JAKARTA, Sudutkota.id – Pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia dinilai belum cukup hanya mengandalkan munculnya berbagai inovasi dan talenta lokal. Potensi tersebut perlu dikonsolidasikan agar riset, teknologi, industri, dan sumber daya manusia tidak berkembang sendiri-sendiri.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengambil peran strategis dalam menghubungkan perguruan tinggi, pusat riset, startup, industri, talenta, serta pengembang AI lokal. Menurutnya, Indonesia telah memiliki modal awal untuk membangun kekuatan AI yang berasal dari kemampuan bangsa sendiri.
“Indonesia sudah memiliki talenta dan berbagai inisiatif AI buatan lokal. Ini merupakan modal yang sangat berharga. BRIN dapat mengonsolidasikan kekuatan tersebut sehingga berkembang menjadi salah satu kekuatan AI besar yang dibangun dari kemampuan bangsa sendiri,” kata Kurniasih, Senin (14/9/2026).
Menurut Kurniasih, kebutuhan konsolidasi semakin penting seiring berkembangnya agentic artificial intelligence yang membuka peluang baru dalam pemanfaatan AI. Karena itu, ekosistem riset nasional perlu dibangun secara terhubung, mulai dari pengembangan model AI, infrastruktur komputasi, data, keamanan, hingga penerapannya untuk kebutuhan masyarakat.
“Yang kita perlukan adalah orkestrasi. BRIN bisa menjadi penghubung antara riset di perguruan tinggi, inovasi anak bangsa, pengembangan teknologi oleh industri, dan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, berbagai potensi yang sudah ada dapat menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.
Kurniasih juga menilai pengembangan AI seharusnya tidak berhenti pada kemampuan teknologi, tetapi diarahkan pada persoalan nyata di Indonesia. Sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, lingkungan, kebencanaan, transportasi hingga industri kreatif dinilai memiliki ruang besar untuk memanfaatkan teknologi tersebut.
Karakteristik Indonesia, menurutnya, justru dapat menjadi keunggulan dalam membangun AI yang relevan dengan kebutuhan nasional. Penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah juga perlu diperkuat agar teknologi AI tidak hanya mampu mengikuti perkembangan global, tetapi memahami konteks masyarakat Indonesia.
“AI yang kita kembangkan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kita memiliki persoalan, data, bahasa, budaya, dan karakteristik sendiri. Ini justru bisa menjadi keunggulan dalam membangun AI yang relevan dengan Indonesia,” ujar legislator Fraksi PKS itu.
Di sisi lain, Kurniasih mendorong agar riset AI memiliki jalur hilirisasi yang jelas. Hasil penelitian perlu diarahkan menjadi prototipe, kekayaan intelektual, produk teknologi maupun layanan yang dapat digunakan masyarakat dan dunia usaha. Penguatan talenta serta infrastruktur komputasi juga dinilai penting agar Indonesia tidak kehilangan sumber daya manusia terbaiknya.
“Kalau talenta, riset, data, infrastruktur, dan industri bisa terkoneksi dengan baik, kita memiliki fondasi yang kuat untuk membangun AI nasional. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga investasi untuk daya saing dan masa depan sumber daya manusia Indonesia,” pungkasnya.





















