KOTA MALANG, Sudutkota.id – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang tak hanya mengejar peningkatan aktivitas olahraga, tetapi juga membidik penerimaan daerah dari pemanfaatan fasilitas olahraga.
Untuk itu, Pemkot Malang mengalokasikan Rp400 juta guna membenahi sekaligus menambah sarana dan prasarana olahraga. Anggaran tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan fasilitas sekaligus mengejar target retribusi sektor olahraga yang dipatok mencapai Rp1,9 miliar hingga akhir tahun.
Kepala Disporapar Kota Malang Arif Tri Sastriawan mengatakan, anggaran Rp400 juta tersebut diarahkan untuk sejumlah kebutuhan pembenahan fasilitas.
Di antaranya memperbaiki lampu, termasuk lampu sorot, serta membersihkan dan membenahi kamar mandi yang sebelumnya membutuhkan perhatian.
“Termasuk perbaikan lampu-lampu. Ada sekitar 10 titik lampu yang mati,” kata Arif, Senin (31/8/2026).
Pembenahan juga menyasar area lapangan luar dan lapangan mini soccer yang sebelumnya sempat tidak aktif. Dengan fasilitas yang kembali optimal, Disporapar berharap tingkat pemanfaatan sarana olahraga ikut meningkat.
Target Rp1,9 miliar bukan angka kecil. Disporapar harus mengoptimalkan seluruh fasilitas yang memiliki potensi menghasilkan retribusi.
Arif menyebut, kontribusi terbesar penerimaan dari sarana olahraga selama ini berasal dari stadion, lapangan mini soccer, dan lapangan tenis.
Karena itu, pembenahan fasilitas tidak hanya diarahkan pada aspek pelayanan, tetapi juga harus berdampak terhadap optimalisasi pendapatan daerah.
Selain membenahi fisik, Disporapar juga mulai mengubah tata kelola pemanfaatan fasilitas melalui sistem pembayaran non-tunai atau cashless.
Transaksi dilakukan melalui aplikasi SIMBAE, yang dikembangkan bidang olahraga. Sistem tersebut memungkinkan masyarakat maupun pihak luar melihat jadwal pemakaian fasilitas sekaligus mengetahui tanggal yang masih tersedia.
Langkah ini sekaligus membuka akses informasi yang lebih transparan bagi calon pengguna fasilitas. Mereka tidak harus datang atau bertanya langsung kepada pengelola hanya untuk mengetahui ketersediaan jadwal.
Sejumlah agenda besar juga telah masuk ke dalam sistem. Di antaranya rencana konser musik pada September atau Oktober serta agenda grup musik Ungu pada November.
Untuk kegiatan dengan durasi sekitar tiga hari, potensi pendapatan sewa fasilitas diperkirakan mencapai Rp100 juta.
Upaya mengerek PAD juga diarahkan pada optimalisasi aset yang masih memiliki peluang dikembangkan.
Disporapar membuka peluang investasi untuk dua lapangan tenis yang berada di atas Malang Olympic Garden (MOG).
Arif mengatakan, fasilitas tersebut dapat ditawarkan kepada investor apabila ada pihak yang berminat mengembangkan atau mengelolanya. Namun, prosesnya masih berada pada tahap penjajakan.
“Kalau ada investor yang berminat, kita buka peluang. Saat ini baru sebatas tanya-tanya dan penjajakan,” jelasnya.
Rencana pemanfaatan kawasan tersebut tetap akan disesuaikan dengan arah kebijakan Pemkot Malang. Sebab, sebelumnya Wali Kota Malang Wahyu Hidayat memiliki gagasan agar kawasan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk aktivitas sepeda pedal.
Dengan suntikan Rp400 juta, target retribusi Rp1,9 miliar, digitalisasi transaksi melalui SIMBAE, serta peluang investasi dua lapangan tenis di atas MOG, Disporapar kini dituntut tidak sekadar mempercantik fasilitas.
Ujian utamanya adalah apakah pembenahan tersebut mampu meningkatkan pemanfaatan aset, memperbaiki pelayanan, sekaligus benar-benar mendongkrak PAD Kota Malang.





















