Sudutkota.id – Peringatan Hari Bumi 2026 Sedunia dimaknai secara istimewa oleh Masyarakat Adat Singhasari. Mereka menggelar aksi nyata berupa penanaman pohon jampinang, jenis pohon endemik yang kini mulai langka dan memiliki nilai historis serta ekologis tinggi di kawasan Singosari.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (22/04/2026) mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Aksi penghijauan tersebut dipusatkan di halaman Pendopo Kawedanan Pujisari, Jalan Raya Singosari, sebagai lokasi utama pelaksanaan.
Tak hanya di satu titik, penanaman juga dilakukan di area Candi Srigading, Desa Srigading, Kecamatan Lawang.
Pemilihan dua lokasi ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai simbol keterkaitan antara pelestarian alam dan warisan budaya yang harus dijaga secara beriringan.
Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Masyarakat Adat Singhasari KRT Yusuf Tanoko, perwakilan kecamatan, Abid, Ketua Paguyuban Kepala Desa Singosari Subadi, SH, Ketua LPMK Pagentan Ahsani, S.Pd, serta anggota masyarakat adat lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua LPMK Pagentan Ahsani, S.Pd yang akrab sapa Gus Sani menjelaskan, bahwa pohon jampinang merupakan tanaman endemik yang berasal dari lereng Gunung Arjuno. Namun, keberadaannya kini semakin berkurang, terutama sejak peristiwa banjir lumpur besar pada tahun 1997 yang menyeret banyak vegetasi, termasuk pohon jampinang.
“Pohon jampinang ini adalah kekayaan asli Singosari. Setelah banjir bandang 1997, banyak yang hilang terbawa arus. Maka dari itu, penanaman ini menjadi upaya penting untuk mengembalikan keberadaannya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Kepala Desa Singosari, Subadi, menilai kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan investasi jangka panjang bagi lingkungan. Ia menekankan bahwa pohon jampinang dikenal memiliki usia panjang hingga ratusan tahun.
“Mudah-mudahan kegiatan ini membawa keberkahan dan menjauhkan kita dari marabahaya. Pohon yang kita tanam hari ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Ketua Masyarakat Adat Singhasari, Yusuf Tanoko, juga menegaskan bahwa peringatan Hari Bumi harus dimaknai sebagai momentum refleksi untuk kembali menyatu dengan alam. Ia mengangkat filosofi lokal “Mamayu Hayuning Bhawono” sebagai landasan gerakan tersebut.
“Ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi bagaimana kita menjaga keseimbangan bumi. Dengan menanam jampinang yang bisa hidup ratusan tahun, kita sedang meninggalkan pesan bagi generasi penerus,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berharap kegiatan ini menjadi langkah awal gerakan berkelanjutan dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di wilayah Singosari yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang kuat.
Sebelum Prosesi penanaman pohon Jampinang, dilakukan prosesi do’a bersama dan pemotongan tumpeng sebagai wujud syukur dan kebersamaan Masyarakat Adat dengan Pemerintah dan tokoh masyarakat yang hadir.
Perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang yang hadir juga menyampaikan bahwa kegiatan ini selaras dengan program pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan hidup, termasuk gerakan penanaman pohon yang terus digalakkan.
“Peringatan Hari Bumi mengingatkan kita akan pentingnya hidup harmonis dengan alam. Ketika keseimbangan itu terjaga, kita akan mendapatkan banyak manfaat seperti udara bersih dan terhindar dari dampak pemanasan global,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Masyarakat Adat Singhasari tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga mempertegas komitmen untuk menjaga warisan leluhur
“Penanaman pohon jampinang pun diharapkan menjadi simbol kebangkitan kesadaran ekologis di tengah masyarakat,” pungkasnya.














