Nasional

Batik Tak Cukup Jadi Warisan, Kurniasih Soroti Kemampuan Budaya Bertahan di Zaman Modern

4
×

Batik Tak Cukup Jadi Warisan, Kurniasih Soroti Kemampuan Budaya Bertahan di Zaman Modern

Share this article
Batik Tak Cukup Jadi Warisan, Kurniasih Soroti Kemampuan Budaya Bertahan di Zaman Modern
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati saat menyampaikan pandangan tentang pelestarian dan pengembangan batik sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia dalam momentum Hari Batik Nasional.(Sudutkota.id/Staff)

JAKARTA, Sudutkota.id – Batik menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar menjaga motif dan teknik pembuatannya. Agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, warisan budaya tersebut harus terus digunakan, dipahami, dan mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai yang diwariskan antargenerasi.

Persoalan keberlanjutan budaya itu menjadi perhatian Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati dalam momentum Hari Batik Nasional, (2/10/2026). Bagi Kurniasih, batik bukan hanya karya tekstil, tetapi juga membawa nilai, tradisi, dan identitas budaya yang terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Batik menyimpan ingatan kolektif masyarakat. Nilai-nilai leluhur, dongeng, hingga aturan adat diwariskan melalui motif dan tradisi penggunaannya. Warisan budaya itu dapat hadir secara visual, bahkan ketika tidak dituliskan,” kata Kurniasih.

Nilai tersebut salah satunya terlihat dari penggunaan batik dalam berbagai ritual adat. Batik yang dikenakan dalam acara mitoni atau pernikahan tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi menjadi bagian dari praktik budaya yang menghubungkan kehidupan masyarakat saat ini dengan tradisi yang diwariskan sebelumnya.

Di sisi lain, kemampuan batik untuk beradaptasi membuatnya tetap hadir dalam kehidupan modern. Batik kini tidak hanya digunakan sebagai kain atau busana tradisional, tetapi berkembang menjadi pakaian modern, gaun hingga bagian dari seni kontemporer. Perubahan bentuk tersebut membuka ruang agar batik tetap digunakan, termasuk oleh generasi muda.

“Ketika batik beradaptasi, kebudayaan tradisional tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Batik tetap bisa digunakan, dikembangkan, dan dikenal oleh generasi muda. Kemampuan untuk bertahan dan mengikuti perubahan inilah yang membuat batik terus relevan,” ujarnya.

Keberlanjutan batik juga berkaitan dengan ekonomi. Industri batik tulis, batik cap, serta berbagai inovasi produk batik melibatkan pelaku usaha dan industri kreatif, sehingga pelestarian budaya berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Batik merupakan bagian dari identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi kreatif. Batik juga menjadi sarana diplomasi budaya yang membawa kebudayaan Indonesia agar semakin dikenal,” kata Kurniasih.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *