Daerah

DLH Kabupaten Malang Ubah Kantor Jadi Living Lab, ASN Ditarget 5.000 Langkah Sehari

5
×

DLH Kabupaten Malang Ubah Kantor Jadi Living Lab, ASN Ditarget 5.000 Langkah Sehari

Share this article
DLH Kabupaten Malang Ubah Kantor Jadi Living Lab, ASN Ditarget 5.000 Langkah Sehari
Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman saat menjelaskan penerapan konsep Eco Office di kantor DLH Kabupaten Malang.(Foto:sudutkota.id/istimewa)

KABUPATEN MALANG, Sudutkota.idDinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang mulai mengubah wajah dan pola kerja perkantoran melalui penerapan konsep Eco Office. Kantor yang diresmikan Bupati Malang HM Sanusi, Senin (31/8/2026), tersebut tidak hanya dirancang ramah lingkungan, tetapi juga menjadi living lab atau laboratorium hidup yang bisa dipelajari masyarakat.

Konsep ini mencakup pengelolaan energi, air, sampah hingga perubahan kebiasaan pegawai. Pemkab Malang bahkan menargetkan konsep serupa dapat diterapkan di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), badan hingga kecamatan.

“Hal ini akan menjadi percontohan, khususnya di Kabupaten Malang. Semua dinas dan badan, hingga kecamatan akan didorong untuk menerapkan hal serupa,” kata Sanusi.

Menurut Sanusi, Eco Office DLH juga akan dikembangkan sebagai inovasi daerah dan disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Ia berharap penerapan kantor ramah lingkungan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi ikut menekan persoalan perubahan iklim dan polusi.

Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman mengatakan, konsep tersebut dibangun sebagai respons terhadap triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, polusi dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Karena itu, perubahan tidak hanya dilakukan pada infrastruktur, tetapi juga menyasar budaya kerja pegawai. Dari sisi energi, kantor memanfaatkan solar cell, sementara air hujan ditampung dan digunakan kembali untuk kebutuhan tertentu.

DLH juga menerapkan sistem irigasi berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengoptimalkan pemanfaatan air. Pengelolaan sampah dilakukan melalui komposting mandiri, pemanfaatan biogas untuk sampah organik serta kerja sama dengan bank sampah.

Di bidang administrasi, penggunaan kertas mulai ditekan melalui sistem paperless. Disposisi dapat dilakukan melalui WhatsApp, sedangkan tanda tangan digital digunakan untuk mengurangi kebutuhan dokumen fisik.

Perubahan juga menyentuh mobilitas pegawai. DLH mendorong carpooling bagi pegawai dengan lokasi keberangkatan berdekatan. Pegawai yang tinggal tidak jauh dari kantor juga didorong menggunakan sepeda.

Yang menarik, aktivitas fisik pegawai ikut menjadi bagian dari program eco-work. Setiap individu ditargetkan berjalan minimal 5.000 langkah per hari dan capaian tersebut dievaluasi setiap bulan.

“Setiap individu kita targetkan minimal sehari 5.000 langkah per hari, dan akan kita evaluasi per bulan. Tertinggi akan mendapatkan reward,” ujar Dzulfikar.

Setiap Jumat, pegawai juga melakukan pemungutan sampah di sekitar kantor. Sampah yang terkumpul ditimbang dan menjadi bagian dari evaluasi kegiatan. Sementara program Green Charity mendorong pegawai melakukan aksi lingkungan, salah satunya melalui penanaman pohon.

Dzulfikar menjelaskan, konsep Eco Office telah dirancang sejak 2025. Kantor tersebut kemudian dikembangkan sebagai living lab agar pelajar, mahasiswa maupun masyarakat dapat melihat langsung teknologi dan sistem pengelolaan lingkungan yang diterapkan.

Sejumlah kelompok pendidikan telah mengunjungi kantor tersebut, termasuk siswa MTsN 3 Lawang dan SDN Pakisaji 1 serta mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Menurut Dzulfikar, teknologi yang digunakan sengaja diarahkan agar bisa ditiru masyarakat. Termasuk penggunaan solar cell, yang tidak hanya diperkenalkan sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai bahan edukasi mengenai kebutuhan daya, instalasi dan proses perizinannya.

“Bukan teknologi yang canggih seperti apa, tapi yang bisa diakomodir di level perumahan,” jelasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *