KOTA MALANG, Sudutkota.id – Pandai berbicara di depan publik belum tentu menjamin pesan dapat dipahami dengan baik. Kemampuan merangkai kata harus diimbangi etika, adab, serta kepekaan membaca situasi dan karakter audiens. Tanpa itu, komunikasi berisiko kehilangan makna meskipun disampaikan dengan lancar dan penuh percaya diri.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam pelatihan public speaking yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang di Gedung Mini Block Office (MBO) lantai 4, Rabu (28/10/2026).
Kepala Diskominfo Kota Malang, Muhammad Nur Widianto, S.Sos., mengatakan, perkembangan teknologi informasi membuat masyarakat setiap hari terpapar beragam informasi, baik positif maupun negatif. Situasi ini menuntut kecakapan berkomunikasi yang tidak hanya bertumpu pada teknik berbicara, tetapi juga kesadaran menjaga etika ketika menyampaikan pendapat.
“Ketika kita berbicara tentang public speaking di era saat ini, ternyata tidak semata-mata bicara tentang teknik atau kemampuan menyampaikan narasi, rangkaian kata, dan rangkaian kalimat. Di tengah kemajuan teknologi informasi, berbagai macam informasi masuk ke pikiran kita setiap hari, baik yang bersifat positif maupun negatif,” ujar Nur Widianto.
Menurutnya, derasnya arus informasi perlu diimbangi dengan kemampuan menyampaikan pesan secara bertanggung jawab. Terlebih, ruang komunikasi saat ini tidak lagi terbatas pada pertemuan langsung, tetapi meluas ke media sosial yang memungkinkan setiap orang menyampaikan pandangan dan pendapatnya kepada khalayak.
Ia menilai, perkembangan tersebut perlu diikuti penguatan nilai kesantunan agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi pertentangan akibat cara berkomunikasi yang keliru.
“Dari sana kita bisa melihat bahwa ada hal yang perlu kita diskusikan bersama. Kemampuan untuk menarasikan sesuatu dan berbicara secara tepat itu bukan hanya berhenti pada aspek teknik komunikasi, tetapi juga harus diikuti nilai-nilai ketimuran dan adab,” tegasnya.
Nur Widianto mengaku prihatin terhadap pola percakapan yang berkembang di berbagai kanal media sosial. Menurutnya, kemampuan berbicara yang baik seharusnya tidak hanya diukur dari kefasihan menyampaikan pendapat, tetapi juga dari cara seseorang menghormati orang lain dan mempertimbangkan dampak perkataannya.
“Semakin ke sini, kita juga semakin miris kalau melihat percakapan di media sosial. Oleh karena itu, harapan kami, teknik dan kemampuan public speaking yang didapatkan peserta bisa berjalan seiring dengan penguatan etika kita sebagai bangsa Indonesia, adab kita, dan nilai-nilai religi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut merupakan pelaksanaan tahun kedua. Program ini berangkat dari usulan masyarakat melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), termasuk Musrenbang tematik.
Dengan demikian, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pelatihan seremonial, tetapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan kemampuan komunikasi untuk menjalankan kegiatan sosial, organisasi, maupun menyampaikan aspirasi.
“Kegiatan ini sudah memasuki tahun kedua. Tahun kemarin juga sudah digelar dan semuanya berangkat dari usulan dari bawah, baik melalui Musrenbang maupun Musrenbang tematik,” jelasnya.
Nur Widianto berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk menyebarkan informasi secara benar, membangun komunikasi yang sehat, dan menjadi penghubung antara masyarakat dengan lingkungan yang lebih luas.
“Kami berharap para peserta mampu menjadi duta-duta yang bisa menempatkan ilmu yang didapatkan, kemudian mengomunikasikannya, baik di lingkungan masing-masing maupun di lingkungan yang lebih luas,” katanya.
Pelatihan public speaking tersebut digelar selama dua hari, yakni 28 dan 29 Oktober 2026, di Gedung MBO lantai 4. Total peserta mencapai 266 orang yang dibagi menjadi dua kelompok atau batch, masing-masing sebanyak 133 peserta.
Peserta berasal dari beragam unsur masyarakat dan organisasi, termasuk kelurahan, kader antinarkoba, organisasi perempuan, kelompok pemerhati gender, komunitas disabilitas, serta unsur masyarakat lainnya.
Keberagaman peserta diharapkan memperluas penerapan keterampilan komunikasi di berbagai lingkungan. Namun, tantangan utamanya tetap terletak pada kemampuan peserta mengubah materi pelatihan menjadi praktik komunikasi yang santun, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.M., mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia menekankan bahwa komunikasi publik bukan sekadar aktivitas menyampaikan sesuatu di hadapan banyak orang, melainkan proses memastikan pesan dapat diterima dan dipahami oleh audiens.
Menurut Wahyu, seseorang bisa saja menguasai materi dan berbicara dengan lancar. Namun, apabila tidak memahami cara menyampaikan pesan sesuai situasi dan karakter pendengar, tujuan komunikasi justru berpotensi tidak tercapai.
“Kadang-kadang public speaking yang sudah kita miliki itu tentu masih ada hal-hal yang perlu kita pahami. Tidak hanya sekadar kita berada di tempat untuk menyampaikan sesuatu, tetapi ada etika yang harus diperhatikan. Ada hal-hal yang patut dan ada hal-hal yang tidak patut,” ujar Wahyu.
Ia mengingatkan peserta agar tidak menganggap kemampuan berbicara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan komunikasi. Pemilihan kata, cara menyampaikan, serta kemampuan membaca kondisi audiens turut menentukan apakah pesan dapat diterima dengan baik.
“Jangan sampai akhirnya kita menyampaikan sesuatu dengan cara public speaking yang berbeda, kemudian tidak terjadi komunikasi yang baik. Kita memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi tidak bisa diterima dengan baik,” tegasnya.
Wahyu menilai, kegagalan memahami audiens dapat membuat upaya penyampaian informasi menjadi tidak efektif. Waktu dan tenaga yang telah dikeluarkan untuk berbicara tidak akan memberikan hasil maksimal apabila pendengar hanya mendengarkan tanpa memahami inti pesan.
“Jangan sampai kita capek-capek menyampaikan sesuatu, tetapi apa yang disampaikan tidak bisa diterima. Akhirnya, apa yang kita lakukan menjadi sia-sia karena pesan yang ingin disampaikan tidak dipahami dengan baik,” katanya.
Selain kemampuan berbicara, Wahyu juga menekankan pentingnya mendengarkan dan membangun interaksi. Komunikasi yang efektif tidak berjalan satu arah, tetapi membutuhkan respons dan pemahaman antara pihak yang menyampaikan pesan dengan pihak yang menerima.
Karena itu, ia meminta peserta memanfaatkan kesempatan belajar dari narasumber yang memiliki pengalaman di bidang komunikasi publik. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk menghadapi beragam situasi, baik dalam forum resmi, kegiatan organisasi, maupun saat berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Wahyu turut menyinggung penampilan sebagai salah satu aspek pendukung ketika seseorang berbicara di depan publik. Menurutnya, penampilan perlu disesuaikan dengan situasi dan forum agar tidak mengganggu perhatian audiens terhadap pesan yang disampaikan.
“Kalau kita menggunakan pakaian yang tidak tepat, itu juga bisa membuat orang tidak fokus. Karena itu, kita harus memahami bagaimana menempatkan diri dan menyesuaikan penampilan dengan situasi,” ungkapnya.





















