Pendidikan

400 Lulusan UNITRI Diingatkan: Gelar Sarjana Bukan Tiket, Tapi Tanggung Jawab untuk Masyarakat

11
×

400 Lulusan UNITRI Diingatkan: Gelar Sarjana Bukan Tiket, Tapi Tanggung Jawab untuk Masyarakat

Share this article
400 Lulusan UNITRI Diingatkan: Gelar Sarjana Bukan Tiket, Tapi Tanggung Jawab untuk Masyarakat
Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, saat memberikan keterangan kepada awak media usai pelaksanaan Wisuda ke-52 UNITRI, Sabtu (22/8/2026).(Foto:sudutkota.id/Andik Agus Demit)

KOTA MALANG, Sudutkota.id – Wisuda bukan garis akhir. Justru setelah toga dilepas dan ijazah diterima, tanggung jawab seorang sarjana dimulai. Pesan itu ditegaskan Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, kepada 400 lulusan yang dikukuhkan dalam Wisuda ke-52 Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (22/8/2026).

Dodi menilai gelar akademik tidak seharusnya dipandang sebagai tiket untuk memperoleh pekerjaan atau sekadar simbol keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Gelar harus dibarengi kemampuan untuk memberikan manfaat dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Lulusan itu adalah sebuah beban, beban yang harus segera diberikan kepada masyarakat. Artinya, kontribusi apa ke masyarakat yang harus disampaikan dan diaktualisasikan,” tegas Dodi.

Pernyataan tersebut menjadi pesan keras bagi para lulusan UNITRI agar tidak berhenti pada pencapaian akademik. Setelah bertahun-tahun berada di bangku kuliah, mereka kini dituntut membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari memiliki manfaat di luar lingkungan kampus.

Menurut Dodi, kontribusi tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk pekerjaan di perusahaan besar maupun jabatan di pemerintahan. Seorang lulusan dapat memulainya dari lingkungan terkecil, komunitas, organisasi, dunia usaha hingga membangun usaha sendiri.

“Beban” setelah wisuda itu, kata Dodi, adalah kemampuan untuk mengaktualisasikan ilmu sesuai kebutuhan masyarakat.

Dodi menyebut UNITRI memiliki modal cukup kuat untuk mendorong alumninya berkiprah di berbagai daerah. Berdasarkan hasil tracer study, sekitar 80 persen alumni UNITRI tercatat terserap dalam dunia kerja, menjadi wirausahawan maupun menjalankan aktivitas produktif lainnya.

Angka tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa lulusan UNITRI memiliki daya saing ketika kembali ke daerah asal.

“Yang paling membanggakan dari lulusan UNITRI kalau ke daerah, mereka punya kemampuan bersaing yang cukup bagus. Data tracer study kita, 80 persen dari alumni kita keterserapan di dunia kerja, menjadi wirausahawan atau apa pun itu selalu cukup baik,” ujarnya.

Namun, Dodi menegaskan ukuran keberhasilan alumni tidak semata-mata ditentukan oleh status sebagai pekerja. Kemampuan menciptakan solusi, membuka peluang dan memberikan dampak bagi lingkungan juga menjadi bagian penting dari keberhasilan seorang lulusan.

Terlebih, persaingan dunia kerja terus berubah. Ijazah dan gelar akademik saja dinilai tidak cukup jika tidak dibarengi kompetensi, kemampuan beradaptasi serta keberanian membaca persoalan di lapangan.

Karena itu, UNITRI juga membekali mahasiswa dengan berbagai penguatan kompetensi di luar materi perkuliahan. Salah satunya melalui kursus-kursus singkat yang diarahkan untuk memberikan nilai tambah sebelum mahasiswa benar-benar masuk ke dunia kerja.

Pesan lain yang disampaikan Dodi adalah pentingnya menjaga hubungan alumni dengan daerah asal sekaligus dengan almamater.

