MALANG KOTA, Sudutkota.id – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supiturang, Kota Malang, belum sepenuhnya berakhir. Memasuki hari ke-12, Minggu (1/11/2026), bara api masih tersimpan di bawah timbunan sampah dengan ketebalan mencapai sekitar 30 meter.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan ekstra karena api tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga merambat di lapisan dalam timbunan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mengungkapkan, masih terdapat sekitar enam hektare area yang membutuhkan penanganan intensif. Rinciannya, empat hektare berada di kawasan old landfill dan dua hektare di new landfill.
Artinya, dari total luasan kebakaran sekitar 13 hektare, masih terdapat kurang lebih 40 persen area yang belum sepenuhnya terkondisikan. Sementara sekitar 60 persen lainnya telah berhasil ditangani melalui pemadaman, pembasahan, dan pendinginan.
Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran M., M.AP., mengatakan, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar memadamkan kobaran api yang terlihat di permukaan, melainkan memastikan bara di dalam lapisan sampah benar-benar mati.
“Posisi sekarang memang sedang dilakukan pembasahan. Pada waktu siang, panasnya menguap, tetapi pada malam hari apinya bisa keluar lagi. Titik api memang tidak banyak, tetapi lokasinya berjauhan. Kalau tidak segera ditangani, bara tersebut berpotensi menambah titik api baru, baik di old landfill maupun new landfill,” ungkap Raymond, Minggu (1/11/2026).
Menurutnya, kondisi lapangan mulai menunjukkan perkembangan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Namun, munculnya asap dari sejumlah titik menjadi bukti bahwa proses pendinginan belum tuntas.
“Kalau dihitung dari total area yang terbakar sekitar 13 hektare, sekarang masih tersisa kurang lebih enam hektare yang harus kami tangani. Empat hektare di old landfill dan dua hektare di new landfill. Sekitar 60 persen sudah bisa dikondisikan, tetapi sisanya masih membutuhkan penanganan,” jelasnya.
Raymond menegaskan, kebakaran di kawasan landfill memiliki karakter berbeda dengan kebakaran biasa. Sumber panas dapat bertahan di bagian dalam timbunan sampah sehingga penyiraman permukaan tidak cukup untuk memastikan kebakaran benar-benar berakhir.
“Api ini keluar dari dalam sampah. Proses pendinginannya harus sampai ke bawah. Dengan kondisi seperti itu, belum bisa dianggap aman meskipun bagian permukaannya terlihat terkendali. Bisa dipastikan aman apabila asap sudah tidak keluar lagi. Saat ini, asap masih terlihat di empat hektare old landfill dan dua hektare new landfill,” tegasnya
Untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, petugas gabungan melakukan pembasahan sejak pukul 07.30 WIB hingga sore hari dengan membagi personel menjadi dua shift.
Pola penyisiran juga disesuaikan dengan kondisi lapangan. Jika sebelumnya petugas bergerak dari sisi timur menuju barat, kini arah penanganan dibalik dari sisi barat menuju timur. Langkah ini dilakukan agar titik-titik panas yang lokasinya berjauhan dapat ditangani secara bertahap.
Di sisi lain, dukungan water bombing dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih diperlukan, terutama untuk menjangkau kawasan selatan yang memiliki kontur tebing tinggi dan sulit diakses melalui jalur darat.
“Water bombing masih ada bantuan dari provinsi melalui gubernur. Untuk penanganan lebih detail, kami juga menyiapkan peralatan tambahan seperti pompa air. Air akan diambil dari sungai di sisi selatan, dekat titik awal kebakaran, kemudian dipompa menggunakan dua kali pompa untuk penyiraman di kawasan tebing,” terangnya.
Raymond menjelaskan, kawasan selatan menjadi salah satu titik paling berisiko karena kondisi timbunan sampah yang miring dan tidak stabil. Pemaksaan akses bagi petugas maupun alat berat berpotensi menimbulkan longsoran material.
