SEMARANG, Sudutkota.id– Pemerintah Kabupaten Semarang mengambil langkah antisipatif menyikapi rencana pengembangan energi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha meminta seluruh aktivitas terkait rencana eksplorasi geothermal di wilayah tersebut dihentikan sementara hingga ada kejelasan informasi dan komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat.
Permintaan itu disampaikan Ngesti dalam Rapat Koordinasi Rencana Eksplorasi Panas Bumi di Kabupaten Semarang. Ia mengatakan, pemerintah daerah perlu memastikan setiap tahapan rencana pengembangan panas bumi berjalan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi maupun keresahan di tengah masyarakat.
“Untuk saat ini kami meminta seluruh kegiatan kajian maupun rencana eksplorasi di Gunung Ungaran ditunda terlebih dahulu. Yang paling penting, masyarakat mendapatkan ketenangan dan kondisi wilayah tetap aman serta kondusif,” kata Ngesti, Kamis (10/09).
Menurutnya, terdapat dua kawasan di Kabupaten Semarang yang berkaitan dengan pengembangan energi panas bumi, yakni Gunung Ungaran yang direncanakan dikembangkan PT PLN dan Gunung Telomoyo yang dikelola PT Geo Dipa Energi. Untuk Gunung Ungaran, pemerintah daerah mengaku masih menunggu penjelasan lebih rinci mengenai tahapan serta perkembangan rencana kegiatan di lapangan.
Ngesti menyebut informasi yang diterima pemerintah daerah dari PT PLN sejauh ini masih sebatas gambaran umum. Belum adanya penjelasan yang lebih detail mengenai progres kegiatan dinilai membuka ruang munculnya berbagai persepsi di masyarakat, termasuk informasi yang berkembang melalui media sosial.
Situasi berbeda terlihat dalam pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Telomoyo. PT Geo Dipa Energi dinilai lebih intensif membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, maupun masyarakat sekitar lokasi kegiatan.
“Kalau untuk Telomoyo, komunikasi antara Geo Dipa, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat terus berjalan. Untuk wilayah Banyubiru, kegiatan masih bisa dilaksanakan karena koordinasinya berjalan dengan baik,” ujarnya.
Langkah menunda rencana eksplorasi Gunung Ungaran juga tidak terlepas dari upaya Pemkab Semarang menjaga stabilitas sosial. Terlebih, daerah tersebut tengah bersiap menghadapi pemilihan kepala desa yang akan digelar di 140 desa. Pemerintah daerah tidak ingin isu geothermal berkembang menjadi persoalan yang memicu gejolak di masyarakat.
Di tingkat warga, kekhawatiran terhadap rencana pengeboran geothermal masih dirasakan. Budi, warga Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, mengatakan masyarakat membutuhkan penjelasan yang lebih komprehensif, terutama mengenai teknis kegiatan serta potensi dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan warga.
“Yang membuat masyarakat khawatir bukan semata-mata soal rencana geothermal, tetapi karena informasi yang diterima belum lengkap. Warga membutuhkan penjelasan yang jelas tentang bagaimana pengeboran dilakukan dan apa dampaknya bagi lingkungan maupun masyarakat,” kata Budi.
Pemkab Semarang pun mengimbau masyarakat tidak terburu-buru mempercayai informasi yang belum memiliki sumber jelas.
Pemerintah daerah meminta warga menunggu keterangan resmi dari pihak terkait sembari memastikan setiap perkembangan rencana geothermal Gunung Ungaran dikomunikasikan secara terbuka kepada masyarakat.





















