foto:sudutkota.id/istimewa)

KOTA MALANG, Sudutkota.idWomen’s Crisis Center (WCC) Dian Mutiara Parahita Kota Malang mendorong penguatan perlindungan anak dan remaja melalui program Comprehensive Sexuality Education (CSE) atau Pendidikan Seksualitas Komprehensif, Jumat (14/8/2026).

Program tersebut tidak semata-mata membahas kesehatan reproduksi, tetapi juga diarahkan untuk membekali siswa dengan kemampuan mengenali diri, menjaga batas pribadi, membangun relasi sehat, menghadapi tekanan sosial, mencegah bullying, menjaga kesehatan mental hingga merencanakan masa depan.

Ketua WCC Dian Mutiara Parahita Kota Malang, Sri Wahyuningsih, mengatakan program CSE saat ini telah dilaksanakan bagi siswa jenjang SLTA, dengan dukungan pendanaan dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang.

Menurut Sri, program tersebut selanjutnya akan diperluas kepada siswa SLTP hingga SD. Perluasan sasaran ini dinilai penting karena berbagai persoalan yang dihadapi anak dan remaja membutuhkan penanganan sejak dini.

“Ini kegiatan WCC tentang Comprehensive Sexuality Education (CSE) yang dilakukan WCC dengan dukungan dana dari Dinsos P3AP2KB Kota Malang untuk siswa SLTA. Berikutnya akan dilakukan untuk siswa SLTP dan SD dengan dukungan yang sama,” ujar Sri.

Sri menyoroti persoalan bullying atau perundungan yang masih menjadi salah satu tantangan serius bagi anak dan remaja. Menurutnya, bullying tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai persoalan pergaulan atau konflik biasa di antara siswa.

Dampak yang ditimbulkan dapat berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak sehingga membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih lanjut.

“Banyaknya kasus bullying dan lain-lain mengakibatkan banyak remaja membutuhkan dampingan pemulihan psikologis untuk pemulihan kejiwaan,” jelasnya.

Karena itu, WCC mendorong pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada penanganan setelah kasus terjadi. Edukasi pencegahan, penguatan kemampuan anak untuk melindungi diri, pendampingan dan pemulihan harus dilakukan secara berkelanjutan.

Anak juga perlu mengetahui bahwa ketika menghadapi bullying, kekerasan maupun persoalan lain, mereka memiliki ruang untuk bercerita dan mendapatkan bantuan dari orang dewasa atau pihak yang dipercaya

Dalam pelaksanaannya, WCC menggunakan buku saku “Menjaga Kesehatan Reproduksi dan Merencanakan Masa Depan” untuk siswa SMA.

Materi tersebut menunjukkan bahwa CSE memiliki cakupan yang lebih luas. Dalam buku tersebut tercantum tiga pilar UNESCO, yaitu Sexuality & Sexual Behavior, Sexual & Reproductive Health, serta Skills for Health & Well-being.

Ada 10 pokok utama yang menjadi bagian penting dalam pendidikan tersebut.

Pertama, mengenali diri dan perubahan pada masa remaja. Siswa dibantu memahami perkembangan dan perubahan dirinya agar memiliki pemahaman yang tepat mengenai proses pertumbuhan.

Kedua, menjaga kesehatan reproduksi. Siswa diberikan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta memahami kesehatan reproduksi secara tepat.

Ketiga, memahami perilaku yang bertanggung jawab. Remaja dibekali kemampuan untuk mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan dan tindakan yang mereka ambil.

Keempat, membangun relasi yang sehat. Siswa diarahkan memahami pentingnya saling menghormati, menghargai dan membangun hubungan sosial yang positif.

Kelima, memahami batas diri dan menghormati orang lain. Kesadaran mengenai batas pribadi menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan diri sekaligus membangun sikap saling menghormati.

Keenam, mengenali dan mencegah bullying serta kekerasan. Siswa didorong mampu mengenali bentuk perundungan maupun kekerasan serta mengetahui langkah untuk mencari bantuan.

Ketujuh, menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan. Remaja perlu mampu mengenali tekanan psikologis dan memahami bahwa mencari dukungan ketika menghadapi persoalan merupakan bagian dari upaya menjaga diri.

Kedelapan, mengembangkan kemampuan komunikasi dan pengambilan keputusan. Siswa dibekali keterampilan berkomunikasi, berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Kesembilan, menghadapi tekanan sosial dan teman sebaya. Remaja perlu memiliki kemampuan menghadapi pengaruh lingkungan tanpa kehilangan kemampuan menentukan pilihan yang aman dan bertanggung jawab.

Kesepuluh, merencanakan masa depan. Pendidikan diarahkan agar siswa memiliki tujuan serta mampu mempertimbangkan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sebagai bagian dari persiapan masa depan.

Rencana WCC memperluas program CSE dari SLTA ke SLTP dan SD menjadi langkah untuk membangun pemahaman anak sejak lebih dini. Namun, materi dan metode penyampaian tentu harus disesuaikan dengan usia serta tingkat perkembangan peserta didik.

Pada jenjang SD, edukasi dapat lebih diarahkan pada pengenalan diri, menjaga tubuh, memahami batas pribadi, mengenali situasi yang tidak aman serta keberanian untuk bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya.

Sementara pada jenjang SLTP dan SLTA, pembahasan dapat berkembang sesuai kebutuhan remaja, termasuk kesehatan reproduksi, relasi sosial, tekanan teman sebaya, pencegahan bullying dan kekerasan, kesehatan mental serta perencanaan masa depan.

Sri menilai keberhasilan perlindungan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua, guru, pemerintah dan lembaga pendamping memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

Terlebih bagi anak atau remaja yang telah mengalami bullying maupun persoalan sosial lainnya, kebutuhan mereka bukan hanya edukasi, tetapi juga pendampingan dan pemulihan psikologis.

Dengan demikian, CSE yang dikembangkan WCC Dian Mutiara Parahita Kota Malang ditempatkan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat perlindungan anak. Pendidikan kesehatan reproduksi dipadukan dengan penguatan kesehatan mental, keterampilan hidup, pencegahan kekerasan, kemampuan membangun relasi sehat serta kesiapan merencanakan masa depan.

Langkah tersebut diharapkan dapat membuat upaya pencegahan dilakukan lebih awal, sehingga anak tidak hanya mengetahui cara menjaga dirinya, tetapi juga berani berbicara, mencari pertolongan dan mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *