Sudutkota.id – Usai melihat progres pembangunan Gereja Katedral Salib Suci Baru, Wakil Presiden (Wapres) RI, Gibran Rakabuming meninjau Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats, Kampung Yepem Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Minggu (21/06/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Wapres melihat langsung pengembangan sagu yang dijalankan melalui pendekatan berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal, yang menjadi ciri khas Sekolah Lapang Sagu Asmat dibandingkan sekolah lapang serupa di daerah lain.
Penanggung jawab Sekolah Lapang Sagu, Anton, menjelaskan bahwa program tersebut telah berjalan selama empat tahun dan dikembangkan dengan mengintegrasikan berbagai fungsi untuk mendukung penguatan sagu sebagai pangan lokal sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
“Dan ini berbeda dengan yang di Riau sama Sulawesi, karena di Indonesia ada tiga Sekolah Lapang Sagu,” ujar Anton usai mendampingi Wapres dalam peninjauan.
Menurutnya, Sekolah Lapang Sagu Asmat memiliki fokus yang berbeda dibandingkan sekolah lapang sagu lainnya.
“Yang di sini lebih ke memperkuat aspek lokal. Jadi, kalau yang di Meranti itu teknologi industri Sagu untuk skala besar. Yang disiplin skala lokal, Bapak Wapres. Jadi, di sini nanti lebih banyak pendekatan budaya. Sekaligus, di sini mengembangkan hilirisasinya,” jelasnya.
Saat ini, kawasan Sekolah Lapang Sagu Asmat memiliki luas sekitar enam hektare dan dikelola melalui kerja sama antara Keuskupan dengan pemerintah daerah.
Selain menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan sagu, lokasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pengolahan produk turunan sagu yang bernilai tambah bagi masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Anton juga menyampaikan bahwa tantangan utama yang masih dihadapi adalah akses menuju lokasi yang menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan kawasan.
Kunjungan Wapres ke Sekolah Lapang Sagu sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong penguatan pangan lokal berbasis potensi daerah.
Pengembangan sagu di Asmat dinilai memiliki peran strategis tidak hanya dalam mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjaga warisan budaya serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat melalui pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal.




















