Wisata

Viral Hiu Paus di Sendang Biru Jadi Sinyal Kuat Malang Selatan Siap Naik Kelas sebagai Destinasi Ekowisata Bahari Dunia

70
×

Viral Hiu Paus di Sendang Biru Jadi Sinyal Kuat Malang Selatan Siap Naik Kelas sebagai Destinasi Ekowisata Bahari Dunia

Share this article
Viral Hiu Paus di Sendang Biru Jadi Sinyal Kuat Malang Selatan Siap Naik Kelas sebagai Destinasi Ekowisata Bahari Dunia
Ilustrasi satwa air dilindungi yang ada di laut Malang Selatan.(foto:sudutkota.id/Sahabat Alam Indonesia)

Sudutkota.id – Aksi pelepasan hiu paus oleh nelayan di kawasan Sendang Biru, Kabupaten Malang, pada Jumat (10/4/2026) lalu, bukan sekadar peristiwa viral di media sosial.

Momentum tersebut kini dibaca sebagai penanda kuat bahwa wilayah laut Malang Selatan menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata bahari berkelas internasional.

Fenomena kemunculan hiu paus di perairan selatan Kabupaten Malang menunjukkan tingginya produktivitas ekosistem laut di kawasan Samudera Hindia.

Wilayah ini dikenal sebagai zona upwelling, yakni proses naiknya massa air laut dingin yang kaya nutrisi ke permukaan. Kondisi tersebut memicu ledakan plankton yang menjadi sumber makanan berbagai biota laut, mulai dari ikan kecil hingga mamalia laut berukuran besar.

Tak heran, perairan Malang Selatan kerap menjadi jalur lintasan beragam spesies laut langka dan dilindungi.

Data lapangan menunjukkan keberadaan sedikitnya empat jenis penyu, empat jenis lumba-lumba, serta tujuh spesies paus yang pernah teridentifikasi di kawasan ini, termasuk paus biru dan paus bungkuk.

Selain itu, hiu paus yang merupakan ikan terbesar di dunia juga tercatat beberapa kali muncul di perairan tersebut.

Menariknya, interaksi antara nelayan dan satwa laut dilindungi di kawasan ini cenderung berujung pada aksi penyelamatan.

Dalam beberapa kasus, nelayan secara sukarela melepaskan kembali hiu paus atau lumba-lumba yang terjaring, mencerminkan meningkatnya kesadaran konservasi di tingkat masyarakat pesisir.

Founder Sahabat Alam Indonesia, Andik Syaifudin, menilai potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, pengembangan ekowisata bahari di Malang Selatan dapat menjadi magnet baru bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Dengan kekayaan biodiversitas yang ada, Malang memiliki daya tarik unik. Tinggal bagaimana memperkuat komponen utama pariwisata seperti amenitas, aksesibilitas, atraksi, serta dukungan layanan dan aktivitas wisata,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ia menambahkan, beberapa titik yang dinilai strategis untuk pengembangan wisata pengamatan satwa laut (marine wildlife watching) antara lain kawasan Kondang Merak di Kecamatan Bantur dan Sendang Biru di Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Kedua lokasi ini dikenal sebagai titik kemunculan lumba-lumba, paus, hingga hiu paus.

Konsep ekowisata bahari yang diusung tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga mengedepankan lima pilar utama, yakni konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi lokal, edukasi, serta pengalaman wisata yang berkelanjutan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, menyatakan pihaknya mendukung penuh pengembangan potensi tersebut.

Pemerintah, kata dia, berkomitmen mendorong pengelolaan pariwisata yang selaras antara pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami berupaya menghadirkan kebijakan yang mampu mengangkat potensi alam Kabupaten Malang agar dikenal luas dan mampu bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.

Namun demikian, pengembangan ekowisata bahari tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, organisasi non-pemerintah, serta media.

Dengan sinergi tersebut, Malang Selatan berpeluang besar bertransformasi dari kawasan pesisir yang kaya potensi menjadi destinasi unggulan ekowisata bahari yang berdaya saing global, tanpa mengorbankan kelestarian alamnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *