KOTA MALANG, Sudutkota.id – Polemik di SMP Negeri 18 Kota Malang berujung pada pencopotan MAH dari jabatan Kepala SMPN 18 Malang. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengambil langkah tegas setelah menerima laporan terkait persoalan yang mencuat di lingkungan sekolah tersebut.
Wali Kota Malang, Dr Wahyu Hidayat menegaskan, keputusan menonaktifkan MAH telah dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) yang ditandatanganinya, pada Jumat (25/9/2026).
Menurut Wahyu, keputusan tersebut diambil setelah dirinya memperoleh informasi mengenai persoalan di SMPN 18 Malang, baik dari media sosial maupun pemberitaan dan informasi yang disampaikan wartawan.
“Setelah kami mendapatkan laporan dari media sosial, dari teman-teman wartawan, saya langsung perintahkan Pak Sekda dengan Pak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk Jumat pagi turun,” ujar Wahyu, Senin (28/9/2026).
Saat persoalan tersebut mencuat, Wahyu masih berada di Jakarta untuk menghadiri agenda penerimaan penghargaan dari kementerian. Namun, setelah menerima laporan dari Sekretaris Daerah dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, ia langsung meminta langkah tegas dilakukan.
“Dengan laporan tersebut saya langsung minta untuk dinonaktifkan,” tegasnya.
Penonaktifan itu tidak hanya berlaku terhadap jabatan MAH sebagai kepala sekolah. Wahyu memastikan MAH juga tidak lagi menjalankan aktivitas mengajar di SMPN 18 Malang selama proses penanganan persoalan berlangsung.
“Untuk kegiatan mengajarnya juga kami nonaktifkan. Jadi untuk sementara yang bersangkutan tidak melaksanakan kegiatan mengajar di SMPN 18,” jelas Wahyu.
Sebagai pengganti sementara, Pemkot Malang menunjuk Risna Widyawati, yang sebelumnya menjabat Kepala SMP Negeri 1 Malang, sebagai Pelaksana Harian (Plh) Kepala SMPN 18 Malang.
Risna mulai menjalankan tugas sebagai Plh Kepala SMPN 18 Malang, pada Senin (28/9/2026).
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemkot Malang untuk memastikan kegiatan belajar mengajar di SMPN 18 tetap berjalan setelah kepala sekolah dinonaktifkan.
Namun, Pemkot tidak berhenti pada pergantian pimpinan sekolah. Wahyu juga meminta agar kondisi psikologis siswa menjadi perhatian serius.
Ia menginstruksikan Dinas Sosial serta Dinas Kesehatan untuk memberikan pendampingan kepada siswa yang terdampak persoalan tersebut.
“Yang paling penting anak-anak jangan sampai terganggu psikologisnya. Karena itu saya minta Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pendampingan,” kata Wahyu.
Terkait laporan orang tua siswa kepada aparat kepolisian, Wahyu menegaskan Pemkot Malang tidak akan mencampuri proses hukum yang sedang berjalan.
“Apabila masalah hukum yang dilaporkan oleh orang tua, itu adalah masalah hukum,” ujarnya.
Sementara itu, Pemkot Malang mulai menggerakkan sejumlah organisasi perangkat daerah untuk memastikan suasana belajar di SMPN 18 kembali kondusif.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Malang R. Dandung Djulharjanto memimpin upacara di SMPN 18 Kota Malang, Senin (28/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Dandung sekaligus memperkenalkan Risna Widyawati sebagai Plh Kepala SMPN 18 Malang.
Dandung mengatakan, setelah penonaktifan kepala sekolah, perhatian Pemkot saat ini diarahkan pada keberlangsungan pembelajaran sekaligus pemulihan kondisi psikologis siswa.
“Utamanya yang menjadi perhatian adalah bagaimana tetap menjaga psikologis anak-anak. Oleh karena itu kami, dari Disdikbud, Dinkes, kemudian juga dari Dinsos P3AP2KB, ke sini semua dalam rangka memberikan pendampingan,” terang Dandung.
Pendampingan akan diberikan sesuai kebutuhan siswa. Bentuknya dapat berupa konseling dan pendampingan psikologis di sekolah, kantor Dinsos, maupun kunjungan ke rumah apabila diperlukan.
Pemkot juga berupaya mengembalikan suasana sekolah agar tetap nyaman bagi siswa. Dalam upacara tersebut, siswa diajak bernyanyi dan berinteraksi bersama untuk mencairkan suasana setelah munculnya polemik di lingkungan sekolah.
Dandung menegaskan, sekolah harus tetap menjadi ruang yang aman bagi siswa untuk belajar, bertemu teman, berinteraksi dan tumbuh tanpa tekanan.
“Kita harus menjaga psikologis anak-anak. Kita ciptakan, kita wujudkan suasana yang nyaman, kita ajak bergembira, agar mereka tetap merasa senang datang ke sekolah. Nanti ada pendampingan juga,” pungkas Dandung.





















