Daerah

Di Usia 112, Kota Malang Jadi yang Pertama Dipercaya Dunia di Bidang Media Art

6
×

Di Usia 112, Kota Malang Jadi yang Pertama Dipercaya Dunia di Bidang Media Art

Share this article
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama jajaran Forkopimda dan tamu undangan berfoto di depan landmark “Malang City of Media Art” usai peresmian, bertepatan dengan HUT ke-112 Kota Malang. (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Sejarah baru ditorehkan Kota Malang tepat di hari jadinya yang ke-112, Rabu (1/4/2026). Bukan sekadar perayaan ulang tahun, momentum ini menjadi titik lonjakan besar, Malang resmi menegaskan diri sebagai kota kreatif dunia di bidang media art, bahkan disebut sebagai yang pertama dipercaya dalam penguatan identitas tersebut di level global.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, tak menampik bahwa capaian ini menjadi kebanggaan sekaligus tantangan besar ke depan. Ia menyebut, pengakuan internasional yang diraih melalui jejaring UNESCO Creative Cities Network bukanlah hasil instan.

“Ini momen bersejarah. Tepat di usia 112 tahun, Kota Malang mendapatkan pengakuan dunia. Dan ini bukan perjalanan yang mudah, tapi hasil kerja panjang dan kolaborasi semua pihak,” tegas Wahyu.

Pengakuan tersebut ditandai dengan peluncuran logo “Malang City of Media Art” yang menjadi simbol identitas baru kota. Logo ini tidak sekadar ornamen visual, melainkan representasi arah pembangunan Kota Malang yang kini berbasis kreativitas, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Menurut Wahyu, keberhasilan ini lahir dari model kolaborasi hexahelix yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, perbankan, dan media. Namun yang paling menonjol, kata dia, adalah kekuatan gerakan dari akar rumput.

“Gerakan ini tumbuh dari komunitas, dari anak-anak muda, dari ruang-ruang kreatif yang sederhana. Lalu berkembang menjadi kekuatan besar yang akhirnya diakui dunia,” ungkapnya.

Ia menegaskan, Pemerintah Kota Malang tidak berdiri sebagai pemain tunggal, melainkan berperan sebagai enabler, fasilitator, dan akselerator agar ekosistem kreatif terus tumbuh secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

Lebih jauh, Wahyu mengingatkan bahwa status kota kreatif dunia bukan garis akhir, melainkan titik awal untuk bekerja lebih keras. Ia menekankan pentingnya pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan ekosistem ide, inovasi, dan ruang ekspresi.

“Ke depan, pembangunan harus mampu mendorong lahirnya kreativitas, membuka lapangan kerja, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan memperkuat daya saing daerah,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Pemkot Malang juga meresmikan landmark kota kreatif dunia yang ditempatkan di sejumlah titik strategis. Ikon tersebut diharapkan menjadi daya tarik baru sekaligus ruang interaksi publik, terutama bagi generasi muda.

Tak hanya itu, penempatan landmark ini juga mempertimbangkan kebiasaan masyarakat yang gemar berfoto dan membagikannya di media sosial. Dengan demikian, branding Kota Malang sebagai kota kreatif dunia dapat semakin kuat dan menyebar secara organik.

“Ini kita siapkan sebagai ruang publik yang hidup. Tempat masyarakat berinteraksi, berkreasi, sekaligus memperkuat identitas kota,” jelas Wahyu.

Ia juga menegaskan bahwa capaian ini menempatkan Kota Malang sejajar dengan kota-kota kreatif dunia lainnya. Sebuah posisi strategis yang harus dijaga dengan konsistensi dan inovasi berkelanjutan.

Di akhir pernyataannya, Wahyu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak berhenti pada rasa bangga semata, tetapi menjadikan momentum ini sebagai gerakan bersama.

“Mari kita hidupkan kota ini dengan kreativitas. Kita dorong inovasi tanpa batas, dan kita jadikan Malang sebagai rumah bagi ide-ide besar,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *