Sudutkota.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang terus melakukan pembenahan infrastruktur jalan dan jembatan, terutama pada titik yang dinilai berpotensi mengganggu mobilitas masyarakat.
Salah satunya penanganan Jembatan Pohbener di Kecamatan Wagir yang kini telah dinyatakan rampung dengan progres pekerjaan mencapai 100 persen.
Kepala Bidang Pembangunan dan Peningkatan Jalan Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang, Anita Aulia Sari, saat dikonfirmasi Sudutkota.id, Kamis (13/8/2026), menjelaskan bahwa Jembatan Pohbener berada pada ruas jalan kabupaten (K1) Mendalanwangi–Sumbersuko dan melintasi wilayah Desa Gondowangi.
Menurut Anita, penanganan jembatan tersebut dilakukan karena kondisi sebelumnya memiliki persoalan serius pada saat debit air sungai meningkat. Air dapat meluap dan mengganggu akses masyarakat yang menggunakan jalur tersebut.
“Untuk Jembatan Pohbener ini berada di ruas Mendalanwangi–Sumbersuko, melewati Desa Gondowangi. Kondisi eksisting sebelumnya, ketika debit air tinggi, air bisa meluap,” ujar Anita.
Persoalan tersebut kemudian menjadi dasar dilakukan penggantian dan penanganan konstruksi jembatan. Pemkab Malang tidak hanya memperbaiki bagian jembatan, tetapi juga melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan pengendalian aliran air dan perlindungan konstruksi di sekitar sungai.
“Penanganannya menggunakan box culvert insitu dengan diameter 2,00 meter, kemudian DPT sungai dan plat duiker,” jelasnya.
Anita menerangkan, penggunaan box culvert tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi persoalan aliran air. Dengan konstruksi tersebut, aliran air diharapkan dapat melewati jalur yang telah disiapkan sehingga tidak kembali meluap dan mengganggu badan jalan maupun akses warga.
Selain box culvert, pembangunan DPT sungai juga menjadi bagian dari pekerjaan. DPT berfungsi membantu menjaga kestabilan tanah dan konstruksi di sekitar aliran sungai sehingga infrastruktur jalan dan jembatan memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
“Manfaat dari pembangunan ini untuk menghubungkan antar-desa, terutama Mendalanwangi dan Gondowangi. Mobilitas warga sekitar diharapkan tidak terganggu lagi oleh meluapnya air dari sungai,” kata Anita.
Ia menegaskan bahwa pembangunan tersebut memiliki manfaat langsung bagi masyarakat yang sehari-hari menggunakan ruas jalan tersebut. Ketika terjadi peningkatan debit air, akses masyarakat diharapkan tetap dapat berjalan sehingga aktivitas warga tidak terganggu.
Menurut Anita, penanganan infrastruktur seperti Jembatan Pohbener memang harus melihat kondisi secara menyeluruh. Tidak cukup hanya memperbaiki permukaan jalan atau mengganti konstruksi jembatan apabila persoalan utama berkaitan dengan aliran air.
Karena itu, konstruksi box culvert, DPT sungai dan plat duiker menjadi satu kesatuan dalam pekerjaan penanganan Jembatan Pohbener.
“Jadi bukan hanya persoalan jembatannya, tetapi bagaimana aliran airnya juga bisa tertangani. Harapannya, saat debit air tinggi, tidak lagi mengganggu mobilitas masyarakat,” tegasnya.
Anita menambahkan, ruas Mendalanwangi–Sumbersuko merupakan salah satu akses yang harus tetap dijaga kondisinya karena menghubungkan wilayah dan menunjang aktivitas masyarakat. Gangguan pada satu titik jembatan dapat berdampak terhadap kelancaran perjalanan warga di wilayah sekitar.
Dengan selesainya pekerjaan, Pemkab Malang berharap fungsi jembatan dapat kembali optimal. Terlebih, infrastruktur tersebut berada pada jalur yang menjadi penghubung masyarakat antarwilayah.
“Untuk progres pekerjaannya saat ini sudah 100 persen,” ungkap Anita.
Meski pekerjaan telah dinyatakan rampung, perhatian terhadap infrastruktur tersebut tidak boleh berhenti setelah proyek selesai. Pengawasan dan pemeliharaan tetap diperlukan untuk memastikan konstruksi mampu bertahan menghadapi kondisi lapangan, terutama ketika memasuki periode hujan dan debit sungai kembali meningkat.
Anita juga menekankan bahwa pembangunan infrastruktur pada akhirnya harus bermuara pada manfaat bagi masyarakat. Infrastruktur tidak sekadar selesai secara fisik, tetapi harus mampu menjawab persoalan yang menjadi alasan pembangunan dilakukan.
Jembatan Pohbener menjadi salah satu contoh penanganan titik infrastruktur yang tidak bisa dilepaskan dari persoalan lingkungan sekitar. Luapan air yang sebelumnya berpotensi menghambat akses menjadi persoalan yang ikut ditangani melalui pembangunan konstruksi pengaliran dan penguatan sungai.
Dengan progres 100 persen tersebut, masyarakat Mendalanwangi dan Gondowangi kini diharapkan memperoleh akses yang lebih lancar dan aman.




