“Lokasi sisi selatan cukup sulit dijangkau. Kami membutuhkan teknik dan peralatan khusus. Water bombing masih diperlukan untuk lokasi tebing tinggi tersebut. Tidak mungkin teman-teman dipaksakan masuk karena kondisi tumpukan sampahnya miring. Kalau sampai terbelah atau longsor, materialnya bisa menimpa petugas di lokasi,” paparnya.
Harapan agar hujan dengan intensitas tinggi membantu mempercepat pemadaman juga belum bisa menjadi solusi utama. Pasalnya, persoalan terbesar berada pada kedalaman sumber api yang tidak mudah dijangkau air dari permukaan.
Berbeda dengan kebakaran hutan yang umumnya membakar vegetasi di atas permukaan tanah, kebakaran landfill dapat menyisakan bara di dalam lapisan sampah yang sangat tebal.
“Ini berbeda dengan kebakaran hutan. Kalau hutan, kebakarannya berada di atas tanah. Sedangkan di TPA, posisi api masuk ke bawah timbunan sampah yang ketebalannya kurang lebih 30 meter. Makanya penyiraman dengan sistem injeksi air yang dilakukan teman-teman BPBD bersama tim terkait akan terus dilakukan,” ungkapnya.
Sistem injeksi air menjadi salah satu metode penting untuk menjangkau lapisan dalam timbunan yang tidak bisa didinginkan hanya melalui penyiraman biasa.
Selain itu, DLH juga menyiapkan pengerukan timbunan serta penutupan menggunakan material tanah urug maupun sirtu (pasir batu). Langkah tersebut bertujuan membuka bagian yang masih menyimpan bara, menurunkan suhu, sekaligus mengisolasi sumber panas.
“Berikutnya akan diproses pengerukan tanah maupun sirtu. Mudah-mudahan minggu ini sudah dilakukan pengerukan tanah atau sirtu di lokasi tersebut,” imbuh Raymond.
Berdasarkan laporan penanganan BPBD Kota Malang periode 21–30 Oktober 2026, kebakaran TPA Supit Urang yang mulai terjadi pada 21 Oktober telah melibatkan berbagai unsur lintas instansi.
Penanganan dilakukan melalui pemadaman darat, pembasahan, pendinginan, pembongkaran timbunan sampah, hingga dukungan pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing dari BPBD Provinsi Jawa Timur.
Dalam laporan tersebut, tercatat sebanyak 178 kali run water bombing selama 25–29 Oktober 2026. Dukungan armada darat juga melibatkan mobil pemadam kebakaran, mobil tangki air, water cannon, serta alat berat berupa excavator, bulldozer, dan dump truck.
Namun, besarnya dukungan personel dan peralatan tidak serta-merta membuat kebakaran cepat selesai. Karakteristik timbunan sampah yang tebal, titik panas berlapis, keterbatasan suplai air, angin kencang, serta medan yang tidak stabil menjadi sejumlah kendala utama.
Dampaknya juga tidak hanya menyangkut luas area yang terbakar. Laporan DLH mengidentifikasi kerusakan pipa lindi akibat panas kebakaran, kerusakan lapisan permukaan landfill, serta potensi gangguan pada sistem drainase dan sarana pendukung lainnya.
Kepulan asap dan bau menyengat turut menimbulkan kekhawatiran masyarakat sekitar. Potensi gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan tenggorokan menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian selama proses penanganan berlangsung.
Selain itu, aktivitas operasional penimbunan sampah di TPA juga terganggu karena sebagian kawasan masih digunakan untuk proses pemadaman dan pemulihan.
Raymond menegaskan, pihaknya tidak ingin terburu-buru menyatakan kebakaran selesai hanya karena kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat. Prioritas utama saat ini adalah memastikan sumber bara di dalam timbunan benar-benar padam, mencegah kebakaran berulang, sekaligus menjaga keselamatan petugas yang bekerja di lapangan.
“Penanganan tetap kami lakukan secara bertahap. Yang terpenting sekarang bagaimana titik panas di dalam timbunan bisa benar-benar didinginkan. Kami tidak ingin hanya terlihat padam di permukaan, tetapi ternyata bara masih tersimpan di bawah dan kembali memunculkan kebakaran,” pungkas Raymond.





