Alumni diharapkan tidak hanya menjadi lulusan yang kemudian terputus dari kampus. Mereka justru didorong menjadi simpul jaringan yang menghubungkan kebutuhan masyarakat di daerah dengan sumber daya pengetahuan yang dimiliki UNITRI.

Dodi menyebut sudah ada alumni yang berkiprah di berbagai wilayah, termasuk Sumba Barat Daya dan Kalimantan Tengah. Sebagian di antaranya bahkan mulai meminta dukungan jaringan dosen UNITRI untuk membantu menghadirkan inovasi di tempat mereka bekerja.

“Teman-teman yang paling bisa ada di Sumba Barat Daya, kemudian ada yang menjadi staf di kelapa sawit Kalimantan Tengah. Mereka meminta networking dari beberapa dosen kita supaya bisa membantu memberikan inovasi,” ungkapnya.

Menurut Dodi, pola tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kampus dan alumni tidak seharusnya berhenti setelah wisuda. Pengetahuan dari perguruan tinggi harus terus mengalir ke masyarakat melalui jaringan alumni.

Pada Wisuda ke-52, sebanyak 400 lulusan dikukuhkan dari sejumlah fakultas dan sekolah pascasarjana.

Rinciannya, Sekolah Pascasarjana enam lulusan, Fakultas Pertanian 11 lulusan, Fakultas Ekonomi 188 lulusan, Fakultas Teknik dan Teknologi 80 lulusan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 68 lulusan, Fakultas Ilmu Kesehatan 12 lulusan, serta Fakultas Ilmu Pendidikan 35 lulusan.

Fakultas Ekonomi menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 188 wisudawan. Kemudian Fakultas Teknik dan Teknologi 80 lulusan serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 68 lulusan.

UNITRI juga memberikan penghargaan kepada wisudawan terbaik dari masing-masing fakultas dan sekolah pascasarjana.

Wisudawan terbaik Sekolah Pascasarjana diraih Mariela Seixas Miranda, M.P., dari Program Studi Magister Ekonomi Pertanian dengan IPK 3,93.

Fakultas Pertanian menempatkan Apria Fransiska, S.P., Program Studi Agribisnis, sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,64.

Fakultas Ekonomi memberikan predikat terbaik kepada Yosep Perianto, S.M., Program Studi Manajemen, dengan IPK 3,97.

Sementara itu, Anggita Erlin Riftasari, S.A.P., dari Program Studi Administrasi Publik menjadi wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan IPK 3,93.

Dari Fakultas Teknik dan Teknologi, predikat wisudawan terbaik diraih Larasati Fauzia Rahmi, S.T., Program Studi Teknik Kimia, dengan IPK 3,85.

Fakultas Ilmu Kesehatan menempatkan Aletha Astari Alu Malo Umbu, S.Kep., Program Studi Keperawatan, sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,71.

Sedangkan Fakultas Ilmu Pendidikan memberikan predikat terbaik kepada Ranti Nur Aripa, S.Pd., Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dengan IPK 3,94.

Untuk tingkat universitas, predikat Wisudawan Terbaik Tingkat Universitas Program Sarjana dan Pascasarjana diraih Yosep Perianto, S.M., dari Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dengan IPK 3,97.

UNITRI juga memberikan predikat wisudawan inspiratif kepada salah satu lulusan Teknik Kimia yang dinilai mampu mengubah persoalan di masyarakat menjadi peluang inovasi.

Wisudawan tersebut mengembangkan pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk bernilai guna. Bagi Dodi, langkah tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak harus berhenti dalam teori maupun laboratorium.

“Dia tahu potensi di masyarakat banyak, dan dia belajar di sini, teknologi pemrosesan sederhana ini dia concern di sini,” katanya.

Dodi berharap semakin banyak lulusan UNITRI memiliki kepekaan terhadap persoalan di lingkungan terdekatnya. Sebab, menurut dia, inovasi yang berdampak tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.

“Jadi kita berharap akan semakin banyak anak-anak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan terkecilnya,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *