Sudutkota.id – Festival Jauhar Muharram Singhasari (JMS) IV resmi dibuka di Lapangan Tumapel, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Sabtu (13/6/2026) malam. Ribuan warga memadati lokasi untuk mengikuti perayaan Tahun Baru Islam yang tidak hanya menjadi ajang syiar keagamaan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan mempererat kerukunan masyarakat.
Pembukaan JMS IV dilakukan langsung oleh Bupati Malang HM Sanusi, M.M. melalui prosesi pemukulan rebana bersama unsur Muspika serta tokoh masyarakat Singosari. Prosesi tersebut menandai dimulainya rangkaian kegiatan festival yang telah menjadi agenda budaya dan keagamaan masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Bupati Sanusi mengapresiasi panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan JMS IV. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga tradisi, memperkuat nilai-nilai keagamaan, sekaligus membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
Selain menjadi sarana syiar Islam, festival ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai potensi unggulan daerah. Pada pelaksanaan tahun ini, buah langsep diangkat sebagai ikon khas Singosari yang diharapkan semakin dikenal luas dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Sanusi menjelaskan, pengembangan produk unggulan daerah terus dilakukan di berbagai wilayah Kabupaten Malang. Beberapa komoditas yang telah menjadi identitas daerah antara lain klengkeng di Kasembon dan Tumpang, apel di Poncokusumo, alpukat di Lawang, serta pisang dari kawasan Malang Selatan.
“Kita terus memacu potensi-potensi daerah agar mampu mengangkat perekonomian Kabupaten Malang. Pada Februari 2026, Badan Pusat Statistik merilis pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang menempati urutan kedua terbaik di Jawa Timur,” ujar Sanusi.
Suasana pembukaan berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan. Ribuan warga yang memadati Lapangan Tumapel mengikuti rangkaian acara dengan antusias, menjadikan malam pembukaan berlangsung hangat dan khidmat.
Sementara itu, Ketua Panitia JMS IV, Ahsani Fathurrohman atau Gus Sani, menjelaskan bahwa Jauhar Muharram memiliki sejarah panjang di Singosari. Kegiatan tersebut pernah digelar pada 1992 dan 1994 sebelum vakum selama puluhan tahun.
Menurutnya, keinginan para sesepuh untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut menjadi alasan utama JMS kembali diselenggarakan. Kini, festival tersebut telah memasuki penyelenggaraan keempat sejak diaktifkan kembali.
“Jauhar Muharram merupakan milik bersama masyarakat Singosari. Karena itu, pelaksanaannya melibatkan berbagai elemen, mulai dari NU, Muhammadiyah, LDII, Persis, pemerintah kecamatan dan desa, komunitas masyarakat, hingga unsur lintas agama,” kata Gus Sani.
Di sisi lain, JMS IV juga menghadirkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menawarkan beragam produk lokal, mulai dari kuliner, kerajinan tangan hingga produk kreatif masyarakat. Kehadiran mereka menjadi salah satu daya tarik utama festival sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi warga.
Berbagai wahana hiburan rakyat turut meramaikan kawasan festival. Aneka permainan keluarga, jajanan tradisional, dan pusat keramaian masyarakat dipadati pengunjung dari berbagai daerah.
Kehadiran area UMKM dan hiburan rakyat tersebut semakin menguatkan peran JMS IV sebagai perayaan Tahun Baru Islam yang tidak hanya mempererat kerukunan masyarakat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal di Kecamatan Singosari.




















