Seni dan Budaya

Wali Kota Apresiasi 150 Penari, Hari Tari Sedunia di Malang Jadi Panggung Generasi Muda

13
×

Wali Kota Apresiasi 150 Penari, Hari Tari Sedunia di Malang Jadi Panggung Generasi Muda

Share this article
Wali Kota Malang bersama Ketua DPRD dan anggota Komisi D berfoto bersama para penari dari 33 sanggar usai penampilan dalam peringatan Hari Tari Sedunia 2026 di Dewan Kesenian Malang. (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Peringatan Hari Tari Sedunia 2026 di Kota Malang berlangsung meriah dan penuh energi. Bertempat di Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), sebanyak 150 penari dari 33 sanggar tampil dalam 44 sajian tari yang digelar secara maraton selama 12 jam tanpa henti, Rabu (29/4).

Kegiatan ini menjadi panggung besar bagi generasi muda untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mempertegas eksistensi seni budaya di tengah derasnya arus modernisasi. Ragam tarian yang ditampilkan pun beragam, mulai dari tari tradisional berbagai daerah, kreasi kontemporer, hingga eksplorasi gerak modern yang memikat perhatian penonton.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang hadir langsung dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pelaku seni, khususnya para penari muda yang terlibat aktif dalam peringatan Hari Tari Sedunia tahun ini.

“Ini luar biasa, ada 33 sanggar dengan 150 penari yang tampil hingga 12 jam. Ini bukti bahwa pelaku seni di Kota Malang terus tumbuh dan berkembang. Pemerintah tentu sangat mengapresiasi,” ujar Wahyu.

Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan juga bagian dari upaya pembinaan dan penguatan karakter generasi muda melalui seni budaya. Ia menilai, keterlibatan anak-anak dan remaja dalam dunia seni menjadi langkah penting untuk menjaga identitas budaya di tengah perkembangan teknologi.

“Anak-anak muda saat ini tidak bisa lepas dari gadget. Tapi melalui seni tari, mereka memiliki ruang untuk berkarya, berinteraksi, dan mencintai budaya. Ini yang harus terus kita dorong,” tegasnya.

Wahyu menambahkan, Pemerintah Kota Malang bersama DPRD akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku seni, baik melalui program pembinaan, penyediaan fasilitas, maupun kolaborasi kegiatan. Ia juga menekankan pentingnya peran Dewan Kesenian Malang sebagai wadah pengembangan kreativitas seni di kota ini.

Lebih jauh, Pemkot Malang tengah merancang penguatan sektor seni budaya yang terintegrasi dengan pariwisata. Kawasan Kayutangan Heritage disebut akan menjadi salah satu titik pengembangan wisata berbasis budaya, di mana pertunjukan seni dapat menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.

“Kita ingin wisata di Malang tidak hanya soal tempat, tapi juga budaya. Orang datang bisa menikmati pertunjukan seni. Ini akan kita dorong agar menjadi kekuatan baru,” jelasnya.

Selain itu, Wahyu juga mengajak seluruh elemen, mulai dari perangkat daerah, dunia pendidikan, hingga komunitas seni untuk terus bersinergi membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penikmat, tapi harus menjadi pencipta, pelaku, dan pewaris budaya. Ini penting untuk masa depan,” ujarnya.

Ia menegaskan, budaya merupakan ruh dari kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, momentum Hari Tari Sedunia harus dimanfaatkan untuk memperkuat rasa bangga terhadap jati diri bangsa.

“Tanpa akar budaya yang kuat, kita bisa kehilangan arah. Mari terus berkarya, berinovasi, dan memastikan seni tradisional tetap hidup di tangan generasi masa depan,” pungkasnya.

Dengan semangat kolaborasi dan dukungan berbagai pihak, peringatan Hari Tari Sedunia 2026 di Kota Malang diharapkan menjadi tonggak penting dalam mengangkat seni budaya lokal agar semakin dikenal luas sekaligus mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *