DaerahPeristiwa

43 Kebakaran Permukiman Terjadi di Blora Semester I 2026, Kerugian Tembus Rp6,37 Miliar

19
×

43 Kebakaran Permukiman Terjadi di Blora Semester I 2026, Kerugian Tembus Rp6,37 Miliar

Share this article
Foto ilustrasi. Sebuah rumah dan kandang milik warga di Desa Sembongin, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, ludes terbakar.(Foto:Sudutkota.id/Farros)

BLORA, Sudutkota.id – Sebanyak 43 kejadian kebakaran di kawasan permukiman tercatat terjadi di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari kejadian yang tercatat, kerugian material sedikitnya mencapai Rp6,37 miliar.

Angka tersebut merupakan akumulasi kerugian yang nominalnya tercatat dalam data kejadian. Namun, nilai itu belum menggambarkan keseluruhan kerugian akibat kebakaran karena masih terdapat sejumlah kejadian yang tidak mencantumkan nominal kerugian.

Kepala Satpol PP Kabupaten Blora, Pujo Catur Susanto, mengatakan data 43 kejadian tersebut merupakan catatan kebakaran di kawasan permukiman. Sementara untuk kebakaran lahan, pihaknya belum memiliki data pasti karena penanganannya merupakan data gabungan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Jadi kejadian tersebut tercatat 43 yang kebakaran di permukiman. Kalau lahan kita tidak memiliki data pastinya karena kita gabungan BPBD,” ujar Pujo saat ditemui Selasa (11/8/2026).

Dari 43 kejadian tersebut, kebakaran rumah menjadi kejadian yang paling dominan. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 27 kejadian merupakan kebakaran rumah.

Pujo menyebut korsleting listrik menjadi salah satu penyebab yang paling banyak ditemukan dalam kejadian kebakaran.

“Yang paling banyak itu penanganan di luar kebakaran. Kejadian kebakaran itu ngakunya yang terbanyak dari konsleting listrik,” katanya.

Menurut Pujo, kebakaran juga lebih sering ditemukan berasal dari bagian belakang bangunan. Lokasi tersebut umumnya berada di sekitar dapur maupun kandang.

“Makanya yang terbakar rata-rata dari belakang, biasanya itu dari kandang atau dapur, jarang sekali dari ruang tengah,” ujarnya.

Sementara berdasarkan data kerugian, salah satu kejadian dengan nilai kerugian terbesar terjadi pada kebakaran ruko di Kecamatan Ngawen yang ditaksir mencapai Rp4,5 miliar. Disusul kebakaran pabrik briket di Kecamatan Kunduran dengan kerugian sekitar Rp1 miliar.

Pujo menegaskan, angka Rp6,37 miliar tersebut belum mencakup seluruh kerugian akibat kebakaran yang terjadi selama periode tersebut.

“Dengan kerugian yang tertulis sekian tadi dan sebanyak kerugian sesuai data itu, ada juga beberapa kerugian yang tidak tertulis,” katanya.

Dengan demikian, Rp6,37 miliar merupakan akumulasi kerugian yang tercatat dan dapat dihitung dari data yang tersedia, sedangkan total kerugian sebenarnya berpotensi lebih besar karena masih terdapat sejumlah kejadian yang nilai kerugiannya belum tercatat.

Data tersebut juga belum mencakup secara pasti jumlah kebakaran lahan, sehingga angka 43 kejadian merupakan catatan kebakaran di kawasan permukiman selama Januari hingga Juni 2026.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *