Daerah

Jauhar Muharram Singhasari Bangkit Setelah 32 Tahun, Siap Jadi Perhelatan Akbar Islam dan Budaya Jawa Timur

27
×

Jauhar Muharram Singhasari Bangkit Setelah 32 Tahun, Siap Jadi Perhelatan Akbar Islam dan Budaya Jawa Timur

Share this article
Jauhar Muharram Singhasari Bangkit Setelah 32 Tahun, Siap Jadi Perhelatan Akbar Islam dan Budaya Jawa Timur
Jauhar Muharram IV Singhasari 1448 H/2026 M

Sudutkota.id– Setelah lebih dari tiga dekade vakum, Jauhar Muharram Singhasari (JMS) kembali hadir membawa semangat baru bagi masyarakat. Perhelatan yang pernah menjadi kebanggaan warga Singosari pada era 1990-an itu akan digelar kembali dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah pada 13 hingga 23 Juni 2026 dengan konsep yang lebih besar, modern, dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Kembalinya JMS tidak sekadar menghidupkan sebuah agenda tahunan, melainkan menjadi momentum kebangkitan sejarah, budaya, dan syiar Islam yang telah lama melekat dalam identitas Singosari.

Ketua Panitia JMS IV, Ahsani Fathurrohma, S.M., yang akrab disapa Gus Sani, menegaskan bahwa kebangkitan Jauhar Muharram merupakan langkah strategis untuk mengangkat kembali nama besar Singosari di tingkat nasional.

“Visi kami sangat jelas, yakni mengangkat sejarah dan nama besar Singosari ke tingkat nasional. Kami ingin Singosari dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan religi yang memiliki potensi luar biasa. Untuk mewujudkan hal itu dibutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat dan dukungan berbagai pihak agar Singosari semakin maju,” ujar Gus Sani, Senin (8/6/2026).

Menurutnya, Singosari memiliki jejak sejarah Islam yang sangat kuat dan menjadi salah satu pusat perkembangan Islam tertua di Jawa Timur. Daerah ini melahirkan banyak tokoh penting bangsa, memiliki jaringan pesantren yang luas, serta menjadi pusat pendidikan Islam yang terus berkembang hingga saat ini.

“Jika berbicara tentang sejarah Islam, Singosari merupakan salah satu khazanah Islam tertua. Banyak tokoh nasional lahir dari wilayah ini, mulai dari pejuang yang memiliki keterkaitan dengan pasukan Pangeran Diponegoro, tokoh-tokoh tarekat, hingga Menteri Agama Republik Indonesia. Potensi tersebut harus terus dikembangkan agar relevan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, JMS menghadirkan berbagai program unggulan yang diproyeksikan menjadi salah satu agenda Islam dan budaya terbesar di Jawa Timur. Salah satu yang paling menarik adalah Gunungan Langsep, simbol kebangkitan kembali buah langsep yang dahulu menjadi komoditas khas Singosari.

Melalui program tersebut, panitia ingin mengajak masyarakat untuk kembali mengenal dan melestarikan kekayaan lokal yang mulai terlupakan. Selain itu, gerakan penanaman pohon langsep juga diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah.

Gus Sani menjelaskan bahwa JMS memiliki sejumlah tujuan strategis yang ingin dicapai melalui penyelenggaraan tahun ini.

“Pertama, mengangkat kembali lokalitas buah langsep yang dulu sangat mudah ditemukan di Singosari. Kedua, menyelenggarakan lebih dari 40 lomba keislaman sebagai bentuk penguatan identitas Singosari sebagai kota santri. Ketiga, menghadirkan lebih dari 150 stan UMKM untuk mendorong promosi usaha lokal dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” paparnya.

“Keempat, menjadikan JMS sebagai agenda tahunan berskala Jawa Timur yang mampu mengangkat potensi wisata religi, sejarah, budaya, dan alam Singosari. Kelima, memperingati Tahun Baru Islam yang bertepatan dengan Haul Mbah Thohir dan Haul Bungkuk sebagai tokoh-tokoh perintis penyebaran Islam di Singosari,” sambungnya.

Tidak hanya berfokus pada aspek dakwah dan budaya, JMS juga menjadi wadah pembinaan generasi muda melalui berbagai kompetisi bernuansa Islami. Sejumlah agenda bergengsi seperti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqah Khathtil Quran (MKQ), serta Festival Anak Sholeh (FAS) tingkat Jawa Timur akan digelar untuk memberikan ruang bagi generasi muda menampilkan prestasi terbaik mereka.

“Sebagai bentuk harmonisasi antara nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal, JMS turut menghadirkan Pekan Budaya Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan dalam membangun peradaban yang kuat, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai luhur masyarakat,” tutur Gus Sani.

Masih kata Gus Sani, kembalinya Jauhar Muharram Singosari juga menjadi wujud nyata keberlanjutan gagasan para tokoh terdahulu yang sejak era 1990-an telah merancang sebuah perhelatan yang mampu menyatukan dakwah, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi lintas generasi, JMS 1448 Hijriah diharapkan menjadi tonggak kebangkitan baru bagi Singosari.

“Lebih dari sekadar perayaan Tahun Baru Islam, perhelatan ini diharapkan mampu mengembalikan posisi Singosari sebagai salah satu pusat kegiatan Islam, budaya, dan ekonomi kreatif terbesar di Jawa Timur. Masyarakat pun diajak untuk turut menjadi bagian dari sejarah baru tersebut dengan menyambut kembalinya Jauhar Muharram Singosari setelah 32 tahun vakum, sebagai simbol persatuan, keberkahan, dan kemajuan bersama,” pungkasnya.

Perlu diketahui, deretan Tokoh Jawa Timur yang dijadwalkan hadir hadir dalam JMS IV ini antara lain, Gubernur Jawa Timur Dr. HC Khofifah Indar Parawansa, Bupati Malang HM Sanusi, Yenny Wahid, KH Syukkron Makmun, Gus M Iqdam dan Prof. Dr. Imam Suprayogo.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *