BLORA, Sudutkota.id – Usulan Satuan Tugas (Satgas) MBG Blora untuk menutup SPPG Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, pasca insiden yang menyebabkan 216 jiwa mengalami keluhan kesehatan, tidak menjadi keputusan Badan Gizi Nasional (BGN).
BGN justru menjatuhkan sanksi langsung kepada kepala SPPG Sukorejo 2. Sementara yayasan yang menaungi dapur tersebut, yakni Yayasan Tirto Mirah Asih, tidak disebut sebagai pihak yang dikenai sanksi.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua BGN, Mayjen TNI (Purn) Trenggono usai melakukan pertemuan tertutup dan mengunjungi sejumlah korban yang masih menjalani perawatan di rumah sakit, Jumat (11/9/2026).
“Kita penanganan korban dulu. Sudah ditangani dengan baik, dan kita BGN ini memberikan tindakan kepala SPPG-nya,” ujar Trenggono saat ditanya mengenai sanksi terhadap Yayasan Tirto Mirah Asih yang menaungi SPPG Sukorejo 2.
Diketahui, Yayasan Tirto Mirah Asih menaungi sejumlah SPPG di Kabupaten Blora, di antaranya SPPG Sukorejo 2, SPPG Kedungjenar 1 dan SPPG Kedungjenar 2.
Yayasan tersebut juga memiliki SPPG di sejumlah daerah lain, di antaranya Kota Semarang, Kabupaten Batang dan Kabupaten Rembang.
Trenggono menilai kondisi SPPG Sukorejo 2 jauh dari standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan. Ia menyebut terdapat banyak prosedur yang tidak dijalankan dalam operasional dapur.
Atas temuan tersebut, BGN menjatuhkan sanksi berupa penghentian sementara atau suspend operasional selama 30 hari serta mencopot kepala SPPG.
“Ini dapurnya sangat tidak memenuhi syarat. Banyak sekali SOP yang tidak dilaksanakan. Kepala dapurnya jelas kita copot. Karena tidak patuh terhadap SOP,” tegasnya.
Terkait adanya laporan insiden keracunan ke aparat penegak hukum (APH), Trenggono mengatakan proses hukum dapat berjalan apabila nantinya ditemukan unsur pidana.
Menurut dia, BGN masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab insiden tersebut.
“Kalau ada unsur pidananya ya nanti akan kita tindak. Sementara hasil lab-nya masih proses,” katanya.
Ia menegaskan, penanganan terhadap siswa yang terdampak saat ini menjadi prioritas. Namun, masyarakat yang merasa terganggu dengan keberadaan SPPG juga dipersilakan menyampaikan laporan kepada BGN pusat.
“Silakan melaporkan ke BGN pusat, bahwa lingkungan terganggu, bisa dilaporkan,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan laporan kepada APH, Trenggono menyebut sudah terdapat Satgas MBG di daerah yang menangani persoalan tersebut.
“Di sini sudah ada satgas, jadi tolong bisa disesuaikan,” katanya.
Dalam kunjungannya ke rumah sakit, Trenggono mengatakan kondisi para siswa yang terdampak mulai membaik. Para korban saat ini menjalani perawatan di dua rumah sakit.
“Keracunan makanan Blora, hampir semua sudah sehat. Ada di dua rumah sakit, ini kondisinya sudah mulai membaik,” katanya.
Sementara terkait adanya penolakan terhadap menu MBG yang disajikan sebelum kejadian, Trenggono mengatakan pihaknya telah menanyakan langsung kepada sejumlah siswa terdampak.
Menurut dia, siswa yang ditemui tidak mempermasalahkan menu yang diberikan. Namun, di sisi lain, tetap terdapat siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan tersebut.
“Jadi begini, sudah saya cek terdampak siswa. Mereka menyampaikan menunya tidak ada masalah. Pada kenyataan ada yang terdampak,” pungkasnya.





















