Sudutkota.id – Di tengah derasnya arus informasi digital yang bergerak tanpa batas ruang dan waktu, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menilai kemampuan public speaking tidak lagi hanya menjadi keterampilan berbicara di depan umum.
Lebih dari itu, kemampuan menyampaikan informasi secara benar, beretika, dan bertanggung jawab kini menjadi kebutuhan penting untuk membangun masyarakat yang cerdas sekaligus mampu menangkal penyebaran hoaks.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Public Speaking yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang. Kegiatan yang diikuti 166 peserta ini merupakan hasil aspirasi masyarakat melalui mekanisme Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPRD Kota Malang, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang komunikasi publik.
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Diskominfo Kota Malang beserta anggota DPRD yang telah menginisiasi pelatihan tersebut. Menurutnya, program ini lahir dari kebutuhan masyarakat di tengah perubahan pola komunikasi yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital.

“Kami mengapresiasi Diskominfo Kota Malang beserta jajaran dan anggota DPRD yang melalui Pokir telah menghadirkan pelatihan ini. Saya yakin kegiatan ini memang lahir dari kebutuhan masyarakat agar memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga cara penyampaiannya. Seorang komunikator harus mampu memahami karakter audiens sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima secara utuh tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
“Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mampu menyesuaikan dengan siapa kita berbicara. Cara berbicara kepada masyarakat tentu berbeda ketika mengajar di kelas, berdialog dengan keluarga, maupun saat menyampaikan materi dalam forum resmi,” jelasnya.
Menurut Wakil Wali Kota, perkembangan teknologi telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara drastis. Melalui telepon pintar yang kini dimiliki hampir setiap orang, informasi dapat menyebar dalam hitungan detik ke berbagai daerah bahkan lintas negara.
Kondisi ini memberikan peluang besar, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan serius apabila informasi yang disampaikan tidak akurat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, ia menilai masyarakat harus memiliki kemampuan menyampaikan informasi secara singkat, jelas, efektif, serta mampu memberikan manfaat bagi publik.
“Public speaking pada dasarnya adalah kemampuan mentransfer pengetahuan, gagasan, dan pesan kepada orang lain dengan cara yang tepat. Yang paling penting bukan hanya pesannya tersampaikan, tetapi bagaimana masyarakat memahami dan memperoleh manfaat dari informasi tersebut,” katanya.
Sementara itu, Kepala Diskominfo Kota Malang, Muhammad Nur Widianto, S.Sos, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak semata-mata mengajarkan teknik berbicara di depan umum, melainkan juga membangun kesadaran akan pentingnya etika komunikasi di era digital.
Menurutnya, ruang digital saat ini dipenuhi berbagai tantangan, mulai dari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, informasi menyesatkan, hingga konten yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.
Karena itu, kemampuan berbicara harus dibarengi dengan karakter, integritas, dan tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi.
“Public speaking bukan hanya soal pandai berbicara atau merangkai kata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menata hati, pikiran, serta menjaga etika ketika menyampaikan pesan kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap para peserta tidak hanya menjadi komunikator yang percaya diri, tetapi juga mampu menjadi penyebar informasi yang positif, santun, dan dapat dipercaya. Menurutnya, nilai-nilai budaya ketimuran, sopan santun, serta norma agama harus tetap menjadi fondasi dalam setiap komunikasi publik, termasuk di media sosial.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber profesional yang membekali peserta mengenai teknik berbicara di depan umum, penyusunan materi komunikasi yang efektif, pengelolaan rasa percaya diri, hingga strategi menghadapi berbagai karakter audiens.
Selain pelatihan public speaking, Diskominfo Kota Malang juga secara konsisten mengembangkan berbagai program peningkatan literasi komunikasi masyarakat melalui pelatihan Master of Ceremony (MC) dan keprotokolan, jurnalisme warga, pengelolaan media sosial, desain grafis, serta fotografi dasar.
Seluruh program tersebut didukung melalui APBD Kota Malang dalam Program Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik.
Melalui berbagai program tersebut, Pemkot Malang berharap lahir lebih banyak masyarakat yang mampu menjadi komunikator publik yang profesional, berintegritas, serta bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan berbicara yang baik tidak lagi sekadar menjadi persoalan gaya, tetapi menjadi instrumen penting untuk menjaga kualitas informasi, memperkuat literasi digital, dan membangun kepercayaan publik.




















