Ekonomi Bisnis

Tekan Harga, Pemkot Malang Gelontorkan 100 Kg Cabai Subsidi di Pasar Bunulrejo

7
×

Tekan Harga, Pemkot Malang Gelontorkan 100 Kg Cabai Subsidi di Pasar Bunulrejo

Share this article
Tekan Harga, Pemkot Malang Gelontorkan 100 Kg Cabai Subsidi di Pasar Bunulrejo
Petugas Diskopindag Kota Malang melayani pembelian cabai bersubsidi dalam program Warung Tekan Inflasi (WTI) di Pasar Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kamis (4/6/2026).(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Melonjaknya harga cabai di sejumlah pasar tradisional Kota Malang mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melakukan intervensi cepat melalui program Warung Tekan Inflasi (WTI).

Sebanyak 100 kilogram cabai bersubsidi yang dijual di Pasar Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kamis (4/6/2026), ludes diserbu masyarakat hanya dalam waktu sekitar dua jam.

Sejak dibuka pukul 07.30 WIB, lapak WTI langsung dipadati warga dan pelaku usaha mikro yang memanfaatkan harga cabai lebih murah dibandingkan harga pasar.

Tingginya antusiasme pembeli menunjukkan besarnya dampak kenaikan harga cabai yang dalam beberapa pekan terakhir membebani rumah tangga maupun pelaku UMKM kuliner.

Saat ini harga cabai rawit di pasar tradisional mencapai sekitar Rp66 Ribu per kilogram, cabai keriting Rp57 Ribu per kilogram, dan cabai merah besar Rp56 Ribu per kilogram.

Melalui program WTI, Pemkot Malang menjual cabai rawit dan cabai keriting seharga Rp40 Ribu per kilogram, sedangkan cabai merah besar dibanderol Rp45 Ribu per kilogram.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Luh Putu Eka Wulantari, mengatakan program tersebut merupakan bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga sekaligus membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

“Yang jelas kami jual di bawah harga pasar karena ada subsidi. Tujuannya membantu masyarakat sekaligus menekan gejolak harga yang terjadi,” ujarnya.

Eka menjelaskan, cabai dipilih sebagai komoditas prioritas karena menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar dalam beberapa waktu terakhir. Untuk menjamin ketersediaan pasokan, Pemkot Malang bekerja sama dengan sejumlah daerah sentra produksi seperti Lumajang, Probolinggo, dan Blitar.

Menurutnya, langkah tersebut penting dilakukan karena Kota Malang merupakan daerah konsumsi yang sangat bergantung pada pasokan komoditas dari luar wilayah.

Agar distribusi merata, pembelian cabai dibatasi maksimal 10 kilogram untuk pedagang, sementara masyarakat umum dibatasi sekitar satu hingga dua kilogram. Kebijakan ini diterapkan agar manfaat subsidi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Harapannya semakin banyak warga yang bisa membeli dengan harga murah dan tidak terjadi penumpukan pembelian oleh pihak tertentu,” jelasnya.

Pemkot Malang juga memastikan program WTI akan terus digelar di lokasi-lokasi yang terpantau mengalami lonjakan harga. Setelah Pasar Bunulrejo, intervensi serupa dijadwalkan berlangsung di Pasar Sawojajar.

Eka mengimbau masyarakat untuk aktif memantau informasi harga pangan serta memanfaatkan program Warung Tekan Inflasi ketika pemerintah melakukan operasi pasar.

“Jika ada kenaikan harga komoditas tertentu, pemerintah akan hadir melalui Warung Tekan Inflasi. Kami berharap informasi ini juga disampaikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar agar manfaatnya semakin luas,” tegasnya.

Sementara itu, program WTI mendapat sambutan positif dari pelaku usaha kecil. Salah satunya Ashadi, pedagang warung lalapan yang setiap hari membutuhkan pasokan cabai dalam jumlah cukup besar.

Ia mengaku lonjakan harga cabai dalam beberapa waktu terakhir membuat biaya operasional usahanya meningkat signifikan. Harga cabai merah besar yang sempat menyentuh kisaran Rp60 Ribu per kilogram dinilai cukup memberatkan pelaku usaha kuliner.

Melalui program WTI, Ashadi dapat membeli cabai merah besar dengan harga Rp45 Ribu per kilogram atau lebih murah sekitar Rp15 Ribu dibandingkan harga pasar.

“Kalau beli di sini jauh lebih ringan. Selisihnya lumayan besar dan sangat membantu pedagang kecil seperti saya,” katanya.

Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga minyak goreng dan sejumlah kebutuhan dapur lainnya. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit karena biaya produksi meningkat, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan secara drastis karena berisiko ditinggalkan pelanggan.

Akibat tekanan biaya tersebut, omzet usahanya disebut mengalami penurunan hingga sekitar 30 persen dalam setahun terakhir. Karena itu, ia berharap program stabilisasi harga seperti WTI dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Program seperti ini sangat dibutuhkan. Bukan hanya membantu masyarakat, tetapi juga membantu UMKM tetap bertahan di tengah kenaikan harga bahan pokok,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *