Daerah

Viral, Anggota DPRD Jember Main Gim dan Merokok Saat Bahas Stunting

21
×

Viral, Anggota DPRD Jember Main Gim dan Merokok Saat Bahas Stunting

Share this article
Akhmad Sahri, anggota Komisi D DPRD Jember, kedapatan bermain gim sambil merokok saat rapat pembahasan stunting, Senin (11/5/2026). (Yunus for Sudutkota.id)

Sudutkota.id – Video seorang anggota Komisi D DPRD Jember yang diduga bermain gim sambil merokok saat rapat pembahasan stunting viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi saat Komisi D DPRD Jember menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama jajaran Dinas Kesehatan, puskesmas, dan Dinas Sosial, Senin (11/5/2026).

Dalam rapat tersebut, para peserta tengah membahas tingginya angka stunting serta Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Jember. Namun, di tengah suasana rapat yang serius, Akhmad Sahri, anggota Komisi D DPRD Jember dari Fraksi Gerindra, terlihat bermain gim di telepon genggamnya sambil merokok.

Saat itu, pimpinan rapat Indi Naidha dan Achmad Dhafir Syah tengah menyoroti ketidaksinkronan data AKI, AKB, dan stunting di Jember yang dinilai masih tinggi.

Video tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Akhmad Sahri diduga tidak menyadari aksinya terekam kamera awak media yang sedang melakukan siaran langsung dari lokasi rapat. Tak lama setelah video beredar, berbagai komentar dan kritik dari netizen pun bermunculan.

Akhmad Sahri diketahui merupakan anggota DPRD Jember periode 2024–2029 dan termasuk salah satu legislator termuda. Saat dilantik, usianya masih 25 tahun. Ia juga merupakan putra sulung mantan anggota DPR RI, Achmad Fadil Muzakki Syah atau Ra Fadil.

Sebelumnya, Komisi D DPRD Jember memang menyoroti ketidaksinkronan data Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dengan data kementerian terkait AKI, AKB, dan angka stunting.

Hal itu terungkap dalam RDP yang dipimpin Indi Naidha bersama sejumlah organisasi perangkat daerah dan jajaran puskesmas.

“Kita perlu evaluasi data karena tidak sinkron dengan pusat,” ujar Indi Naidha.

Menurut Indi, ketidaksinkronan data terjadi karena kurang optimalnya pembaruan data ke pemerintah pusat.

“Petugas tidak hanya menerima laporan, tetapi juga harus aktif melakukan pembaruan data,” tegasnya.

Sorotan lebih tajam disampaikan anggota Komisi D lainnya, H. Achmad Dhafir Syah. Ia mengaku meragukan data stunting yang disampaikan Dinas Kesehatan karena dinilai mengalami penurunan terlalu drastis.

“Tahun 2024 sejak kami dilantik, data stunting berada di angka 30,4 persen. Sekarang tahun 2025 dan 2026 turun drastis menjadi sekitar 7,8 persen,” ujarnya.

Dhafir juga menyoroti data terbaru Pemkab Jember yang menyebut angka stunting per Mei 2026 turun lagi menjadi 6,7 persen.

“Ini bukan sekadar angka. Harus bisa dipertanggungjawabkan bagaimana penurunan itu bisa terjadi sangat drastis,” katanya.

Ia membandingkan data tersebut dengan hasil survei Kementerian Kesehatan yang masih menunjukkan angka stunting Jember berada di kisaran 29 persen.

“Jadi mana data yang benar-benar valid? Ini menjadi PR bagi Dinas Kesehatan untuk mempertanggungjawabkan datanya,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Ni Ketut Ardani, menjelaskan perbedaan data terjadi karena sumber pengukuran yang berbeda.

“Untuk data stunting memang sumbernya berbeda. Satu berdasarkan survei, sedangkan satu lagi merupakan data riil hasil pencatatan puskesmas,” ujarnya.

Menurut Ketut, perbedaan data tersebut merupakan hal yang wajar karena metode survei menggunakan sampling.

Ia mengakui angka stunting di Jember memang mengalami kenaikan.

“Untuk tahun kemarin, hasil survei naik dari 29,7 menjadi 30,4 persen. Sedangkan data kami naik dari 6,69 menjadi 7,11 persen,” jelasnya.

Selain itu, Ketut menyebut angka AKB mengalami penurunan dari 360 kasus pada 2024 menjadi 303 kasus. Sementara angka AKI turun dari 50 kasus menjadi 43 kasus pada 2025 dan kembali turun menjadi 27 kasus pada 2026.

“Hingga Mei 2026, angka AKI turun lagi menjadi 15 kasus,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *