Nasional

Habiburokhman Pertanyakan Etika Dino Patti Djalal dalam Mengkritik Pemerintah

9
×

Habiburokhman Pertanyakan Etika Dino Patti Djalal dalam Mengkritik Pemerintah

Share this article
Habiburokhman Pertanyakan Etika Dino Patti Djalal dalam Mengkritik Pemerintah
Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, saat memberikan keterangan kepada wartawan di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta.(foto:sudutkota.id/istimewa)

Sudutkota.idKetua Komisi III DPR RI, Habiburokhman melontarkan kritik balik kepada mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal yang belakangan kerap menyampaikan pandangan kritis terhadap pemerintah.

Menurut politikus Gerindra itu, seorang mantan pejabat negara semestinya memberikan ruang kepada pejabat yang sedang menjabat untuk bekerja, alih-alih terus melontarkan kritik yang berpotensi memicu perdebatan politik.

Habiburokhman menilai terdapat etika yang perlu dijaga oleh para mantan pejabat publik. Meski mengakui setiap warga negara berhak menyampaikan kritik, ia berpendapat bahwa mantan pejabat memiliki tanggung jawab moral untuk menghormati pejabat yang sedang menjalankan amanah jabatan.

“Ada etika di kalangan orang yang pernah menjabat, yaitu memberikan kesempatan kepada orang yang saat ini menjabat untuk bekerja dan menjalankan tugasnya dengan baik,” kata Habiburokhman kepada wartawan di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Ia bahkan membandingkan sikap Dino dengan tradisi politik di sejumlah negara maju, di mana mantan pemimpin negara dinilai lebih jarang mengkritik penerusnya secara terbuka.

Habiburokhman juga mencontohkan hubungan para mantan Ketua Komisi III DPR yang menurutnya tetap menjaga etika dan tidak melakukan serangan terbuka kepada pimpinan yang sedang menjabat.

Menurut Habiburokhman, pola komunikasi yang ditunjukkan Dino berpotensi memancing publik untuk membanding-bandingkan kinerja pejabat saat ini dengan masa lalu.

Ia mengingatkan bahwa kritik yang disampaikan mantan pejabat bisa saja ditafsirkan bukan lagi sebagai masukan konstruktif, melainkan sebagai serangan politik.

“Saya khawatir akan ada yang mendefinisikan itu lebih sebagai serangan politik membabi buta dan olok-olok politik,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai posisi mantan pejabat dalam ruang demokrasi.

Di satu sisi, kritik dari figur yang pernah berada di lingkar kekuasaan kerap dianggap penting karena lahir dari pengalaman dan pemahaman terhadap birokrasi negara.

Namun di sisi lain, kritik yang terlalu personal juga berisiko memperkeruh polarisasi politik yang masih membekas pasca kontestasi politik nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Habiburokhman justru memuji sikap Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang dinilainya menunjukkan keteladanan sebagai negarawan.

Ia menyoroti momen kebersamaan Megawati dan Presiden Prabowo Subianto yang sempat menjadi perhatian publik. Menurutnya, meski berada di luar pemerintahan, Megawati tetap menunjukkan penghormatan terhadap kepala negara yang sedang menjabat.

“Bu Mega sangat elegan, menghormati Pak Prabowo sebagai Presiden yang saat ini menjabat. Beliau menunjukkan komitmen untuk membatasi polarisasi, bukan mengompor-ngompori,” kata Habiburokhman.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *