Nasional

Temuan 1.464 Kasus TBC di Lapas Jadi Alarm Buruknya Layanan Kesehatan Warga Binaan

3
×

Temuan 1.464 Kasus TBC di Lapas Jadi Alarm Buruknya Layanan Kesehatan Warga Binaan

Share this article
Netty Prasetiyani, Anggota Komisi IX DPR RI minta penanganan TBC di lapas diperkuat. (Foto: DPR RI).

Sudutkota.id – Temuan 1.464 kasus tuberkulosis (TBC) di rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) membuka kembali persoalan kronis layanan kesehatan di lembaga pemasyarakatan. Angka tersebut dipandang bukan sekadar keberhasilan menemukan kasus, melainkan juga peringatan bahwa pengendalian penyakit menular di lapas masih menyisakan pekerjaan besar.

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menilai pemerintah tidak boleh berhenti pada penemuan kasus. Menurutnya, tingginya jumlah penderita harus menjadi alarm bagi Kementerian Kesehatan dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk memastikan hak kesehatan warga binaan benar-benar terpenuhi.

“Salah satu tantangan penanganan kasus TBC adalah penemuan kasusnya itu sendiri. Jadi kalau ini kemudian ditemukan dan ada angkanya, satu kita mengapresiasi terlebih dahulu bahwa ternyata ada langkah untuk bisa menemukan kasus itu di lembaga pemasyarakatan,” kata Netty di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Meski mengapresiasi upaya deteksi, Netty mengingatkan bahwa temuan tersebut sekaligus mengindikasikan masih besarnya potensi penyebaran TBC di lingkungan lapas yang identik dengan kepadatan penghuni dan keterbatasan fasilitas kesehatan.

“Ini juga menjadi alarm kepada kementerian dan lembaga, utamanya Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, untuk bisa memenuhi hak para warga binaan mendapatkan akses layanan kesehatan,” ujarnya.

Ia menekankan keberhasilan pengendalian TBC baru dapat dicapai apabila seluruh pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Pemerintah, kata dia, harus memastikan ketersediaan obat, kepatuhan minum obat, serta pemenuhan gizi bagi seluruh penderita.

“Harus dipastikan mereka mendapatkan obat secara teratur, tidak putus minum obat, dan kemudian pemenuhan gizi mereka. Ini sangat penting karena penanganan TBC selain obat rutin yang teratur dikonsumsi juga adalah pemenuhan gizi sehingga penyakit TB yang mereka derita bisa sembuh,” pungkasnya

Netty juga menyoroti kondisi fisik lapas yang dinilai turut menentukan keberhasilan pengendalian penyakit. Ventilasi yang memadai, masuknya sinar matahari, kebersihan lingkungan, hingga sanitasi dan pengelolaan limbah, menurutnya, menjadi faktor penting untuk menekan risiko penularan.

“Masuknya sinar matahari, kemudian juga lingkungan mereka tinggal, lingkungan mereka beraktivitas, ini juga harus dipastikan bersih. Kemudian juga sarana sanitasi dan pembuangan limbahnya, ini sangat mempengaruhi,” ucapnya.

Selain pembenahan fasilitas, ia mendorong edukasi kesehatan diberikan kepada seluruh warga binaan, bukan hanya kepada mereka yang telah terdiagnosis TBC. Langkah itu dinilai penting mengingat lapas merupakan lingkungan dengan tingkat kepadatan tinggi yang rentan menjadi titik penyebaran penyakit menular.

“Edukasi buat warga binaan secara menyeluruh, bukan hanya yang terkena TB tapi juga warga yang sehat agar tidak tertular. Penularan di area yang sangat padat dengan jumlah warga binaan yang banyak tentu bisa menjadi sarana penularan jika tidak dilakukan penanganan secara komprehensif,” tutupnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *