Daerah

Jejak Masa Kecil Bung Karno Ditelusuri, DPRD Jombang Tinjau Titik Nol Soekarno di Ploso

3
×

Jejak Masa Kecil Bung Karno Ditelusuri, DPRD Jombang Tinjau Titik Nol Soekarno di Ploso

Share this article
Komisi D DPRD Jombang melakukan peninjuan pada lokasi yang diduga titik nol Soekarno. (Foto: Sudutkota.id/Elok Apriyanto)

Sudutkota.id – Penelusuran jejak masa kecil Presiden pertama RI Soekarno terus bergulir. Komisi D DPRD Jombang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang turun langsung ke Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, untuk meninjau lokasi yang disebut sebagai titik nol Bung Karno.

Kunjungan ini dilakukan untuk melihat langsung kondisi lapangan sekaligus menggali informasi dari masyarakat sekitar dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang terkait jejak sejarah Bung Karno di wilayah tersebut.

Sekretaris Komisi D DPRD Jombang Rahmad Agung Saputra mengatakan, peninjauan lapangan menjadi bagian dari pendalaman data sebelum penetapan lebih lanjut dilakukan pemerintah pusat.

“Kami Komisi D bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melihat langsung kondisi di titik nol Bung Karno. Kami juga menggali informasi dari masyarakat sekitar serta mendengar penjelasan dari TACB bahwa masa kecil Bung Karno berada di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso,” ujarnya, Jum’at (22/5/2026).

Menurut Agung, hasil penelusuran tersebut masih membutuhkan kajian lanjutan. Sebab, berbagai dokumen dan data sejarah yang ditemukan perlu ditelaah secara menyeluruh agar tidak memunculkan polemik di kemudian hari.

DPRD Jombang, lanjut dia, juga siap mengawal proses tersebut hingga tingkat kementerian. Terlebih, selama ini masih muncul perbedaan pandangan terkait lokasi awal kehidupan Bung Karno yang kerap dikaitkan dengan Surabaya.

“Harapannya nanti bisa ditetapkan sebagai titik nol Bung Karno. Kami secara konstitusi akan membantu memfasilitasi untuk mendorong itu. Yakin atau tidak, biar data yang berbicara,” katanya.

Pihaknya menambahkan, DPRD telah mendorong Disdikbud Jombang untuk segera melakukan audiensi dengan kementerian maupun balai kebudayaan guna memperkuat hasil kajian sejarah yang telah dilakukan.

Selain itu, koordinasi dengan pemerintah provinsi juga dinilai penting agar tidak terjadi simpang siur informasi mengenai sejarah Bung Karno.

“Kami juga akan mengawal hasil audiensi tersebut. Harapannya semua bisa terbuka dan dibahas berdasarkan fakta-fakta yang ada,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua TACB Jombang Nasrullah mengungkapkan, kajian mengenai lokasi lahir Bung Karno di Jombang sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Isu tersebut awalnya berkembang di tengah masyarakat sebelum akhirnya ditelusuri lebih serius.

Nasrullah mengaku pernah mendengar pengakuan seorang warga lanjut usia pada 1985 saat terlibat dalam pembangunan Monumen Perang Sebani di Sumobito. Warga tersebut mengaku pernah merawat Bung Karno semasa kecil.

Namun kala itu informasi tersebut belum sepenuhnya diyakini. Hingga akhirnya pada 2017, kajian mendalam mulai dilakukan bersama Disdikbud Jombang.

“Kami mencari saksi-saksi mata sampai cucu cicitnya, dan keterangannya mengarah pada hal yang sama,” katanya.

Dari hasil penelusuran, TACB menemukan sejumlah dokumen yang dinilai memperkuat dugaan bahwa Bung Karno lahir di wilayah Ploso dan tinggal di kawasan tersebut hingga usia lima tahun.

Salah satu dokumen yang menjadi perhatian ialah data pendaftaran kuliah Bung Karno yang mencantumkan tahun kelahiran 1902. Selain itu, terdapat pula dokumen perpindahan ayah Bung Karno ke Ploso pada 1901 yang dianggap menjadi bagian penting dari rangkaian bukti sejarah.

Menurut Nasrullah, penyebutan Surabaya dalam sejumlah dokumen lama dimungkinkan karena saat itu wilayah Jombang masih masuk dalam Karesidenan Surabaya.

“Karena saat itu belum ada Kabupaten Jombang seperti sekarang, sehingga penyebutan Surabaya bisa jadi merujuk wilayah administratif pada masa itu,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *